Ndorokakung: …kalau nulis jangan ngarang!

26 Okt 2015 | Cetusan, Harblognas

Kali ini aku harus setuju dengan Fadjroel Rahman!
Analis politik yang tahun lalu aktif dalam tim sukses Jokowi-JK dan kini menjabat Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk. itu mendeskripsikan Ndorokakung sebagai kakeknya (grandfather) social media Indonesia.

Kepada Jakarta Globe ia berkata demikian, “He?s the grandfather of social media. If you don?t follow him, it means you?re nobody in social media.”

Ndoro, Pria Jogja yang nama aslinya Wicaksono itu memang sudah ada di ranah blog dan social media sejak dekade silam.

Tulisan-tulisannya di ndorokakung.com mengesankan meski diksi yang dihadirkan sederhana. Jumlah pengikutnya di Twitter ratusan ribu banyaknya. Tapi sebenarnya bukan itu yang membuatku mau mengundangnya untuk kuinterview di sini.

Hal yang paling bisa kupelajari darinya adalah ke-elegan-annya dalam menciptakan konten yang diterima khalayak lalu disebarkan sebegitu luas melalui kanal-kanal social media. Golden!

Keberpihakannya pada keterbukaan informasi secara online membuatnya diterima dengan amat baik ketika terjun aktif dalam komunitas-komunitas sosial kemasyarakatan di Tanah Air.

Pria yang kini menjabat sebagai Chief Editor Beritagar.Id ini kuhubungi Jumat pagi yang lalu. Setelah hampir menunggu seharian lamanya akhirnya ia menyaguhi interview.

Karena tak mau kehilangan momen, aku yang sebenarnya sedang nge-gym, merelakan waktu-waktu sela di antara weight training set untuk berbincang dengannya tentang blog, blogger dan hari besok, 27 Oktober, yang merupakan Hari Blogger Nasional.

Simak petikannya!

Setelah sekian tahun ditetapkan, siapa yang pantas dan masih relevan untuk merayakan harblognas (Hari Blog Nasional), Ndor?

Menurutku layak dirayakan siapapun yang peduli pada blog.

Bahkan orang yang tak punya blog atau bukan blogger, tapi suka menikmati atau membaca blog, relevan untuk merayakannya.

Tapi blogger yang aktif menulis semakin sedikit? Setujukah kamu dengan pendapat itu?
Aku tak punya data yang menunjukkan peningkatan atau penurunan jumlah penulis blog yang valid. Jadi, aku kurang yakin pada pendapat ini.

Menurutmu di tengah arus sosmed sekarang ini, apakah definisi blogger mengalami perubahan?
Menurutku, arus yang deras tak mengubah definisi.

Apakah orang yang nge-tweet dan membuat status di facebook bisa dianggap blogger juga?
Orang yang punya blog dan mengisinya layak disebut blogger.?Tapi kalau orang yang ngetwit sebaiknya disebut pekicau saja, meskipun twitter itu disebut microblogging

Kamu masih ngeblog?
Masih, meskipun frekuensi menulis tak sesering dulu

Masih memperhatikan blog orang-orang?
Sesekali masih baca tulisan blog orang? terutama yang tautannya muncul atau dibagikan di media sosial.

I see.
Menurutmu apa kontribusi blogger dengan blog yang paling signifikan dalam perkembangan jaman?
Blog memberi ruang yang lebar pada semua orang untuk menuangkan pikirannya dan blogger membuat pembaca memiliki alternatif informasi yang dulu didominasi oleh media tradisional.

Blog juga membuka peluang ekonomi bagi pemiliknya, sampai ada iklan teksnya: Daripada susah buka toko, mending buka laptop ?

Demokratisasi informasi dan terciptanya peluang usaha yang lebar adalah sumbangan terbesar blog dan blogger.

Tapi bisakah info-info yang tidak titis (jitu – jawa) dan sifatnya malah menghasut macam banyak blog-blog politis kita anggap sebagai efek dari demokratisasi informasi itu sendiri?
Demokrasi, suka tak suka, memang memiliki residu semacam itu. Tapi bagusnya, demokrasi juga menyediakan saluran untuk mengoreksi residu itu sendiri.

Yang diperlukan tak lagi sekadar melek huruf, tapi juga melek media (sosial). Ini PR besar kita semua yang menginginkan tegaknya demokrasi.

Peran pemerintah dan hukum mengatasinya lewat UU ITE? Sudah tepatkah solusi itu atau cenderung overkill (berlebihan -inggris)?
Celakanya memang overkill! Ini kalau kita lihat dari kasus-kasus yang sudah terjadi, misalnya, ada orang yang digugat karena dianggap mencemarkan nama baik dengan menulis status di BBM.

Lalu saranmu untuk mengatasi hal ini bagaimana?
Pertama-tama, UU ITE harus direvisi supaya tak gampang lagi dipakai orang untuk menggugat atas nama pencemaran nama baik.

Kedua, penegak hukumnya, polisi juga harus lebih pintar

OK, pertanyaan terakhir, menurutmu sudah perlukah seorang blogger punya lawyer/pengacara untuk berjaga-jaga?
Pengacara pribadi? mahal, hahaha…
Yang penting blogger itu mawas diri saja. Kalau nulis jangan ngarang apalagi kalau isi tulisannya menyangkut seseorang.

Be kind, be honest supaya kalau terjadi sesuatu, banyak yang membantu.

Sip! hahaha ada hal yg mau kamu sampaikan kepada pembaca selain semua yang terpapar di atas?
Aku cuma mau bilang, kamu niat tenanan wawancaranya, hahaha… top.
matur nuwun ya

Lah! kowe lagi ngerti nek aku top? hahahaha

Sebarluaskan!

7 Komentar

  1. Materi dialog bernas dan mencerahkan dari dua blogger kawakan (baca: tuwek kabeh).

    Aku sekali tulisan di atas…

    Balas
    • Bernas po beras? :)

      Balas
  2. Obrolan keren dari orang-orang keren iki! top tenan! :D

    Balas
  3. Dua-duanya keren. Udah lama gak baca tulisan ndorokakung.

    Balas
  4. idolaku kabeh. :)

    Balas
  5. Selamat Hari Blogger Nasional dab !

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.