Pak Soemarsono: S?mua Baik

11 Jan 2019 | Cetusan

Lagu ?S?mua Baik? yang kukenal sejak satu dekade silam mengalun lebih syahdu semalam di Indonesian Reformed Church, 84-88 Cecil Avenue, Castle Hill, NSW 2154.

S?mua Baik,?
S?mua Baik,?
Apa yang tlah Kau perbuat di dalam hidupku

Lagu itu seolah menggambarkan bagaimana penyertaan Tuhan dalam sembilan puluh tujuh tahun hidup Pak Soemarsono Setyadi yang baru dituntasinya 8 Januari 2019 silam.

***

Aku mengenal nama Pak Soemarsono dari Mas Eko Waluyo, seorang yang aktif dalam pergerakan-pergerakan di Tanah Air dan terus bergerak meski telah puluhan tahun tinggal di Australia. Waktu itu angka tahun menunjuk 2015, kami berbincang tentang Pak Soemarsono. ?Dia pejuang 45 sekarang tinggal di sini. Nanti kukenalin supaya kamu bisa ngobrol dan syukur-syukur mbok tulis di blogmu itu?? Begitu kata Mas Eko dengan logat Suroboyo-annya yang kental.

Aku kembali bertemu Mas Eko Waluyo semalam dalam layatan Pak Soemarsono.

Tapi sejak saat itu hingga setahun kemudian aku tak bertemu Mas Eko dan hilang kompasku untuk menemukan Pak Soemarsono. Hingga akhirnya muncul sosok bernama John Koorag. Ia teman baru yang kukenal lewat kawan lain di social media tahun lalu. John, yang juga asli Surabaya itu, mengirimiku pesan, ?Bro, kalau kamu wawancara Pak Soemarsono lalu kau tulis di blog, aku bisa membayangkan akan seperti apa ?hidup?-nya??

Tiga hari kemudian, Sabtu pagi, aku mendapat telepon dari seorang yang kemudian kukenal sebagai Tante Ninik, putri bungsu Pak Soemarsono, ?Bapak akan sangat senang Don dengan orang muda yang mau datang mengajak bicara soal perjuangannya dulu??

Tapi dasar membandel, hingga setahun lebih aku tak main ke rumah Pak Soemarsono. Bukan malas, bukan pula karena hal lain karena bahkan Joyce, istriku, pun sampai ngoprak-oprak untukku berangkat menemui Pak Soemarsono. Barulah sekembalinya aku dari liburan di Tanah Air September-Oktober 2018 silam, tak ada yang memulai, tak ada yang menyorong-nyorong, aku mengukuhkan niat, ?Ini saatnya. Aku pengen main ke rumah Pak Soemarsono.?

Kesempatan itu terjadilah!
Pada 29 Oktober 2018 malam hari sekitar pukul delapan malam aku mengetuk pintu rumah Om Handoko – Tante Ninik dan bersua Bapak.

Untuk pria yang berusia sembilan puluh tujuh tahun (waktu itu beliau baru saja seminggu setelah merayakan ulang tahun), Pak Soemarsono masih menampakkan kegagahan dan ketampanan masa mudanya. Wajahnya murah senyum, suaranya tebal-tertata dan dandananya begitu klasik dengan topi pet (flat cap), kaos abu-abu lengan panjang, celana katun warna gelap yang dikait suspenders melingkari pundak dan bahunya serta berkaos kaki.

Aku duduk berhadap-hadapan dengan pelaku sejarah gerakan 10 November 1945 itu sementara Tante Ninik duduk di seberang bersama Om Handoko yang malam itu banyak membantuku untuk mengartikulasikan serta menjembatani percakapan dengan Pak Soemarsono.

Ada gamang sekian lama karena ketakjubanku padanya hingga akhirnya aku mulai bertutur, ?Panjenengan sehat, Pak??

Ia tersenyum, ?Inggih??

?Penundaan bertemu? selama setahun memang telah mengubah sudut pandangku tentang apa yang harus kutulis. Kalau setahun sebelumnya, saat John menghubungkanku dengan Pak Soemarsono harapanku adalah untuk menuliskan bentuk perjuangan serta pengalaman-pengalaman Pak Soemarsono, kali kemarin targetku jauh berbeda dari itu.

