Padahal baru dua malam lalu, aku bersama Singgih dan istrinya, Ambar yang sedang berlibur ke Sydney bicara tentang kenangan tinggal di asrama Ampel 2 eh tadi pagi kudengar kabar bahwa Pak Sur, Silverius Suryanto, pemilik Wisma Ampel 2 meninggal dunia.

Aku dan Singgih adalah sedikit dari begitu banyak anak yang waktu duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta tinggal di bangunan berwarna hijau kalem yang letaknya di Jl Ampel 2 Papringan, Catur Tunggal, Depok Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Sebenarnya Ampel 2 itu bukan asrama dan ia tidak melekat pada sekolah karena dikelola secara pribadi. Tapi mungkin karena aturan yang ketat, orang lantas mengidentikannya sebagai asrama.
Aku tinggal di Ampel 2 sejak masuk hingga lulus SMA, 1993 – 1996. Sebenarnya aku gak mau tinggal di situ. Lebih tertarik untuk bergabung ngekost bersama Aan dan Ciang Han, dua kawan seangkatan sesama asal dari Kebumen yang sekolah di De Britto tapi Mama buru-buru mengultimatum, “Kalau kamu gak mau tinggal di asramanya Pak Sur, kamu gak usah ke Jogja, Le!” Dia tahu akan seliar apa anaknya kalau dilepas bebas di Jogja waktu itu lha wong di rumah aja udah beberapa kali ketahuan ngebokep kan! Hehehe…
Waktu pertama kali bertemu Pak Sur dan Bu Sur, kesanku seperti bertemu Bu Broto dan Pak Broto di serial Losmen yang dulu ngetop di TVRI itu. Priyayi Jogja, rumahnya asri menempel dengan asrama. Di dalamnya ada akuarium besar dengan ikan arwana yang bergerak gemulai malang melintang seolah ingin memberi tahu bahwa si empunya adalah dari kalangan berada.
Pak Sur berpawakan tinggi, kurus dan perangainya tenang. Sementara Bu Sur, seperti banyak ibu-ibu Jawa termasuk alm Mamaku, lebih banyak berbicara dan control freak hahaha!
Setiap jam belajar malam, jam 7-9, Pak Sur selalu mengetuk pintu lalu menampakkan wajahnya untuk ngecheck apakah kami di kamar dan apakah kami tampak sedang belajar atau ngapain hehehe. Ada banyak sekali pengalaman selama tinggal di sana tapi dalam tulisan ini aku gak ingin mengulas itu semua, fokusku pada Pak Sur aja ya.
Ada dua yang paling membekas yang hendak kuceritakan.
Yang pertama adalah tak lama setelah masuk asrama, tiba-tiba aku yang sedang merokok di depan kamar 30 tempat Pandhu Astanu, temanku, tinggal, Pak Sur mendekat. “Donny! Kamu kok sudah merokok?”
Aku sempat kaget ditegur seperti itu. “Oh, ya gak papa, Pak. Gak boleh ya?” tanyaku sopan.
“Kamu nanti kulaporkan ke Papamu lho…” tegasnya sambil tersenyum.
Aku dengan ringan sambil terus menyedot rokok pun menjawab, “Yaa.. laporin aja, Pak!”
Malam harinya, melalui saluran telepon, Papa bilang kepadaku, “Pak Sur tadi bilang katanya ngeliat kamu merokok trus aku bilang kalau kamu memang kuijinkan untuk merokok hehehe…” Sejak saat itu aku cuek aja untuk merokok di depan siapapun!
Pengalaman kedua waktu duduk di bangku kelas tiga, aku ketahuan manjat pagar selepas jam malam. Asrama Ampel 2 menerapkan jam malam. Seingatku Minggu malam sampai jumat malam, pintu gerbang tutup jam 22:30 sementara malam minggu pintu tutup jam 23:00. Tapi malam itu aku nonton film ‘midnight show’ yang digelar di Empire 21.
Seperti malam-malam sebelumnya, strategiku sama, manjat pagar lalu bersicepat masuk kamar. Malam itu, dengan sigap aku manjat pagar yang tingginya sekitar 5 meter. Karena keadaan sekitar begitu gelap, ketika sampai di atas pagar aku baru sadar Pak Sur sudah menunggu di bawah.
Dengan nada tinggi, Pak Sur bertanya, “Darimana kamu? Malam-malam baru pulang?!”
Aku tak menjawab sama sekali dan selama hampir sepuluh menit kemudian aku membiarkannya menasihatiku tentang banyak hal mulai dari prestasi belajarku yang terus menurun, perilakuku di sekolah yang juga gak bagus karena barusan diskors hampir dua minggu gak boleh sekolah karena badung dan banyak lagi. Tapi semua itu harus kuinterupsi dengan bilang, “Maaf, Pak! Saya tahu saya salah! Tapi boleh nggak saya turun dari pagar sekarang?”
Ya! Selama itu aku harus nangkring di atas pagar sementara dia di bawah dan banyak orang berlalu lalang di muka Jl Ampel yang memperhatikan kami berdua!
Teman-temanku tentu punya cerita yang lebih seru, lebih nakal dan membekas juga. Tapi separah apapun dulu, ketika melihat sekarang, terlebih dalam rangka mengenang Pak Sur yang baru saja berpulang, semua itu terasa lucu nan menggelikan, seperti yang dibilang Frank Sinatra dalam lagunya, My Way,
“And now, as tears subside.
I find it all so amusing!”
Dan kalau dilihat ke belakang, apa yang dikatakan Mama untuk menaruhku di asrama, apa yang dilakukan Pak Sur dan Bu Sur selama aku di sana, semua itu adalah demi menjaga kesempurnaan rencana Tuhan atasku. Barangkali kalau waktu itu aku nggak tinggal di asrama, aku gak akan ada di posisi sekarang. Mungkin aku akan bernasib yang sama dengan kawan-kawanku lainnya yang harus mengakhiri masa mudanya terlalu dini karena pacarnya bunting duluan!
Oh, mengenai kebuntingan ini, aku dulu bahkan sempat berpikir untuk menyelundupkan mbak pacar ke kamar! Sekali-dua kali gak ketahuan tapi ketika ada kawan lain yang ketahuan membawa pacarnya ke kamar dan dia dikeluarkan, dilaporkan ke orang tua dan sekolah, hal itu membuatku kapok dan berhenti mencoba hal-hal yang tidak baik untuk dilakukan…Padahal waktu itu aku sudah mempersiapkan alasan! Kalau sampai ketahuan aku akan bilang bahwa kami berdua sedang belajar dan berdoa bersama!
Pak Sur, sugeng kondur, swargi langgeng!
Nyuwun ngapunten kalau dulu saya banyak bikin salah dan bikin Pak Sur stress melihat tingkah saya hehehe…
Semoga keluarga yang ditinggalkan, Bu Sur, anak-anak, para menantu serta cucu diberi penghiburan dan kekuatan.
Berkah Dalem
Donny Verdian
Alumni kamar 34B (1993/4) – kamar 2 (1994/5) – kamar 3 (1995/6)
Tinggalkan Balasan