Mumpung kita masih diberi waktu

7 Jun 2018 | Kabar Baik

Seorang ahli Taurat mendatangi Yesus dan bertanya tentang hukum yang terutama. Lalu Yesus menjawab dengan mengatakan kebenaran;

“Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.? (lih. Markus 12:29-31)

Ada seorang kawan dulu menggunakan dua hukum di atas untuk menjadi alasan kenapa ia memilih tak lagi beribadah di Gereja. Kenapa? ?Yang penting kan mengasihi Tuhan dan sesama!?

Mengasihi Tuhan dan sesama itu adalah hukum yang justru harus jadi landasan dalam segala hal yang kita lakukan termasuk beribadah di Gereja. Intinya adalah bagaimana kita meluruskan niat dan bukan mengurungkannya. Bagaimana membuat suatu hal menjadi benar bukan lantas memilih untuk tak melakukan.

Mengasihi Tuhan juga harus diikuti dengan mengasihi sesama. Tak bisa dipisah-pisahkan tak pula dipilih-pilih Tuhan saja atau sesama saja.

Seorang oknum teroris mengaku alasan untuk melakukan aksi teror adalah karena cintanya yang tak terkira kepada Tuhan. Tapi mungkinkah seseorang mengaku mencintai Tuhan dengan sangat tapi tak mengindahkan bahkan mencelakai sesamanya sendiri? Manusia itu ciptaan Tuhan. Kita, tanpa terkecuali sangat dikasihiNya. Jadi mungkinkah Ia menerima ?sesembahan? seorang oknum teroris jika hal itu mengorbankan kebahagiaan bahkan nyawa orang lain? Tentu tidak!

Begitu juga pada seorang yang mengasihi sesama tapi tak mengakui eksistensi bahkan menghujat Tuhan! Bagaimana mungkin seseorang mampu mencintai sesamanya jika rasa cinta itu sendiri datangnya dari satu sumber yaitu Tuhan?

Di titik inilah kehadiran Yesus menjadi kunci. Ia Anak Allah. Ia turun ke dunia untuk menyuarakan betapa Allah mengasihi kita dan menyerukan supaya kitapun mengasihiNya dan sesama.

Ia memampukan kita untuk mengasihi Allah sekaligus sesama dengan merelakan diriNya disalib. Pada salib itulah Yesus memberikan contoh bagaimana kedua hukum itu harus dan bisa dilaksanakan.

Lho, apa hubungannya?

Lihatlah salib yang tergantung entah di kamarmu, entah di ruang keluarga, di gereja atau barangkali di kalungmu. Salib terdiri dari dua palang. Palang ke atas adalah gambaran cinta kita kepadaNya, palang ke samping adalah cinta kita kepada sesama.

Mari melanjutkan memanggul salib tanda cinta kita pada Tuhan dan sesama. Berat? Kamu tak sendirian! Yang penting semangat untuk melakukan lebih banyak hal lagi bagi Tuhan dan sesama. Kalau kata Ebiet G. Ade, ?mumpung kita masih diberi waktu??

Sydney, 7 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.