Vakansi ke Canberra: Nganbira, lembah di sela payudara wanita (5)

7 Jul 2011 | Australia, Cetusan, Vakansi canberra 2011

Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

Sebelumnya, ada baiknya kuinformasikan pada kalian bahwa ketika menerakan judul postingan ini aku tidak sedang mengantuk dan tak juga sedang mabuk. Aku sedang berada dalam kondisi sadar sepenuhnya. Jadi kalau tertulis “Ngabira, lembah di sela payudara wanita” pada kolom judul, memang demikianlah adanya :)

“Nganbira atau Nganbra adalah nama adat untuk Canberra yang berarti ?hollow between a woman?s breasts”

Nganbira atau Nganbra adalah nama adat untuk Canberra yang berarti “hollow between a woman’s breasts (lembah/rongga di antara payudara wanita -eng)”. Adalah John Gale, pemilik koran Queanbeyan yang pada sekitar tahun 1860 menemukan istilah itu sekaligus menggambarkan letak geografis Canberra sesungguhnya yang merupakan lembah/daerah aliran sungai Sullivan Creek yang berada di antara Mount Ainslie dan Black Mountain.

* ? ?* ? ?*

Sekeluarnya aku dari Parliament House, matahari telah kehilangan tiga perempat bagiannya, tenggelam di peraduan padahal waktu masih menunjuk pukul 5 sore lewat sedikit. Musim dingin di daerah selatan Khatulistiwa yang jatuh pada Juni – September memang selalu ditandai dengan masa edar matahari yang memendek seperti ini.

Karena nggak ada stock foto Nara Park, baiklah kupasang fotoku:) Diambil oleh Wijaya Trio di Parliament House. Kalian belum bosan melihat wajahku kan? :)


Adapun rencana semula kami sore itu sebenarnya adalah berkunjung ke The Australian War Memorial yang ada di sekitar dua kilometer dari Parliement House. Namun karena kami tak yakin apakah museum perang Australia itu masih buka atau sudah tutup, kami lalu membatalkan rencana dan memilih untuk menghabiskan sore itu di Nara Park, sebuah taman yang berada di tepi Lake Burley Griffin, tak jauh dari Parliament House.
Nara Park adalah sebuah taman yang letaknya memanjang di tepi Lake Burley Griffin, berseberangan sudut dengan kedutaan besar Republik Rakyat China. Nama ‘Nara’ sendiri mengacu pada simbol persahabatan antara kota Canberra dengan kota Nara di Jepang. Ia diresmikan pada 9 Oktober 1999. Pada saat itu, pemerintah Jepang bahkan mengirimkan delegasi beranggotakan penduduk kota Nara untuk datang ke Canberra. Sebagai kenang-kenangan, anggota delegasi ‘Nara’ lantas menorehkan tulisan “The Canberra Nara Friendship Gate” pada pintu masuk Nara Park dalam tulisan kanji Jepang.

“Canberra adalah sebuah contoh bahwa kota adalah sesuatu yang tak serta merta ada lalu kita tinggali.”

