Orang buta menuntun orang buta?

13 Sep 2019 | Kabar Baik

Aku memerlukan waktu cukup lama untuk merenung sebelum akhirnya memberanikan diri menuliskan reungan Kabar Baik hari ini. Yesus menggebrak dengan sebuah pertanyaan keras, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?? (lih. Lukas 6:39) Tak berhenti di sini, Ia melanjutkan dengan, ?Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?? (lih. Lukas 6:41)

Sindiran terhadap kemunafikan

Apa maksudNya?
Ia sedang menyindir orang-orang munafik di masa itu yang merasa dirinya sudah baik hanya karena beragama. Mereka menghakimi sesamanya seolah diri mereka tak lebih berdosa.

Maka kita diajak untuk berhati-hati menanggapi Kabar Baik ini. Jangan sampai karena takut dicap munafik kita lantas memilih untuk bersikap masa bodoh terhadap lingkungan sekitar. Bukankah ketika rasa takut menjadi munafik menghalangi hal-hal baik yang bisa kita lakukan adalah salah satu wujud kemunafikan itu sendiri?

Misalnya ada tetangga yang sedang ditimpa masalah keuangan. Suatu waktu mereka hendak meminta tolong pendapatmu karena mereka tahu kamu adalah seorang yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut.

Tapi karena takut dicap munafik, kamu lantas menampik dengan alasan, ?Waduh, Mas.. jangan saya. Saya masih banyak masalah nih!?

Kalau seperti itu, memang kita buta tapi hal itu tak ubahnya seperti menendang pantat seorang buta lainnya untuk masuk ke dalam lobang, kan?

Atau misalnya ada kawan dekat yang mulai akrab dengan narkoba. Kita tahu narkoba itu tidak baik tapi kita menolak untuk menolong karena alasannya kita sendiri masih belum bisa lepas dari kebiasaan merokok. Adakah hal itu bisa dibenarkan?

Kapan kita jadi orang buta yang dapat melihat?

Kawan, kita tetap diajak untuk peduli pada lingkungan sekitar. Selamanya kita tidak akan dapat secara sempurna melepaskan selumbar dari mata kita sendiri tapi selama tak menghakimi dan menganggap sesama lebih rendah, kita diajak untuk peduli pada sesama.

Seorang buta memang tidak bisa menuntun orang buta yang lainnya. Tapi emangnya ada orang yang berani berkata bahwa diri kita sudah benar-benar bisa melihat untuk mulai berani menuntun sesama yang buta?

Yang diperlukan adalah mari mulai bergandengan tangan dengan sesama orang buta dan biarkan hanya Tuhan yang menuntun karena tuntunanNya membuat kita terhindarkan dari lubang yang menyesatkan?

Sydney, 13 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.