Orang sukses adalah orang yang memelihara iman hingga kesudahannya

29 Mar 2018 | Kabar Baik

Aku terpesona dengan pilihan kata Yohanes dalam merawi Kabar Baik hari ini.

?Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.? (Yohanes 13:1)

Hari ini Gereja Katolik memperingati Kamis Putih, hari yang dinyatakan sebagai puncak perayaan kasih karena Yesus dalam perjamuan terakhir sebelum disalib memberikan semua, tubuh dan darahNya untuk murid-muridNya, untuk kita.

Dan jika Yesus bisa melakukan terhadap para muridNya, kitapun dituntut melakukan hal yang sama terhadap Tuhan dan sesama; mengasihi dan semakin mengasihi hingga kesudahan hidup di dunia ini.

Belum lama ini aku berbincang dengan seorang imam Yesuit melalui WhatsApp.?Setelah ngobrol ngalor-ngidul, pembicaraan tersangkut pada satu hal esensial, ?Apakah definisi orang sukses itu??

Bagiku, orang sukses adalah Steve Jobs dan Elon Musk.

Steve Jobs sukses bukan karena kaya tapi karena ia membuat begitu banyak produk-produk revolusioner di Apple Inc. yang sekarang kita gunakan. Bayangkan kemajuan dunia tanpa telepon genggam berlayar sentuh? Bayangkan kemajuan dunia yang tak mengenal mudahnya distribusi aplikasi melalui market place?

Elon Musk juga sukses. Pemikirannya yang brilian menghasilkan produk-produk yang tak kalah revolusionernya. Malah, Elon, selalu memikirkan dari sisi pengguna dan keselarasan produk terhadap alam.

Tapi imam itu memberiku satu wacana baru, ?Bagiku, orang sukses itu adalah orang yang mati tetap sebagai orang yang penuh iman, Mas!?

Aku terdiam.
Ah, masa sih? Gampang kalau begitu! gumamku. Beriman kan yang penting beragama? Ke gereja? Kalaupun sudah mau mati pokoknya nggak lupa meminta dipanggilkan pastor untuk memberikan sakramen minyak suci? Begitu???

Imam itu hanya mengirimkan emoticon senyum.

Aku jadi tergelitik sendiri untuk mendalami apa makna beriman itu? Kenapa hal itu bisa dijadikan parameter kesuksesan untuknya?

Beriman, dalam konteks kristiani, adalah mengikuti Yesus, jadi mengimaniNya adalah mengikuti cara hidupNya termasuk menjalankan apa yang dijalankan hingga kesudahanNya.

Dari apa yang ditulis Yohanes di atas, dengan mudah kita bisa membaca sebagai tuntutan untuk mengasihi. Ya! Yesus mengasihi murid-muridNya hingga kesudahannya, adakah kita juga demikian?

Sanggupkah kita mengasihi sesama hingga kesudahan kita nantinya?

Sudah tidak adakah dendam sama sekali terhadap siapapun ketika kita mati nanti?

Masih percayakah kita padaNya saat sakratul maut tak jauh lagi?

Jadi mikir, kan?
Maka dari itu syukurilah hari ini. Hari dimana kita ditunjukkan bagaimana Yesus menuntasi tugas dan pelayananNya di dunia dengan begitu indah nan sempurna.

Ia tak hanya memberikan mukjizat, pengajaran serta perhatian dan waktuNya. Ia menyerahkan hidupNya sendiri sebagai korban yang tak bisa dibantah lagi sebagai hal yang paling layak dimuliakan dari segala kemuliaan yang sudah, sedang dan akan pernah ada.

Sydney, 29 Maret 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Iman menurut katolik ialah percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang di utus Allah Dan menerimanya.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.