Cerita singkatnya begini,
suatu waktu, sekitar pertengahan dekade silam, aku ditugaskan bekerja selama seminggu ke sebuah kota kecil di sisi timur Indonesia. Untuk itu, aku diinapkan di hotel yang letaknya tak jauh dari kantor milik klien.
Karena waktu itu aku melakoni kuliah sambil kerja (atau sebaliknya? Kerja sambil kuliah ya?) dan kebetulan waktu itu adalah dekat-dekat ujian akhir semester, akupun membawa buku materi yang kubuka sesekali ketika ada kesempatan untuk membacanya. Harapanku, sekembalinya ke Jogja, aku sudah siap untuk mengikuti ujian tersebut.
Lalu, suatu sore sepulang dari kantor klien, selepas mandi air hangat, aku terkejut karena buku materi yang semalam kusimpan di laci sebelah tempat tidur tak kutemukan di sana.
Aku kelimpungan dan dengan panik mulai mencari ke sana kemari.
Jangan-jangan kusimpan di lemari! Lalu lemari kubongkar tapi tak kudapati. Jangan-jangan di rak buku dekat WC! Lalu kudatangi, tapi skali lagi tak kujumpai bukuku di sana.
Atau… jangan-jangan maling? Pikirku meski kemungkinan itu sulit untuk menggapai-gapai ranah logisku karena, “Ah, masa iya.. ini kan kota kecil.. orangnya terkenal bersahaja? Mana ada maling di sini!?!”
?Ah, masa iya.. ini kan kota kecil.. orangnya terkenal bersahaja? Mana ada maling di sini!?!?
Aku mencoba meredam rasa penasaranku dan tidur cepat adalah obat yang mujarab malam itu.
Pagi harinya, aku terbangun dengan ketokan pintu petugas cleaning service.
“Selamat pagi, Pak!”
“Pagi!” mataku masih mengeriap menantang matahari yang keluar dari sela pintu kamar.
“Mau dibersihkan kamarnya?”
“Oh ya silakan! Tapi saya sambil tiduran ya!”
Lalu, pemuda yang kutaksir usianya tak lebih dari 20 tahun itupun melaksanakan tugasnya sementara aku mencoba membuka mata lalu menonton televisi.
“Kamu asli sini?” sapaku padanya.
“Iya, Pak” jawabnya sambil terus bekerja.
“Kerja tetap di hotel sini?”
“Iya, Pak. Kerja di sini paginya… sorenya saya kuliah!”
A-ha, rupanya ia sepertiku, bekerja sembarli kuliah.
“Oh, ambil jurusan apa?”
“Matematika, Pak!”
Lalu obrolan terasa lebih nyambung. Selain karena merasa ‘senasib’ yang ‘bekerja sambil kuliah’, aku merasa selalu tertarik untuk berinteraksi dengan orang yang sekilas kuamati memiliki semangat hidup yang luar biasa meski ia tinggal di daerah terpencil.
Dua puluh menit berlalu. Kurasai ia telah menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya mungkin kelar dalam waktu 10 menit tapi karena kuajak ngobrol jadilah ia molor.
“Sudah selesai, Pak!” tuturnya menutup percakapan siang itu.
“Eh, kamu ke sini sebentar..” panggilku padanya, ia yang semula sudah hendak keluar kamar pun berbalik kepadaku.
Selembar 50 ribuan kuserahkan padanya. “Ini bukan tips… tapi untuk beli buku atau keperluan kuliah kamu lainnya..”
“Ah, terimakasih, Pak!”
“Sama-sama… belajar yang tekun!” jawabku.
“Iya, Pak.. eh, maaf Pak..”
“Ya?”
“Buku bapak belum bisa saya kembalikan sekarang!”
“Buku?”
“Iya, buku Kalkulus Lanjut yang kemarin ada di laci bapak..”
“???”
Seribu topan badai!
Ternyata, buku yang semalam kucari setengah mati tak tahunya ‘dipinjam’ oleh orang ini! gumamku.
Aku sempat bertanya dan ia menyatakan argumentasinya bahwa ia telah meninggalkan secarik kertas pemberitahuan ‘peminjaman’ itu. “Kemarin saya taruh di atas meja sini!” katanya sambil menunjuk meja di luar kamar sebelum akhirnya ia melangkah pergi.
Yang kuingat waktu itu aku tak sampai marah. Uniknya, aku tak juga meminta bukuku kembali. Alasannya karena semata-mata aku tahu ia adalah orang baik meski caranya tak terlalu benar.
* * *
Akhir-akhir ini, pikiran tentang orang baik yang tak benar kembali terngiang di kepalaku. Dan setiap mencari contoh orang yang tipikal seperti itu, pikiranku selalu melayang ke pengalaman yang kutulis di atas.
“Ketulusan hatinya barangkali tak kan hilang tapi ia akan semakin tertimbun kekecewaan”
Jaman telah semakin modern, populasi manusia semakin banyak, sumber daya semakin menyusut dan aturan pun ditegakkan untuk menjadi penengah yang paling benar diantara yang benar dan yang salah. Kehadiran aturan-aturan tersebut terkadang mengagetkan meski kita harus menerima dan kalau bisa percaya bahwa itulah yang terbaik yang bisa dilakukan si pengatur di tengah segala macam tantangan dan keterbatasan itu tadi.
Nah, di sisi ini, orang-orang baik yang hanya mengandalkan ketulusan hati tanpa mau peduli mengikuti aturan yang benar tersebut pada akhirnya akan tergerus jaman dan ditelanjangi aturan.
Ketulusan hatinya barangkali tak kan hilang tapi ia akan semakin tertimbun kekecewaan; kecewa karena kenapa ia dipersalahkan padahal ia merasa adalah orang baik. Lantas karena kesalahpahaman dan…ya kekecewaan itu tadi, tak jarang dari mereka lantas mengubah perangai menjadi tak baik lagi.
Dan ketika hal itu terjadi, lengkaplah sudah ia terbelenggu dalam dua hal yang saling melemahkan, kejahatan dan ketidakbenaran.
Dalam kasus-kasus tertentu, justru orang-orang seperti inilah yang kita kutuk dalam-dalam melebihi kaum yang sebenarnya lebih nista… para koruptor yang tampak baik dan selalu lihai memanfaatkan ‘jalan yang benar’ padahal nyatanya ia tak baik lagi tak benar adanya.
Semoga tulisan ini melunasi bayang-bayangku terhadap si petugas kebersihan hotel yang kuceritakan di atas tadi.
Semoga ia tetap menjadi orang baik yang pada akhirnya melengkapi kebaikannya dengan kebenaran dalam bertindak dan bukan sebaliknya.
Tinggalkan Balasan