Beberapa waktu lalu setelah santap malam, tiba-tiba aku membayangkan alangkah menyenangkannya kalau malam yang dingin itu ditutup dengan secangkir kopi susu hangat.?Karena datangnya ingin itu begitu menggebu, aku lantas pergi keluar rumah menuju sebuah gerai makanan cepat saji yang tak perlulah kusebutkan brand-nya di sini…
Sesampainya di sana dan setelah memesan dan menyerahkan coin senilai $3 di kasir, sekonyong-konyong aku dikejutkan dengan printout receipt yang tanpa kuminta diberikan. Yang membuatku terkejut adalah ukuran receipt itu.

Aku tak tahu ukuran pastinya tapi aku bisa memastikan bahwa panjang receipt itu mencapai lebih dari 20 centimeter dengan lebar standar sekitar 5 centimeter. Edan! gumamku.
Seketika itu juga, mataku ?menangkap? gambar-gambar lain.
Wajah-wajah lugu para orangutan yang bergelantungan di hutan-hutan tropis sumatra dan kalimantan beserta banyak satwa lainnya yang menggantungkan hidup dari keasrian dan hijaunya hutan saat itu seperti datang menghiasi kertas nota yang sama sekali tak menarik itu.
Mereka barangkali tak tahu jauh di sisi selatan tempat mereka tinggal, aku sedang mengira-ira, kalau ada seribu orang saja per hari yang menerima receipt segede gaban ini dari kasir itu, berapa lama mereka sanggup bergembira dan hidup damai dalam hutan hujan tropis yang lebat dan asri itu?
…perlukah kita membuang kertas sebanyak itu hanya untuk customer yang menghabiskan uang di bawah $10 sekali transaksinya?
Aku sebenarnya bukan orang yang datang dari kalangan aktivis pecinta lingkungan hidup. Aku juga bukan orang yang mudah trenyuh dan terharu melihat makin menipisnya sumber daya alam yang kerap dilabeli sebagai ‘rusaknya alam’ karena aku percaya bahwa alam itu terlalu digdaya untuk dirusak oleh kita. (dalam hal ini aku pada posisi lebih percaya bahwa manusia hanya mampu menghambur-hamburkan sumber daya dan hal itu yang lantas mengganggu makhluk lainnya) tapi dalam kasus panjangnya receipt yang kuterima tadi, aku mencoba mengajak kalian untuk berpikir ke hal yang lebih mudah dicerna dan semoga kita sepakati bersama yaitu basis keuntungan sebuah bisnis!
Seandainya aku adalah seorang business process analyst di perusahaan itu, barangkali aku akan mengajukan analisa yang sangat sederhana: perlukah kita membuang kertas sebanyak itu hanya untuk customer yang menghabiskan uang di bawah $10 sekali transaksinya?
Lebih lagi, semakin panjang kertas yang dicetak akan berpengaruh pada siklus hidup mesin cetak dan borosnya tinta cetak yang digunakan dan pasti berpengaruh pula pada daya listrik yang dikeluarkan untuk melakukan routine itu.
Ada begitu banyak informasi yang dipaparkan di situ yang sejatinya akan diabaikan oleh kebanyakan pembeli. Yang terpenting adalah nomer urut antrian karena hal ini akan dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui bahwa pesanannya sudah selesai dipersiapkan.
Beberapa orang costumer, mungkin membutuhkan receipt jumlah uang yang dibayarkan tapi kebanyakan kuyakin tidak, maka jadikanlah ini sebagai sesuatu yang sifatnya optional, sediakan sebuah filter yang harus ditanyakan cashier, “Do you need a receipt?” Kalau customer bilang “Yes!” ya tinggal cetak sebagai tambahan di bawah nomer urut, jika tidak, abaikan.
Ada yang butuh metode pembayaran transaksi disertakan, misal untuk perhitungan neraca keuangan personal… maka taruhlah ini penting, ia juga bisa dijadikan sesuatu yang optional karena tak semuanya butuh yang sedemikian detail dalam perhitungan uang bulanan, aku misalnya! :)
Alamat mungkin penting dalam kerangka pembicaraan bahwa hal itu mungkin dibutuhkan untuk keperluan administrasi perpajakan. Ini mungkin sifatnya tidak optional, tapi toh tak perlu dicetak dalam ukuran huruf yang sama besarnya dengan yang lain, kan? Cukup 0.75 dari ukuran font lainnya, asal tercantum dan terbaca.
Sisanya, kode-kode lain yang mungkin hanya kalangan internal yang tahu makanya tak perlulah dicetak meski dalam softcopy yang tersimpan dalam basis data ya tetap perlu dicantumkan.
Aku membayangkan dengan diimplementasikannya analisa kilat di atas, ongkos sumber daya yang digelontorkan untuk mencetak receipt tak kan jadi semahal itu!
Margin keuntungan tentu akan semakin besar, para penggiat LSM lingkungan hidup juga akan lebih kalem dan kalau mau melanjutkan membayangkan orangutan yang bergelantungan di pepohonan, burung dan satwa lain yang juga butuh bahagia, kita bisa melanjutkan membayangkannya dengan sedikit lebih tenang, setidaknya kita tidak urun untuk membuat mereka kelimpungan dan tak bahagia.
Bukankah hidup itu harusnya memang membahagiakan semua makhluk?
Tinggalkan Balasan