Kenapa?
Karena setelah melakukan beberapa riset, sudah ada beberapa buku dan artikel online yang menuliskan Pak Soemarsono. Buku-buku dan artikel itu tentu sudah melalui proses pengerjaan yang memakan waktu lama penuh dengan riset nan teliti dan wawancara berulang kali dengan Bapak. Maka untuk apa aku menulis ulang apa yang sudah ada di luaran dan jauh lebih baik?

Buku-buku tentang Pak Soemarsono

Malam itu fokus pada keseharian Pak Soemarsono saja. Bagaimana ia menghabiskan waktu menjalankan sisa hidup bersama keluarga meski obrolan tentang perjuangan masa lalu tetap tak terhindarkan dan harus disajikan di atas meja diskusi.

Sekitar pukul sepuluh malam, aku hendak mohon diri. Tante Ninik bertanya, ?Kok cepet?? Aku menjawab ?Iya Tante. Udah malam dan takutnya ganggu Bapak..? Tak disangka, Pak Soemarsono, tetap dengan senyum, menyahut pelan, ?Donny yang ingin pulang kan?? Duh! Kena deh hahaha?

Obrolan lantas mengalir ke banyak hal ditemani bercangkir-cangkir teh dan kudapan yang disuguhkan Tante Ninik.? Semua kurekam melalui gawai meski aku merasakan beberapa hal yang kutanyakan tidak mendapatkan jawaban yang selaras karena penurunan daya ingat Pak Soemarsono belakangan. Tante Ninik sempat menyatakan hal ini, ?Kalau saja tahun lalu kamu ke sini, Bapak waktu itu masih jauh lebih baik daya ingatnya ketimbang sekarang, Donny?.??

Aku hanya terdiam!?
Menyesal? Tidak!?
Lebih tepatnya aku tak habis pikir kenapa hingga sekarang belum ada satu anak manusia pun yang mampu membuat mesin pemutar waktu?

Mendekati pukul 12 malam, Pak Soemarsono masih segar-bugar dan belum mengantuk sementara mataku tinggal lima watt dan karena keesokan paginya harus kembali bekerja, aku mohon diri. Sebelum pulang aku berfoto dan tampak seperti di bawah ini.

***

Beberapa hari sesudah percakapan malam itu, ketika mendengar ulang rekamannya, aku berujar pada Joyce bahwa aku ingin kembali ke rumah Pak Soemarsono karena seperti ada banyak hal yang harus ditanyakan dan percakapan semalam belum mencakup semuanya.

Tapi kehendakku bukan kehendak Tuhan.
Tak berselang sebulan, Tante Ninik mengabarkan Bapak sakit lalu dibawa ke rumah sakit sebelum dipindahkan ke nursing home untuk rehabilitasi hingga akhirnya meninggal dunia.

Aku tiba-tiba teringat apa yang dikatakan Pak Soemarsono saat Tante Ninik telpon dulu , ?Donny saya tunggu di rumah ya, mumpung saya masih sehat.? dan betapa aku bersyukur sempat mengenal dan berjumpa wajah dengan Bapak meski hanya sekali, semalam.

Pak Soemarsono adalah sosok yang kehendak hidupnya begitu kuat. Meski ada begitu banyak hal yang terjadi sepanjang hidupnya dulu; merasakan riuhnya aroma perjuangan kemerdekaan bangsa, bertempur mengangkat senjata di medan perang hingga dipenjara tapi ia tetap kukuh dan dikuatkan Tuhan.

Pak Soemarsono juga memiliki jiwa pemaaf yang ikhlas nan tulus. Kuingat malam itu ketika kutanya, ?Pak, Bapak dendam nggak pada Pak Harto??? Ia tersenyum sambil menggeleng, ?Enggak?.Pak Harto baik sama saya.?

Ada catatan dan rekaman wawancara yang kusimpan saat berbicara dengan Pak Soemarsono tapi setelah menimbang dari banyak hal termasuk kondisi politik yang panas di Tanah Air akhir-akhir ini, aku memutuskan untuk tak menyebarluaskannya. 

Lagipula apalah guna tulisanku kalau apa yang disampaikan semalam oleh anak-cucu tentang hidup Bapak serta lagu yang dinyanyikan sudah sangat menguatkan kesimpulanku bahwa Pak Soemarsono, Sang Pejuang yang dilupakan begitu banyak orang itu adalah orang baik yang didampingi Tuhan sepanjang hidupnya.

S?mua baik,?
Sungguh teramat baik
Kau jadikan hidupku berarti?

Selamat jalan Pejuang Bangsa!?
Pergilah dalam damai Tuhan!
Merdeka!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.