Obituari: Danu Primanto

Sejujurnya hanya ada sedikit ruang ingatan yang masih terkenali tentang bagaimana interaksiku dengan Danu Primanto, adik kelas satu tingkat di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Dari yang sedikit itu, baiklah kutulis di sini sebagai lembar penutup hubunganku dengannya.

Pertama kali bertemu dengan Danu pada Minggu sore tanggal 17 Juli 1994.

Waktu itu aku baru tiba dari rumah kedua orang tuaku di Kebumen. Setelah mengambil kunci kamar asrama, Danu bersama Yanri Prastowo, teman sekamarnya, menyambutku di selasar Asrama Ampel 2 Yogyakarta. “Halo, Mas!” sapa mereka. Danu dan Yanri tinggal di kamar Nomer 1  sementara aku ada di sebelahnya Kamar Nomer 2.

Malam itu kami bercengkrama dan aku melarangnya untuk memanggil Mas, “Donny aja!”

Panggilan “Donny” ternyata juga nggak lama karena beberapa hari sesudahnya, dia bergabung bersama banyak temanku lainnya memanggilku, “Thuk! Bathuk!” panggilan kesayangan mereka kepadaku yang punya bathuk/jidat lebar ini!

Meski begitu, aku  tetap memanggilnya “Dan…” Bukan “Dan” untuk “Danu” tapi “Dan” untuk “Dancuk!”

Kok bisa? 
Danu berasal dari Gresik, Jawa Timur dan hampir di setiap kalimat yang diucapkan selalu terselip umpatan “djancuk” makanya kupanggil dia Dan… Dancuk! Pun setelah ia punya kawan banyak dan mereka memanggilnya “Taek” karena selain “Dancuk” Danu sering bilang “Taek” tapi aku tetap memanggilnya Dancuk!

Tiap sore hingga malam dia berkunjung ke kamarku membawa gitar bolong Yamahanya.

“Thuk! Ajarono aku Slank po’o!” ujarnya dengan logat jawa timur yang kental.

Kami ngoprek album ketiga Slank, Piss, bersamanya bermalam-malam lewat tape compo merk Polytron-nya. Mulai dari cara memainkan intro Mau (Beli) Tidur, Kirim Aku Bunga, Tepi Campuhan dan tentu saja Anyer 10 Maret yang lejen itu. (Aku dan Dancuk pernah nonton konser Slank di Mandala Krida, berjalan kaki dari asrama, bolos jam belajar lalu menyelinap masuk kembali ke kamar tanpa ketahuan Pak dan Bu Asrama hehehe. Keesokan paginya, kami berdua bolos sekolah nungguin Slank di lobi hotel untuk mengejar tanda tangannya).

Lain hari Dancuk datang lagi, membawa gitar, minta diajari lagu-lagu KLa Project. “Ajari Semoga, Thuk opo Yogyakarta yo kena!”

Tapi sesi “minta diajari” itu gak berlangsung lama karena meski ia punya gitar bagus dan semangat untuk belajar yang tinggi tapi permainan gitar Si Dancuk gak pernah bagus hehehe… “Grothal-grathul” gak keruan. “Kowe perlu belajar pindah chord sik! Gak usah belajar lagu dulu, Dan!”

Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng dan tak henti mengumpat “Jancuk! Taek, kon Thuk! Thuk!”

Bukan hanya gitar yang menyatukan aku dan Danu. Adalah obat jerawat mengingat jerawatku dulu separah jerawat di wajah Danu. 

Suatu malam, Danu yang berkulit legam itu mengetuk pintu kamar. “Thuk! Buka’i pintu, Thuk!”

Aku membukakan pintu dan terkaget-kaget dibuatnya. Wajah Dancuk yang legam, malam itu jadi putih seperti hantu karena olesan obat jerawat.

“Dancuk! Nganggo opo kowe!”

