Beberapa waktu silam, temanku, sesama Indonesian yang sekarang tinggal di Kanada, menceritakan kepadaku via YM tentang bagaimana ia selama perjalanan karirnya hingga sekarang menilai nilai uang gaji dan impiannya.

Demikian yang bisa kurangkum dari ceritanya,
22 tahun silam, ketika masih kuliah di salah satu universitas negeri terkemuka di Yogyakarta, ia ‘nyambi’ bekerja sebagai asisten sebuah mata kuliah terkait bidang matematika dan bergaji 75 ribu sebulan. Dengan gaji ‘sebesar’ itu ia menganggap bahwa gaji 1 juta rupiah adalah sesuatu yang sangat besar!
1 tahun sesudahnya, ia memberanikan diri bekerja sebagai guru les matematika tingkat SMP/SMA di sebuah lembaga pendidikan terkemuka di kotanya. Untuk itu ia digaji 150 ribu sebulan dan pada saat itu ia menganggap gaji 1 juta rupiah masih sesuatu yang didambakannya!
20 tahun silam, masih merasa tak cukup dengan uang yang ia dapatkan, ia lantas mencoba mengadu nasib sebagai penyiar radio. Kebetulan dia memang memiliki suara empuk nan menggemaskan. Aku tak tahu berapa hitungan gaji per jamnya, tapi dalam sebulan, ia digaji 200 ribu sebulan dan pada saat itu, gaji 1 juta rupiah tetap dan tetap menjadi impiannya.
19 tahun silam, temanku tadi rupanya pandai membaca situasi. Ketika bisnis master of ceremony (MC) menggejala, ia lantas melebarkan sayapnya tak hanya bersiar di media udara tapi juga dalam acara-acara hajatan manten hingga khitanan, ia menjajakan diri sebagai MC. “Alhamdulilah, Don.. waktu itu bisa dapet 40 ribu sekali acara!”
“…atau memang rasa tidak puas yang akhirnya membuat kita merasa terlecut untuk memperbaiki kemampuan bekerja kita…”
2 tahun sesudahnya, barangkali karena ordernya membanjir, ia lantas melepaskan pekerjaan sebagai guru les Matematika dan membangun usaha sebagai MC profesional. Untuk itu ia mempekerjakan banyak teman-temannya sebagai pembantu administrasinya. Yah, namanya juga awalan, ia lantas menggaji dirinya sendiri sebesar 250 ribu rupiah saja, sebuah kemunduran kalau dilihat dari nilai uang, tapi ia percaya bahwa satu kemajuan harus diawali dengan prihatin dan ini ia anggap sebagai prihatinnya.
Tak terasa tiga tahun bisnis itu berjalan begitu mulus, temanku tadi lantas merasa berada pada titik jenuh lalu berbekal tabungan dan usaha yang telah berjalan mulus, ia memutuskan untuk merantau ke luar negeri untuk memperdalam ilmu MC-nya. Kanada adalah tujuannya. Pada titik itu, angka 1 juta rupiah bukan lagi impiannya…
Hidup sebagai mahasiswa perantau, ia nyaris ‘kehabisan nafas’ karena hidup berbekal tabungan dan setoran dividen perusahaan yang sebenarnya dikirim dengan lancar namun karena beda currency membuat semua tampak tak terlalu berarti baginya. “Terlebih saat krismon… aku nyaris putus asa. Tapi pilihan telah kutetapkan sementara untuk pulang juga sayang…”
Keadaan lalu memaksa dirinya banting stir. Sedianya ilmu MC yang ditimbanya akan dibawa pulang untuk dipraktekkan di Indonesia, namun karena krisis moneter melanda dan orang berpaling dari kepentingan-kepentingan sekunder semacam penyediaan MC, ia memilih mendalami ilmu lamanya, Matematika dan untuk mengongkosi kuliahnya, kali ini ia memilih bekerja paruh waktu di sela kuliahnya. “Gajinya tak seberapa…” ujarnya menyebut suatu angka yang kupikir itu adalah angka yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia dapatkan dulu… dan apa yang ia dapatkan sekarang.
Dasarnya memang ia orang cerdas, tak sampai tiga tahun, kelarlah kuliah Matematikanya, gelar master didapatnya.
Keajaiban, begitu tukasnya, terjadi!
Ketika visa belajarnya mendekati habis masa berlaku, tiba-tiba profesor yang bekerja di universitas tempatnya bekerja memanggilnya untuk menawari kerja.
“Sebagai asisten saya! Berminat?” kata sang profesor singkat.
Kontan ia tak menolak.
Setelah mengabarkan kabar baik ini kepada sanak saudara di tanah air, ia lalu memutuskan untuk mengambil tawaran dan mulailah ia bekerja.
“Gaji awalku 8000 dollar!” ujarnya dan ini mengagetkanku.
“Wah, banyak sekali?” tanyaku.
“Hehehe, itupun dulu… sembilan tahun silam!”
“Lha sekarang?”
Ia tak menjawab.. hanya menyeringai lebar terwakili oleh emoticonnya yang terbahak-bahak tiada henti.
“Ayolah… tak kan kuberitahu pada yang lain!” pintaku.
“Hehehe… tak baiklah… lagipula untuk apa kamu tahu?”
“Dan untuk apa pula kau sembunyikan?” sergahku…
“OK… baiklah kalau begitu… “
Ia lalu menyebutkan sebuah angka dan hingga tulisan ini kutuangkan aku masih bergidik menghitungnya.
Pikiranku lantas melayang-layang. Mana yang lebih tepat, nilai uang yang cenderung turun, keadaan ekonomi global yang terus membaik (sehingga perusahaan mau-maunya selalu menaikkan gaji kita), atau memang rasa tidak puas yang akhirnya membuat kita merasa terlecut untuk memperbaiki kemampuan bekerja kita tak peduli bagaimana keadaan ekonomi dan kecenderungan turun-naiknya nilai uang?
Ah, kutititipkan jawabannya pada sebuah entah…
Tinggalkan Balasan