Minggu siang kemarin, bersama Papa aku nyekar ke makam leluhurku di Klaten dalam rangka nyadran, sebuah tradisi Jawa menyangkut pengiriman doa bagi arwah leluhur
yang telah meninggal khusus menjelang Bulan Pasa, bulan kesembilan dalam kalendar Jawa.
Sedianya Mama dan Ciprut hendak turut namun apa dikata, mereka berdua sedang mendapatkan halangan bulanan, menstruasi,
yang membuat mereka tidak dapat ikut serta mengirim doa ke makam.
Ada tiga makam yang berada di dua tempat yang kudatangi tadi. Dua makam yang bersebelahan adalah makam Eyang Buyut Kakung dan Eyang Buyut Putri yang ada di Kompleks
Pemakaman Sungkur, sedangkan satu makam lagi adalah makam Eyang Kakung yang ada di Pemakaman Mangkak Klaten.
Acara nyekar pun tak sampai satu jam selesai. Di tengah terik matahari yang membakar siang hari ini, satu kewajiban nyadran ke makam leluhur telah usai.
Tak seberapa lama setelah beristirahat di rumah orang tuaku, aku pun kembali ke Jogja untuk melanjutkan aktivitas harian seperti biasa.
Sesampainya di Jogja, ketika sedang mencoba menuliskan header artikel ini, tiba-tiba Tunggonono,
preman ndeso yang setia kepadaku itu mendatangi ruanganku.
Kedatangannya seperti biasa adalah peluang ide baru dalam menulis, oleh karenanya kuhentikan kegiatan menulisku demi seonggok ide yang kadang datangnya tak dinyana itu.
“Weh, tumben Bos minggu siang ada di kantor..”
Tukasnya pringas-pringis.
“Hehehe iya Nggon, abis mudik ke Klaten nyadran.. nyekar leluhur. Kamu sudah?”
“Wah kulo sampun. Lho si Bos itu masih ngenal tradisi nyadran juga tho?”
“Lho lha iya tho, kan aku ini orang Jawa, Nggon! Pertanyaanmu kok aneh… ”
“Wohh… lha kupikir si Bos itu kan sudah priyayi IT, tiap hari ngadepnya komputer terusss, udah canggihlah istilahnya tapi kok ya ternyata masih kenal nyekar segala lho…”
“Hehehehe… oalah Nggon, Nggon! Aku itu memang orang IT, tapi aku ya tetap ndak bisa meninggalkan identitasku sebagai orang Jawa tho? Dan sebagai orang Jawa ya tetap tak bisa dipisahkan
juga dari tradisi-tradisi yang menempel disitu.”
“Oh.. gitu tho.. ya, ya..” Tunggonono manggut-manggut.
Dalam keter-manggut-manggut-annya itu aku sering membaca sebagai proses pencernaan hal baru ke dalam otaknya.
Aku pun melanjutkan pembicaraan.
“Bagiku nyekar itu punya dua fungsi yang keduanya saling tidak bisa dipisahkan, Nggon.”
“Wah, asyik ini ilmu baru- ilmu baru, hihihi!”
“Ilmu baru, gundulmu, Nggon! Hehehehe, ya gitu lah…
Nyekar itu, fungsi pertamanya adalah bersyukur kepada Tuhan sebab Dia telah memberikan leluhur yang begitu baik sehingga mereka pun bisa melahirkan orang tuaku yang baik, dan orangtuaku
melahirkan serta merawatku.”
Tunggonono masih manggut-manggut lagi, kurasakan otaknya mencerna “ilmu baru” ku itu tadi.
“Lalu yang kedua, nyekar sebagai perhomonan doa restu dari leluhur bagi kita. Aku adalah pribadi yang percaya bahwa meski para leluhur kita itu sudah meninggal akan tetapi
mereka adalah tetap menjadi pihak yang senantiasa berdoa dan memohonkan yang terbaik bagi kita yang masih mengembara di muka bumi ini.
Seperti layaknya dalam sebuah perlombaan lari, mereka, para leluhur itu adalah orang-orang yang telah menyelesaikan lintasan terlebih dahulu kemudian menanti di ujung garis finish
sambil menyemangati kita yang masih berlari ini untuk terus memacu kekuatan yang terbaik hingga akhirnya bersatu di garis finish yang sama.”
“Oh gitu ya… Weh kok nyahutnya ke lomba lari kayak Usain Bolt yang juara dunia itu Bos.”
“Gundulmu peang, Nggon!” sergahku singkat padanya.
“Hehehe.. Walah, si Bos gitu aja es-mos-si!
Tapi bener kok ucapan sampeyan itu tadi. Tapi Bos…”
“Tapi opo maneh?”
“Tapi orang-orang itu banyak menilai bahwa nyekar itu kadang dikait-kaitkan dengan klenik jhe, dengan mejik-mejikan gitu. Piye jal niku?”
“Hehehehe.. itu kan kata orang, Nggon. Nek miturutku, nyekar itu bukan kegiatan magis kok. Kan tergantung tujuannya tho…”
“Oh gitu tho Bos..” Ia kembali takjub mendengarnya..
“Ho oh.. hidup itu memang kontras Nggon! Kalau hari ini kamu menilai aku sangat kontras karena aku ini orang IT tapi kok ya masih menjalankan ritual nyekar pas Nyadran kayak sekarang ini.
Tapi percayalah justru dari kekontrasan itu terjadilah kelengkapan. Lha kamu apa ndak sadar kalau kita ini menjalankan sebuah persahabatan yang kontras juga?”
“Kok bisa ? Kontrasnya dimana? Apa karena kulit sampeyan putih dan saya hitam gitu? Iya !?” Mata Tunggonono mulai dipicing-picingkan ke atas khas intimidasi kepremanannya yang sudah lumayan
jarang kulihat belakangan ini dan terus terang saja kurindukan sangat.
“Hehehehe, rileks Bro, rileks… Itu benar, tapi ada yang lebih benar lagi, Nggon..”
“Apa itu?”
Ia tampak masih tak mengendorkan tensi bicaranya padaku.
“Aku orang sing jaremu priyayi IT itu, dimata orang-orang aku pinter, sementara kowe ki preman ndeso sing pinter cuma kalau pas ada di mimpiku aja dan dimata orang-orang yang mbaca blogku
kowe ki yo goblok tenane jhe !”
Tunggonono yang tadinya melotot-melotot kali ini malah mesam-mesem saja dan berujar “Lha ya itu kan katanya.. Padahal aslinya kita ini sama-sama goblok tho Bos!”
“Wohhhhh.. asu!” Umpatku padanya.
Tunggonono pun cepat-cepat keluar ruangan saya sambil terbahak-bahak …
Kali ini, aku yang kena Tunggonono …
Tinggalkan Balasan