Novel Baswedan dan keberanian kita untuk menjadi pembawa kebenaran

2 Mar 2018 | Kabar Baik

Kehadiran Yesus dianggap begitu mengganggu keasyikan oknum-oknum Farisi dan ahli Taurat dalam memanfaatkan aturan-aturan Tuhan bagi kemuliaan diri mereka sendiri.?Dalam ?Bahasa Yesus?, apa yang mereka lakukan tak lebih seperti buruh kebun anggur yang membunuh sang ahli waris perkebunan, anak majikan. Dibunuhnya sang ahli waris, tak hanya keasyikan yang tak terganggu lagi tapi juga seluruh kebun akan jadi milik mereka, para buruh tamak itu.

Yesus akhirnya memang benar-benar dibunuh dalam sebuah persekongkolan jahat. Tapi justru dari kematianNya, Ia bangkit dan menjadi ?juru selamat? bagi semua orang.

Dari sisi Yesus

Banyak renungan yang disusun berdasarkan Kabar Baik hari ini (Mat 21: 33-43, 45-46) mengajak kita untuk berada di posisi buruh. Kita diminta untuk setia pada Tuhan, tak merampas kemuliaanNya demi diri kita.

Tapi di tulisan ini, aku mengajak kalian untuk merenungi diri dari sisi Yesus. Dari sisi ahli waris pemilik kebun. Pernahkah kita tak dianggap karena kita bicara tentang kebenaran? Pernahkah kita ditelikung dan disingkirkan karena keberadaan diri kita bagai duri yang menyentuh dan melukai ?kebahagiaan? mereka?

Novel Baswedan

Semalam aku menyaksikan tayangan acara Mata Najwa yang mewawancarai Novel Baswedan. Bagi yang belum tahu, Novel Baswedan adalah penyidik KPK yang kerap membuka aib korupsi banyak pejabat serta pengusaha. Sepuluh bulan lalu, sepulang dari beribadah subuh di masjid, wajahnya disiram air keras. Mata kirinya rusak parah, sementara yang kanan hanya bisa melihat dengan kabur. Titik terang tentang siapa yang menyiram dan apa motivasinya tak terungkap hingga kini tapi banyak pihak menduga penyerangan itu terkait kiprahnya di KPK.

Jika benar demikian, Novel diancam, disingkirkan, dibungkam supaya ia tak lagi bicara, tak lagi bekerja dan para koruptor bangsat itu bisa terus mengeruk untung dari uang haram tanpa ada gangguan!

Di masa pra-paskah ini, kisah tentang Novel Baswedan dan terutama Kabar Baik hari ini semoga menginspirasi kita untuk tetap dan tak ragu menjadi pembawa kebenaran. Tidak mudah memang, bahkan berisiko tinggi. Tapi kalau Yesus saja berani mengambil jalan itu, adakah kita punya pilihan lain sementara kita selalu mengaku diri sebagai pengikutNya yang setia?

Sydney, 2 Maret 2018

credit photo: antikorupsi.org

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.