Orang Katolik boleh minum miras?

19 Sep 2018 | Kabar Baik

Apakah orang Katolik boleh minum minuman keras alias miras?

Salah satu kekhasan umat Katholik adalah, kita tidak memiliki larangan untuk makan dan minum apapun kecuali pada saat pantang dan puasa menjelang Paskah.

Makan babi? Ayo saja!
Makan kelinci? Silakan.
Makan kambing? Monggo!
Makan anjing? Errrrr? kalau memang mau, silakan.

Minum kopi? Boleh!
Minum susu? Kenapa tidak?
Minum bir, anggur dan alkohol lainnya? Silakan!

Karena seperti kata Yesus, ?Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya?? (lih. Markus 7:15) Yang menajiskan adalah yang keluar dari seseorang.

Tapi bagaimana kalau yang masuk mempengaruhi hal-hal yang kita keluarkan jadi buruk?

Aku dulu sering minum minuman alkohol. Bahkan pernah dalam setahun, hampir setiap malam aku mencecap anggur merah satu gelas banyaknya. Kata orang baik untuk kesehatan. Saat diundang dan hadir dalam sebuah pesta yang menyajikan alkohol, jangan tanya, aku bisa minum bergelas-gelas hingga berbotol-botol banyaknya!

Hingga tahun lalu, sekitar bulan September, aku memeriksakan diri ke dokter untuk checkup rutin dan ia menyarankanku untuk memperbaiki pola hidup. Salah satunya adalah mengurangi bahkan kalau bisa berhenti sama-sekali untuk mengkonsumsi alkohol.

?Wah, berat Dokter! Kamu boleh melarang saya makan nasi! Kamu boleh melarang saya makan daging tapi kalau akohol? kayaknya berat deh!?

Si dokter tersenyum dan menggeleng, pokoknya tetap harus ?no alcohol?. Dengan berat hati, akupun menurutinya.

Sebulan tanpa alkohol? Berat! Dua bulan? Lebih berat lagi. Bulan ketiga aku gagal dan kembali ke alkohol. Bulan keempat stop lagi dan begitu terus-menerus hingga sekarang, on and off kata orang-orang sini :)

Tapi dari caraku berhenti menenggak alkohol, aku menemukan satu hal baru bahwa temperamenku lebih terkontrol ketika aku sedang menjauhi alkohol. Tak seperti yang lain yang bisa ?asyik dan tenang? saat minum, aku punya kecenderungan jadi lebih mudah naik pitam saat tersentuh alkohol.

Kalau aku sudah gampang senewen, biasanya itu adalah pertanda aku harus kembali berhenti lagi minum minuman beralkohol hingga jangka waktu tertentu.

Di titik ini juga aku akhirnya mendapat sudut pandang baru tentang ayat yang ada dalam Kabar Baik ini. Memang benar apa yang dikatakanNya bahwa apapun yang masuk, entah makanan maupun minuman ke dalam tubuh kita itu tidak menajiskan. Tapi kalau karena hal yang tidak menajiskan itu mempengaruhi kita untuk berbuat yang tak terpuji, bukankah sudah seharusnya untuk kita berpikir ulang kembali sebelum mengkonsumsinya?

Sydney, 19 September 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.