Orang Katolik boleh golput?

5 Jun 2018 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini bicara tentang bagaimana Yesus ?dicobai? oleh orang-orang Farisi dan Herodian. Mereka datang dan bertanya adakah Ia memperbolehkan umat untuk membayar pajak pada Kaisar? Jawaban Yesus adalah tentang bagaimana kita wajib membayar pajak karena pada kertas uang ada gambar kaisar. (lih. Markus 12:13-17).

Tapi mari berpikir lebih dalam, adakah Yesus hanya mengisyaratkan tentang pajak saja?

Tidak!
Kebetulan saja karena cara mereka mencobai Yesus dikaitkan pada soal pajak maka yang ?terbaca? adalah pajak-nya saja. Ada pesan yang lebih besar daripada itu melalui Kabar Baik hari ini. Tentang bagaimana kita menjalankan kewajiban sesuai porsi dan konteks kita sebagai warga negara.

Sebagai warga sebuah negara, kita diikat peraturan-peraturan yang harus kita lakukan dan pajak hanyalah salah satu di antaranya.

Contoh lain selain pajak yang juga harus kita lakukan adalah dalam memilih saat Pemilu maupun Pilkada. Bolehkah kita pada kesempatan seperti itu memilih tidak memilih alias golput?

Persoalan klasik dari orang yang memilih untuk tidak memilih biasanya ada dua. Pertama karena nggak melihat sosok yang bagus dari semua pilihan, yang kedua karena nggak merasa bahwa apapun pilihan tak akan membuat hidup berubah!

Mari kita bahas satu per satu.

#1 Nggak ada calon yang bagus!

Melalui penyadaran bahwa semua makhluk itu unik maka bicara tentang bagus-tak bagusnya calon dalam sebuah pemilihan itu jadi tidak kontekstual. Setiap calon harusnya sama-sama punya tujuan bagus yaitu untuk kemajuan rakyat dan wilayah yang dipimpinnya. Yang harus dinilai adalah sejauh mana mereka mengimbuhkan kepentingan-kepentingan pribadi di atas tujuan mulia tadi!

Untuk itu kita perlu melakukan berbagai macam pertimbangan dan menilai mana yang lebih sedikit menempatkan kepentingan pribadi di atas yang lainnya. Prinsipnya, tak ada calon pemimpin yang tak menempatkan satupun kepentingan pribadi di atas tujuan mulianya jadi kalau memilih hanya mereka yang benar-benar tak memiliki kepentingan pribadi, rasanya kamu salah tempat! Kita masih tinggal di dunia, bukan di surga! :)

#2 Hidup toh nggak berubah?!

Yang kedua, soal ?Ah, milih atau nggak milih hidup kita nggak berubah kok!?

Persoalan ini sebenarnya lebih mudah lagi untuk dijawab. Kuncinya, tempatkan dirimu sendiri dalam konteks memilih/tidak memilih bukan orang lain. Ketika kamu memilih, hidupmu telah berubah yang tadinya apatis menjadi partisipatif. Justru ketika kamu tak memilih, hidupmu tak berubah alias statis karena sejak dulu sudah apatis!

Jadi? Apakah orang katolik boleh golput?

Bawalah kemari kertas pemilihan, lihatlah gambar-gambar di atas kertas itu? ada beberapa calon kaisar di sana! Cobloslah! Pilihlah!

Sydney, 5 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.