Kalau kalian berkunjung ke Nara Park, aroma ‘Jepang’ memang sangat kental terasa. Bayangkan, selain dua lentera raksasa Kasuga dan Yukimi dipajang, nyaris semua tanaman yang tumbuh di sana adalah tanaman yang berasal dari Jepang seperti Japanese Mapel, Japanese Red Pine, Japanese Lily of the Valley dan masih banyak lagi. (Sumber, klik di sini)?Tak hanya itu, pada saat-saat peringatan kerjasama Canberra – Nara beberapa tahun belakangan juga selalu diadakan keriaan khas yaitu Canberra Nara Candle Festival yang diikuti dengan festival makanan Jepang, pertunjukan seni budaya, dan masih banyak lagi.
Berbatasan dengan Nara Park adalah Lake Burley Griffin, sebuah danau buatan yang diprakarsai pembangunannya oleh Robert Menzies, perdana menteri Australia pada tahun 1960. Nama danau itu diambil dari nama arsitek Amerika yang memenangkan lomba desain kota Canberra, Walter Burley Griffin.
Danau seluas 6.64 km2 itu membendung sungai Molongo River sekaligus menggenangi Jerramboberra Creek dan Sullivan Creek, areal yang di paragraf awal kusebut sebagai daerah lembah di antara dua ‘payudara’ itu tadi.
Kombinasi Nara Park dan Lake Burley Griffin adalah paket yang indah untuk selalu dinikmati pada sore dan pagi hari. Selain pemandangan yang lapang ke arah barat yang sangat cocok untuk menanti matahari tenggelam, banyaknya angsa hitam (black swan) yang hilir mudik berenang di Lake Burley Griffin adalah paket komplit ditambah dengan indahnya pemandangan sisi kota yang dibatasi sebuah jembatan layang yang tampak seperti lintasan mungil dengan lampu-lampu mobil berpendar dari sana.
Anganku terus bermain-main mengagumi betapa Canberra adalah sebuah paparan yang indah.
Terpujilah Tuhan yang menciptakan manusia yang oleh karenaNya maka ia dimampukan untuk mendesain kota yang sedemikian indah. Canberra adalah sebuah contoh bahwa kota adalah sesuatu yang tak serta merta ada lalu kita tinggali. Ia ada karena warganya berproses setahap demi setahap untuk membangun dan mewujudkan tempat tinggal yang baik dan nyaman tak hanya untuk mereka tapi juga anak-cucunya.

* ? ?* ? ?*

Sementara itu waktu telah semakin larut, jarum jam menunjuk angka 06.30 petang. Matahari telah lenyap di peraduan meski bersit sinarnya masih tersisa sedikit menjingga di ufuk barat bagai semburat, tepat di atas puncak Black Mountain. Suhu udara terus mendingin ditingkahi angin gunung yang desirnya menggigilkan tulang. Bayang-bayang angsa hitam semakin tak tampak, menyatu dengan permukaan air yang kelam… Ini adalah waktu yang tepat untuk segera beranjak dari kawasan lembah/rongga di antara payudara wanita ini. Saatnya bersantap malam!
Bersambung…

Sebarluaskan!

15 Komentar

  1. “…mewujudkan tempat tinggal yang baik dan nyaman tak hanya untuk mereka tapi juga anak-cucunya.”
    indah sekali bung.

    Balas
  2. Belum bosan melihat wajahmu nan ganteng itu kok, Mbah..
    Sama kayak wajahku. :D

    Balas
  3. Sory dab, dah dua minggu absen dari BW so akhire ketinggal journal ttg Ausy….
    mulai menyimak….
    nuwun

    Balas
  4. indah dilingkari nada-nada sunyi, jauh dari hiruk-pikuk. ah, jadi pengen ke sana mas, walau untuk sementara jadi mimpi dulu

    Balas
  5. durung bosen… tapi wis ampir lali :D :D
    piye kabare ‘thuk?
    isih inget karo konco kost daliman?
    saiki nang aussie to kowe? manthapsss hahaha……

    Balas
  6. Memberi nama serupa itu memang menarik, khususnya bagi kaum Adam, Om. Seperti iklan, “selanjutnya terserah Anda…”
    Salam kekerabatan.

    Balas
  7. Menurutmu akah ada kemungkinan salah satu kota di Indonesia dibikin da dibangun spt Canberra?

    Balas
  8. Di Aussie ternyata ada juga model sister city ya. Kl Jakarta sisternya Casablanca, Marokko, tp rasanya belum pernah dengan ada festival spt Canberra Nara.

    Balas
  9. Ada churros gak disini? :D

    Balas
  10. menarik euuyy, kasih +1 google ahh ^_^

    Balas
  11. Saya kira saat membaca feed, mas DV sudah ganti konten :lol:
    tapi, namanya ko’ aneh ya? apa sesuai dengan suhu dan cuacanya yang mirip?

    Balas
  12. Betapa senangnya kita bisa tamasya dan mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan….merenung, menikmati, serta bisa introspeksi diri….

    Balas
  13. wa…berpetualang nie…jadi ngiri heheh

    Balas
  14. Judulnya itu lho mas, mengarah vulgar

    Balas
  15. Gambar/foto gografis nganbra/nganbera ( lembah di antara payudara wanita )di Australia, mana mas ?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.