
Tuhan punya rencana unik.
Ia memanggil pulang salah satu sahabat terbaikku, Yudith Christianto pada saat aku sedang berlibur di Indonesia, di jam yang sama ketika aku sedang bertemu dengan sahabat terbaikku lainnya, Damar Benni (Damben), Senin, 20 Januari 2025.
Aku dekat dengan Yudith sejak kelas 1. Kenal dan berkawan dengan Damben sejak kelas 2. Di kelas tiga, kami bertiga ditempatkan di kelas yang sama, kelas 3 Fisika 1, SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun ajaran 1995/96.
Meski sejatinya kami bertiga tak selalu bersama. Ada kisah-kisah yang kualami bersama Damben yang berbeda dengan yang kualami dengan Yudith dan demikian sebaliknya.
Misalnya ketika aku dan Yudith aktif melatih di ekstrakurikuler Ilmu Beladiri Shorinji Kempo di De Britto, Damben tidak ada di sana.
Ketika aku dan Damben ngeband bareng, Yudith jauh dari dunia musik.
Ketika Damben dan Yudith bicara soal design karena keduanya lantas jadi arsitek, aku menjadi penikmat saja.
Ketika aku dan Yudith tinggal di asrama yang sama, Damben tentu tinggal di rumahnya sendiri kan dia asli Jogja!
Atau ketika Yudith saking cerdasnya selalu menempati peringkat pertama atau kedua, pernah suatu waktu aku dan Damben menempati ranking ketiga dan kedua terbawah di kelas hehehe…
Tapi ada satu masa dimana kami banyak berkelindan bertiga. Kira-kira tiga bulan sebelum kelulusan, aku punya incaran cewek yang bersekolah di SMA Stella Duce 2. Lalu entah bagaimana awal mulanya, Yudith dan Damben pun kemudian sama-sama punya incaran dari sekolah yang sama. Alhasil kami jadi sering bertandang ke asrama tempat para cewek itu tinggal atau nongkrong di warung burjo (sekarang warmindo) Murni, dekat dengan sekolah mereka.
Malang bagi Damben, cintanya urung mekar sementara aku dan Yudith jadian dengan incaran kami masing-masing. Sesudahnya aku dan Yudith (dan pasangan kami masing-masing) sering double date entah itu nonton di 21, ke Gereja atau makan siang di rumah makan penyedia masakan daging babi kesukaan kami berempat sepulang Gereja.
Menjelang lulus SMA, Yudith ‘menghadiahkan’ sesuatu kepadaku dengan cara uniknya. Satu sketsa gambarnya dicetak di buku tahunan sekolah. Dalam sketsa yang menggambarkan bagaimana kami diproses di De Britto itu muncul satu dari lima profil karikatur siswa sedang menenteng gitar. “Itu kamu, Don!” ujarnya. Sayang buku tahunan itu sekarang sudah hilang entah di mana tapi beruntung AA Kunto A, sahabatku yang lain mengunggahnya kemarin ke lini masa.

Setelah lulus SMA, Yudith memutuskan pindah ke Bandung sementara aku dan Damben menetap di Jogja. Meski demikian, dalam beberapa periode liburan semester-semester awal, Yudith masih kerap menyambangiku ke Jogja.
Lama tak berkabar, aku berjumpa dengan Yudith sekitar tahun 2007. Kami bertemu di studio tattoo milik Munir Kusranto di belakang Geronimo FM Yogyakarta. Yudith yang kutemui waktu itu sudah bertransformasi menjadi Yudith yang tak pernah kubayangkan sama sekali sebelumnya.
Dengan prestasi belajar yang luar biasa bagus saat SMA, kupikir Yudith pada saat itu sudah akan menjadi seorang yang sukses secara karir entah ikut perusahaan besar atau dengan usahanya sendiri dan berdandan necis. Tapi yang kutemui saat itu, ia tampil mengenakan kaos putih oblong lusuh dan celana pendek jeans, bersendal jepit dan bertattoo sementara tangan dan bibirnya tak pernah berhenti bekerja sama untuk menghisap rokok saat aku yang sejak dulu merokok sudah berhenti waktu itu.
Hal ini lantas kutanyakan bertahun-tahun berikutnya saat aku menghubungi via telepon, waktu itu aku sudah bermigrasi ke Australia.
Menanggapi pertanyaan itu ia tertawa, “Jadi orang pinter itu gampang, Don! Tinggal dibanyakin belajarnya pasti nilaimu bakal bagus! Tapi dulu aku iri sama kamu! Kamu gak pernah belajar, pintar main gitar, temanmu banyak. Gaul!”
“Lalu?” tanyaku masih penasaran.
“Pas pertengahan kuliah, ada masanya dimana aku mempertanyakan begitu banyak hal pada diriku sendiri, ‘Ngapain ya aku belajar terus? Untuk apa semua ini?’ dan sejak saat itu aku berbalik arah mencari keseimbangan!”
Percakapan itu jadi yang terakhir bagi kami.
Hingga akhir hayatnya, Yudith menjadi seorang yang menurutku telah sukses menemukan jati dirinya sendiri. Ia tidak mau tunduk pada stereotipe-stereotipe usang yang pernah kuajukan. Ia sukses menjadi seorang suami, seorang arsitek, seorang seniman yang juga menggeluti banyak hobi. Ia telah menemukan keseimbangan yang ia dambakan.
* * *
Kemarin sore aku memutuskan untuk bertemu lagi dengan Damben. Kepergian Yudith yang begitu mendadak membuatku merasa ingin meluangkan waktu lebih banyak dengan Damben. Tak hanya untuk berbagi duka tapi lebih dari itu, merayakan hidup dan kebersamaan mumpung aku masih berlibur di Indonesia.
Kami menghabiskan malam di warung makan khas Makassar di Blok M. Damben mengantarkanku pulang ke hotel. Sepuluh menit menjelang sampai, percakapan ini terjadi, “Dulu kalau ke Murni (warung indomie dekat SMA Stella Duce 2 tempat kami bertiga sering mangkal) berangkatnya aku selalu bonceng kamu trus baliknya mbonceng (Suzuki) Crystal-nya Yudith sampai ke asrama. Tapi sekarang Yudith sudah nggak ada! Kamu yang mengantarku pulang ke hotel, Ben…”
Aku dan Damben berpelukan cukup lama seolah waktu bisa melambat karenanya dan seolah kami tak hanya berdua tapi ada Yudith juga di sana!

Dith…
Jangan ditanya seperti apa sedihku dan sedihnya Damben! Tapi aku berbahagia karena kamu dipanggil dengan cara nan istimewa, saat aku dan Damben sedang bercengkrama di sebuah warung angkringan seperti kita dulu sering melakukannya berdua ataupun bertiga.
Beristirahatlah dalam damai, Kawan!
Ini bukan perpisahan abadi tapi sebuah “sampai kita berjumpa nanti!”
Ya nanti… ketika tugasku dan tugas Damben di dunia ini sudah juga paripurna, kita akan mengulang banyak hal yang pernah kita alami di Jogja lengkap dengan segala bunga dan aneka rupa gula-gula cerita tanpa ada lagi rasa takut bahwa kita harus pulang ke asrama buru-buru karena jam belajar akan dimulai atau gerbang sudah akan segera ditutup penjaga asrama…
Jakarta Utara, 22 Januari 2025
DV
Superblogger Indonesia
Tinggalkan Balasan