Ia menyodorkan botol obat jerawat dan memintaku untuk mencobanya. “Coba’en sik! Manjur iki!”

Makin dia punya banyak kenalan, makin ia melarut dalam pergaulan barunya sehingga interaksiku dengannya pun menjarang. Aku lebih sering ngobrol dengan Yanri, teman satu kamarnya.

Paling kami cuma ketemu pas antri mandi di depan kamar mandi atau pas sedang bareng-bareng ngerokok, nongkrong di depan kamar kami masing-masing.

Selepas SMA, kami tak pernah jumpa.
Tapi di tahun 2000, empat tahun kemudian, ketika kantorku mendapatkan kontrak pembuatan situs web Universitas Atma Jaya Yogyakarta, aku bersinggungan lagi dengan Dancuk melalui alm Kristupa Saragih (De Britto 1994) dan Banu Arwanto (De Britto 1999). Dua kawan baikku itu fotografer, mereka membantuku mengambil foto yang kuperlukan untuk keperluan pembangunan situs web. Aan kemudian menyodorkan dua nama fotografer lainnya. Satu diantaranya ya si Dancuk itu tadi. 

“Dancuk! Dadi fotografer saiki kon, Dan?!” ujarku. Lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, “Taek kon, Thuk!”

Menjelang kepindahanku ke Sydney pada 2008, circleku bertautan lagi dengan circle Si Dancuk. Waktu itu aku sering nongkrong di Djendelo Kafe dan ternyata Danu adalah teman dekat salah satu pemiliknya.

Waktu itu ia sudah tampak beda sama sekali dibandingkan ketika masih SMA. Mata jahilnya sudah meneduh nan bijaksana. Perangainya tenang dan gak lagi memanggilku “Thuk” tapi “Mas Bathuk!”

Kupikir cuma basa-basi ternyata enggak, dia memang ingin memanggilku demikian.

Di masa pandemik Covid-19, waktu aku sedang berapi-apinya membuat dan merilis lagu baru, Dancuk adalah salah satu yang selalu mengapresiasi karya-karyaku.

Ia selalu menanyakan “Ada link Apple Music-nya, Mas Bathuk?” Lagi-lagi kupikir cuma basa-basi, tapi ternyata nggak!

Sekitar setahun lalu, adalah Bertus, kawanku yang bukan lulusan De Britto tapi mengenal Dancuk. Ia menelponku dan mengabarkan bahwa Dancuk, si Danu itu, mengidap penyakit akut. Aku tentu prihatin tapi tak bisa berbuat apa selain berdoa.

Ketika Bowo (De Britto 1996) meninggal dunia. beberapa bulan lalu, Danu lah yang menghubungiku dan ikut mengucapkan bela sungkawa. Aku menyelipkan semangat untuk dirinya. “Kowe juga kudu semangat, Cuk! Kudu mari!” dan ternyata itu adalah percakapanku yang terakhir dengannya.

Kemarin pagi, Yoyok, teman satu angkatannya, mengabarkan kepadaku bahwa Dancuk, si Danu a.k.a Taek sudah berpulang.

Aku nggak kaget karena memang dia sudah sakit lama.
Aku nggak terlampau sedih karena memang kami tidak pernah lagi dekat setelah perkenalan pertama kami tahun 1994.

Tapi ketika merawi tulisan ini,  baru kusadar ada banyak ingatan termasuk tentang dirinya yang merepih sirna. Makanya cepat-cepatlah kutuliskan repihan itu di sini. Tak sekadar untuk mengingatnya tapi untuk meletakkan momentum-momentum indah di Jogja yang pernah terjadi antara aku dengannya dalam medium yang lebih abadi ketimbang otakku yang menua dan mulai mudah lupa ini.

Selamat jalan, Dan! Dancuk!  Salamku untuk semua! 
Papa-Mamaku, dan semua kawan-kawan kita yang sudah lebih dulu berpulang di sana!

Screenshot
Sebarluaskan!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses