Nabi palsu dan kepalsuan-kepalsuan kita

27 Jun 2018 | Kabar Baik

Nabi palsu adalah hal yang harus kita waspadai! Yesus meminta kita untuk sepakat tentang hal itu seperti ditulis Matius di bawah ini:

Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (lih. Matius 7:15)

Kita tak punya petunjuk lain selain dari buah-buah yang dihasilkan. (lih. Matius 7:16)

Permasalahannya adalah, cara kita untuk mendeteksi buah-buahnya itu kebanyakan dengan mengoptimalkan panca indera saja. Melalui apa yang kita lihat, raba, cecap, dengar, bau lalu kita menyimpulkan padahal itu tidak cukup.

Pakai indera keenam, Don!
Iya! Tapi sekali lagi, siapa yang bisa menjamin bahwa indera keenam kita itu bukan klenik, bukan aji ?pengawuran? saja? Ujung-ujungnya malah bisa jadi penghakiman ketika misalnya ada seorang yang sebenarnya baik lalu kita anggap nabi palsu hanya berdasarkan, ?Feelingku mengatakan?? atau ?Semalam aku bermimpi?.?

Lalu apa kamu pernah bertemu dengan nabi palsu, Don? Kalau pernah bagaimana mendeteksinya?

Aku tak tahu. Lebih tepatnya, aku tak tertarik untuk mencari siapakah nabi palsu. Aku lebih fokus pada adakah kepalsuan yang ada di sekelilingku baik yang dibawa orang lain ataupun diriku sendiri? Kalau ada, bisa jadi ia (atau aku) adalah nabi palsu!

Pernah suatu waktu di sebuah daerah, seseorang dianggap ?lebih? dari yang lain. Ia tak hanya kaya. Pribadinya pun ?nyaris? sempurna. Keluarganya begitu menyenangkan. Rajin beribadah. Caranya bersosialisasi dengan tetangga juga brilian dan tak segan untuk membantu ketika diperlukan. Tak heran kalau lantas orang begitu menghormatinya.

Hingga akhirnya pada satu ketika sebuah kabar menghebohkan diterima. Seorang wanita mengunggah video pengakuan bahwa dirinya hamil dari orang yang dihormati tadi. Komunitas pun bergejolak. Awalnya banyak yang tak terima dan tak percaya tapi lambat-laun terungkaplah kedok kepalsuan tersebut.

Kita adalah insan lemah yang tak bisa menengarai kepalsuan seseorang tapi dari contoh di atas tadi kita tahu bagaimana pola kepalsuan kerap membelenggu.

Membelenggu?
Ya! Membelenggu akal sehat kita dan terutama nurani! Karena kita terbuai harapan terhadap sosok seseorang berdasarkan panca indera saja maka ketika yang sebenarnya terungkap, kita sulit menerima keadaan.

Kunci untuk mengenali kepalsuan di sekeliling kita yang pertama adalah menyadari kelemahan kita sendiri. Arti dari penyadaran terhadap kelemahan ada dua.

Pertama menerima ada yang lebih kuat dan paling kuat untuk membantu kita yaitu Tuhan! Kedua, mau berjuang untuk semakin hari semakin tak lemah.

Maka, mari semakin mengandalkan Tuhan supaya Ia mau mempertajam ?indera keenam? kita yaitu nurani kita sendiri. Kedua mari kita selalu berjuang untuk secepatnya bangkit ketika tertipu dan belajar dari sana. Jatuh, kecewa lalu terjerembab dan tak mau bangun lagi itu duniawi. Tapi jatuh, kecewa lalu bangkit adalah surgawi.

Jangan malah larut dalam buah-buah palsu atau jangan-jangan kita malah pengen jadi ikut-ikutan membuat kepalsuan baru?

Sydney, 27 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.