Pak Kadi: Banyak masyarakat belum merdeka sebagai pribadi

7 Mei 2018 | Tokoh Alumni De Britto

Drs Gregorius Sukadi adalah tokoh kesebelas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan. Pak Kadi lulus dari SMA Kolese De Britto tahun 1964. Empat tahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan di IKIP/Universitas Sanata Dharma, ia kembali ke kolese bekerja sebagai guru.

Ada banyak hal yang menarik yang bisa diulas dari Pak Kadi. Kakek empat cucu yang lahir tepat pada hari lahir Indonesia, 17 Agustus 1945 ini kukagumi salah satunya karena ketajaman beliau dalam berpikir serta berkarya.

Ia begitu aktif dalam grup WhatsApp alumni. Kadang terlibat aktif dalam diskusi di grup dan apa yang dibagikan selalu tentang hal-hal yang positif dan spiritual, sesuatu yang boleh dibilang tak terlalu mainstream saat arus utama melulu bicara politik praktis dan pilpres dan pilkada dan lain sebagainya?

Tahun 2015 silam, Pak Kadi menggunakan nama lain Ki Jalu Suwangsa bahkan merilis buku berjudul, ?Bangau pun Ingin Memuliakan Penciptanya -Sangkan Paraning Dumadi?dan?Mereka pun Ingin Memuliakan Penciptanya – Sejatine Urip Iku Apa??

Usia benar-benar tak menghalanginya untuk berpikir, berolah rasa menuangkannya dalam karya.

Beberapa waktu silam aku mengajaknya berdiskusi tentang banyak hal dan berikut adalah petikannya.

[DV] Apakah ada hal yang paling Pak Kadi ingat saat sekolah di De Britto?

[GS] Kala itu menjelang dan sesudah G30S (Gerakan 30 September yang konon didalangi Partai Komunis Indonesia – PKI -DV), De Britto mengajarkan agar siswanya menjadi pribadi yang mandiri! Menjadi ?subyek? yang ?bebas? sebagaimana Allah menganugerahi ?kebebasan? kepada manusia. Pendidikan ini lantas dikenal dengan sebutan ?Pendidikan Bebas?!

Apakah ?Pendidikan Bebas? merupakan hal baru saat itu?

Iya! Dan hal itu tidak mudah dipahami bahkan tidak semua guru De Britto apalagi masyarakat umum bisa menghayati konsep ini.

Kenapa, Pak?

Tampaknya karena kebanyakan waktu itu masyarakat masih berpola pikir ?mistis? (Cornelis Anthonie Van Peursen dalam “Strategi Kebudayaan” terjemahan Dick Hartoko) Kesadaran individu sebagai ?subyek? lemah! Identitas pribadi banyak ditentukan oleh kelompok/pendapat umum/alam yang kuat. Di sisi lain ?komunis? pinter membuat dan memanfaatkan slogan-slogan yang membius rakyat sehingga ?Pendidikan Bebas? hadir melawan arus itu semua!

Pak Kadi

Pak Kadi

Pendidikan Bebas lantas menjadi begitu lekat dengan image De Britto ya, Pak?

Iya! Inilah ciri khas dan berkarakternya De Britto. Pendidikan yang saya ?cecap? di sekolah?! Menjadi ?subyek? yang ?bersama sesama? memuji dan memuliakan Allah! AMDG!

Jika boleh dilukiskan, bagaimanakah suasana dunia pendidikan kala itu, Pak?

Saat itu masyarakat umum, termasuk dunia pendidikan mudah terpengaruh oleh slogan-slogan! Seragam diutamakan! Yel-yel dikumandangkan dimana-mana. De Britto berani ?melawan arus?! De Britto berani membedakan mana yang pokok dan mana yang tidak pokok! Mana yang prinsip, mana yang tidak prinsip! Rambut gondrong atau plontos bukan prinsip!

Apakah suasana politik waktu itu mempengaruhi suasana belajar?

Kesadaran dan wawasan politik sudah mulai terbuka tapi belum/tidak berpolitik praktis.

Bagaimana pandangan imam-imam Yesuit terutama yang bertgas di De Britto terhadap komunis, PKI dan g30s?

Tidak eksplisit,? karena tidak berpolitik! Tapi,? jelas tidak sependapat dengan? slogan-slogan ?tujuan menghalalkan cara”, “politik adalah panglima”

Empat tahun meninggalkan kolese, Pak Kadi kembali ke De Britto pada 1968 sebagai guru. Bagaimana rasanya, Pak?

Senang!
Bisa ikut “mem-bebas-kan” anak didik bersama Rm Oei Tik Djun dan kawan-kawan lainnya!? Saya mendukung “pendidikan bebas”!

Prinsip ?membebaskan? itu bagaimana Pak jika boleh dijlentrehkan?

Sebagai orang katolik – sudah dipermandikan – secara rohani sudah dibebaskan,? tetapi sebagai pribadi tidak semua sungguh “mandiri”! Berani berpikir, berkata,? dan bertindak,? sebagai pribadi? yang merdeka! (Sudah baca artikel Rm Oei tentang Pendidikan Bebas? – artikel bisa dibaca di sini).

Banyak masyarakat kita yg masih? berpola-pikir “mistis”! Ber” identitas kelompok”! Mudah dihasut! Mudah ditipu!

Tantangan apa yang Pak Kadi lihat saat awal-awal mengajar di De Britto?

Membebaskan anak didik! Bantulah jadi subyek yang mandiri! Sekarang pun tantangan itu masih ada! Mosok ada korupsi berjamaah!? Mosok jelas orang lancung dipilih jadi pemimpin!? Mosok begitu mudah orang ditipu!?

Berpikir! Berpikir!
Pahami makna tiap kata!
Jangan? hanya “ela-elu”!
Berani salah!
Berani mengakui kesalahan!
Mau memperbaiki kesalahan!

Kreatif! Untuk sesama demi kemuliaan Tuhan! Coba kalau ada waktu baca? “Katak pun Tertawa”! Ditulis oleh Jalu Suwongso katak pun mentertawakan aneka perilaku pemilihan Gubernur di Jakarta bbrp waktu lalu! (Link di sini)

Banyak masyarakat? belum ” merdeka ” !

Melihat masa kini, apakah tantangannya masih sama?

Sama! Kalau arusnya tidak dilawan,? kebenaran akan terus diinjak-injak! Agama menjadi panglima! Agama menghalalkan segala cara!

Kalau sama, apakah berarti telah terjai stagnasi dalam dunia pendidikan di Indonesia sejak 50 tahun terakhir?

Tentu ada kemajuan! Tapi problem me-merdeka-kan anak muda tetap harus diperjuangkan! “Agama yang menghalalkan cara” kok bisa diterima? Pemimpin yg korupsi kok? bisa diterima?

Apa pesan Pak Kadi untuk ?De Britto??

Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada SMA de BRITTO (Romo-romo, Bapak-bapak guru,? Karyawan,? para rekan siswa,? dll)? Salam hangat untuk semua sobat alumni! Minta maaf atas semua kesalahan! Bravo SMA de Britto! AMDG!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.