Nyawa dan batang korek api

18 Mar 2018 | Kabar Baik

Apakah yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar atau membaca sebuah berita aksi teror bunuh diri berdalih agama?

Agama adalah aturan. Yang mempengaruhi hingga adanya hal-hal tersebut adalah cara umat memahaminya. Termasuk dalam penggalan ayat Kabar Baik hari ini. Dalam Yohanes 12:25, Yesus berkata bahwa barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

Adakah orang kita yang berpikir bahwa menanggapi hal tersebut adalah dengan melakukan aksi teror? Barangkali saja ada.

Tidak mencintai nyawa bukan bunuh diri

Padahal tidak mencintai nyawa itu beda dengan bunuh diri. Tidak mencintai nyawa adalah keputusan karena ada sosok yang lebih kita cintai dari nyawa kita sendiri.

Untuk mengerti hal ini kita ibaratkan saja hidup ini seperti batang korek api.

Ketika hari terang dan tak ada alasan untuk menyalakan api, tindakan kita untuk membakar diri adalah sama dengan bunuh diri yang sia-sia.?Beda dengan hari malam lalu tiba-tiba listrik mati dan sekeliling menjadi gulita. Tindakan untuk membakar batang korek api hingga habis menjadi arang adalah tindakan yang selaras dengan ?tidak mencintai nyawa? karena kita melakukannya demi adanya Terang yang mengusir gelap di antara sesama.

Lho tapi kan menyerahkan nyawa itu untuk Tuhan bukan untuk sesama, Don?

Betul. Tapi kalau kita ingat apa yang ditulis dalam Matius 25:35-39, melayani Yesus adalah melayani yang paling hina di antara kita! Mereka yang lapar, haus, asing, telanjang dan sakit serta terpenjara! Untuk semua itulah kita rela tidak mencintai nyawa kita sendiri.

Sehingga, kalau kita mengidentikkan tidak mencintai nyawa sama dengan bunuh diri, bukankah menolong orang-orang di atas hanya bisa dilakukan saat kita hidup dan bernyawa?

Maka marilah dalam masa Pra Paskah ini kita mohon bantuan Roh Kudus untuk mempertajam diri sehingga kita bisa semakin menjadi pelayanNya dan pelayan sesama.

Tengoklah sekeliling kita, adakah yang perlu dibantu?

Barangkali kita tak bisa menemukan mereka yang haus dan lapar, tapi adakah di antara kita yang tak mendapatkan kasih dari orang tua karena sibuk bekerja? Anak-anak seperti itu adalah anak-anak yang ?haus dan lapar? yang memerlukan kasih melalui kita.

Barangkali kita tak bisa menemukan orang asing yang butuh tumpangan tapi adakah di antara kita yang disingkirkan dan diasingkan hanya gara-gara beda agama atau beda orientasi seksual? Mereka juga perlu dirangkul dan diperhatikan?

Barangkali juga tak ada orang sakit atau terpenjara di lingkup terkecil kita. Tapi, hey, yakinkah dirimu sudah sembuh dari depresi dan stress yang melanda? Atau jangan-jangan kita adalah orang yang terkekang nan terpenjara dengan pandangan-pandangan sempit kita?

Waduh, kalau begitu, jangan-jangan diri kita sendiri adalah pihak yang harus dilayani terlebih dahulu?

Sydney, 18 Maret 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.