Berita akan ditutupnya seluruh layanan Multiply per Mei 2013 mendatang yang diumumkan pekan lalu sebenarnya bukanlah peristiwa yang mengejutkan bagiku.
Bukan! Aku berpikir demikian bukan karena sentimen terhadap mereka karena kasus akun’Indonesia’ antara aku dengan mereka seperti kutulis di sini karena bagiku itu adalah hal yang telah kusudahi dan tak perlu diributkan hingga berkepanjangan. Justru sebenarnya aku meyayangkan kenapa hal itu pada akhirnya benar-benar terjadi mengingat Multiply adalah salah satu ‘nenek moyang’ social media yang ada begitu banyak dari kita yang ‘lahir’ pada generasi awal internet ini memiliki ‘kesan’ dan ‘kenangan’ di dalamnya.
Komunitas ‘massa’ di bawah bendera Multiply saat itu sebenarnya adalah orang-orang yang sangat loyal terhadap satu sama lain, komunitas mereka dan Multiply itu sendiri.
Awal nubuatan bahwa mereka tak kan berumur panjang itu bermula ketika mereka membuka kantor di Indonesia.?Hal itu semakin dimantapkan ketika mereka memutuskan untuk menutup layanan gratis social network pada akhir 2012 dengan alasan supaya lebih fokus ke pasar e-commerce. Selayaknya nabi, pada saat itu aku berpikir, “Semua telah tergenapi, waktunya sudah dekat!”
OK, mungkin tak afdol kalau tak kujelaskan kenapa pada akhirnya aku berpikir begitu?
Begini.
Ketika mereka masuk ke Indonesia dan memiliki tujuan untuk membuka ‘pasar yang potensial’, aku tak habis pikir atau barangkali memang garis batas pikirku yang tak sampai dalam mencerna analisa bisnis mereka terhadap kelayakan peluang itu. Lalu bagaimana effort mereka untuk melakukan pendekatan yang berbeda terhadap hal yang sama, e-commerce, yang juga sudah diusung beberapa kompetitor lainnya?
Tapi pemikiran di atas nyatanya sempat kuanulir sendiri mengingat kekuatan massa yang berada di bawah Multiply yang menurutku sangat massive dan pekat!?Komunitas ‘massa’ di bawah bendera Multiply saat itu sebenarnya adalah orang-orang yang sangat loyal terhadap satu sama lain, komunitas mereka dan Multiply itu sendiri. Beberapa dari mereka bahkan seolah tak bergeming ketika social media-social media yang lain bermunculan dan mengangkat bendera lebih tinggi ketimbang Multiply, sebutlah Facebook dan Twitter. ‘Orang-orang Multiply’ bukan orang yang lantas latah meninggalkan Multiply untuk bergabung ke raksasa-raksasa baru itu.
Saat itu aku membayangkan jika komunitas itu dipoles berbarengan dengan dibukanya bisnis e-commerce mereka, barangkali bisa jadi kombinasi yang sangat solid dan Multiply akan berjaya di negara yang memang sangat gemar ‘guyub’ dan bersosialisasi itu.
Tapi ketika akhirnya rencana penghentian layanan gratis social media pada akhir 2012 disiarkan, bagiku disitu ‘pengumuman kematian’ telah pula lantang terdengar!
Tapi ketika akhirnya rencana penghentian layanan gratis social media pada akhir 2012 disiarkan, bagiku disitu ‘pengumuman kematian’ telah pula lantang terdengar! Karakteristik komunitas yang telah terbentuk sangat kuat dan nyaris tak bisa dihargai lagi dengan uang itupun pupus seiring kepergian mereka dari Multiply; sesuatu yang entah pihak manajemen ?sadar atau tidak justru yang sebenarnya membuat Multiply begitu kuat dan berwarna selama ini!
Sementara itu, ketika sedang terengah-engah untuk tegak berdiri lagi di atas reruntuhan social network untuk sebuah misi baru, e-commerce, kompetitor-kompetitor lain yang memang lebih memiliki ‘core’ ke arah sana telah berlari terlalu cepat untuk dikejar apalagi ditundukkan, sedangkan dirinya telah kehilangan sinar, kelelahan, kehabisan energi lalu mati.
Sayang memang, tapi itulah hidup dan mereka telah memilih sendiri jalurnya.
Ibarat kata, harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan…

Tinggalkan Balasan