OBITUARI: Dwi ‘Pelet’ Purwoko

20 Mei 2024 | Cetusan

Ironisnya, setelah lebih dari empat puluh tahun kenal, aku tahu nama asli Pelet justru dari lembaran dukacita kematiannya yang dikirimkan dalam versi digital oleh adikku, Chitra.

Pelet adalah kawan masa kecil waktu aku tumbuh dibesarkan di Kampung Tegal Blateran, Klaten.

Pelet anak Pak Ahmad (alm) dan Bu Mur, tetangga sebelah rumah. Memang di keluarganya, dia biasa dipanggil Pur. Dan benar, dia anak kedua  (Dwi) tapi aku dan banyak kawan lain di kampung memanggilnya Pelet, Let, karena hobinya melet alias menjulurkan lidah.

Usia Pelet dua tahun di atasku meski demikian aku tak terlalu akrab dengannya. Kawan dekatku justru adiknya, Agus ‘Cilik’.  Bagiku, Pelet selalu menyendiri atau barangkali ia punya circle yang lain di luar yang aku dan Agus ketahui. Interaksi kami pun selalu singkat dan padat, “Agus ono, Let?” tanyaku. “Goleki dewe, mlebuo mrene!” balasnya.

Aku mulai lebih akrab dengan Pelet justru ketika aku duduk di bangku SMA dan sering pulang ke Klaten menginap di rumah Eyang.

Hampir setiap malam aku nongkrong bersama Pelet, Agus dan banyak kawan lainnya di teras rumahnya. Dia senang kalau kugitari meski suaranya nggak keluar juga. “Kowe no sing nyanyi.. mengko tak rokoki..!”

Pelet memang mandiri dan loyal terhadap kawan. Rokok dan alkohol murahan selalu disediakannya. Pelet putus sekolah lalu membuka kios helm di depan Stadion Trikoyo. Konon uang penghasilannya selain untuk diri sendiri, ia pakai juga untuk menyekolahkan adik bungsunya, Ima yang juga adalah kawan sepermainanku.

Hubunganku tambah dekat dengan Pelet ketika Papa, Mama dan Citra pindah ke Klaten dari Kebumen di tahun 1998. Waktu semuanya terasa begitu berat, Pelet lah yang mendatangi Papa untuk mengenalkannya ke lingkaran pemuda kampung. Tak lama sesudahnya, hampir setiap malam, para pemuda kampung yang bahkan aku sebelumnya tak kenal, datang nongkrong ke rumah sampai lepas tengah malam hingga bertahun-tahun kemudian. Semua berkat Pelet.

Pelet juga yang akhirnya jadi ‘ketua tim sukses’ Papa untuk maju jadi ketua RT dan menang. Dari situ Papa mulai dikenal lebih banyak orang, masuk PDI-Perjuangan dan ‘berkarir’ di sana cukup lama hingga akhirnya jadi KPPS, menjabat beberapa jabatan di desa hingga meninggal tahun 2011.

Aku ingat waktu Papa meninggal, Pelet adalah orang yang begitu kehilangan. “Yo gene, Don?” ujarnya kepadaku yang baru saja tiba dari Australia. Aku hanya mengangkat bahu…

“Rokok-e Papamu tak pek’e yo..” ujarnya sambil meledek untuk meluruhkan duka. 

Aku mengangguk. Pelet lalu mengambil sisa rokok dalam bungkus yang masih ada di meja dekat kursi tempat papa terserang stroke dua malam sebelumnya.

Pertemuan terakhirku dengannya adalah ketika aku datang berlibur merayakan ulang tahun Eyang ke-88 pada desember 2018 yang lalu. Seperti biasa, ia menyambangi rumah, mengulurkan tangan untuk membantu apa yang bisa dikerjakan dan menyapa seolah kami tak pernah berpisah sebelumnya. “Kapan mulih? Nyambut gawe opo kowe saiki?”

Sabtu pagi kemarin, Chitra melalui grup WA keluarga besar mengabarkan berita duka, Pelet tutup usia.

Sedihku bukan kepalang. 
Setiap ada yang berpulang yang kukenal di kampung Tegal Blateran, aku selalu jatuh dalam permenungan betapa hidup telah melemparkanku jauh ke Sydney, Australia tapi tubuh, darah dan jiwaku tetaplah tubuh, darah dan jiwa asli kampung Tegal Blateran.

Maturnuwun untuk perjumpaan hidup dan semua yang pernah kita rasakan bersama-sama, Let! 

Terutama sekali karena kamu sudah membuat Papa dan Mama dulu jadi lebih mudah untuk memulai segalanya di Klaten.

Saiki kowe wes iso ketemu meneh karo Papa lan Mamaku… Ngaso kanthi tentrem. Mengko nek tugas-tugasku wes rampung kabeh, awake dewe gitaran meneh tur kowe kudu nyanyi :)

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.