Mukjizat butuh modal?

17 Feb 2019 | Kabar Baik

Hal yang sering kuamati tentang bagaimana manusia-manusia modern memandang Tuhan dan mukjizat itu kira-kira begini.

Yang pertama, ada seorang yang begitu mengimaniNya. Ia tahu betul Tuhan akan membuat mukjizat dalam hidupnya. Mimpinya besar! Ia ingin punya rumah geongan dan mobil mewah. Tapi kenyataannya, ia begitu malas bekerja. Ia hanya rajin ketika berdoa.? Waktu ditanya alasannya, begini jawabnya, ?Tuhan akan memberi kok! Kita nggak perlu capek-capek kerja!?

Yang kedua adalah sebaliknya? Ada seorang yang tak mengimaniNya. Justru karena ketiadaan iman, ia bekerja keras karena baginya tak ada sesuatu yang jatuh dari langit. Mimpinya tentang rumah besar dan mobil mewah pun dicapai berkat usaha kerasnya itu. Ketika diajak kawannya untuk sesekali pergi ke Gereja, jawabnya begini, ?Tuhan nggak memberi apa-apa, ngapain kita ke Gereja??

Kedua hal itu menurutku bisa dikombinasikan menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan dan giat bekerja. Caranya? Mengimani Kabar Baik hari ini dalam dua sisi.

Mukjizat butuh modal!?

Ketika Yesus tergerak untuk membagi makanan kepada sejumlah orang yang besar, Ia meminta pada para murid, ?Berapa roti ada padamu?? (lih. Markus 8:5).

Ia, dengan ke-Ilahi-anNya tentu bisa membuat orang-orang kenyang tanpa modal.  Tapi Yesus meminta roti dari para murid supaya mereka pun terlibat dalam karyaNya.

Dari tujuh roti itu, mukjizat Tuhan terjadi. Empat ribu orang dikenyangkanNya bahkan dari potongan-potongan roti yang dikumpulkan, ada tujuh bakul sisanya.

Mukjizat butuh modal. Modalnya bisa berupa talenta, pengorbanan waktu dan tenaga, maka giatlah untuk bekerja! Tuhan yang akan mengubah modal-modal itu menjadi mukjizat karena seperti halnya para murid, Ia ingin kamu punya andil dalam karyaNya.

Kapan mukjizat terjadi?

Jika kalian amati betul bacaan Kabar Baik hari ini (Markus 8:1-10) sejatinya kita tak pernah tahu kapan mukjizat itu terjadi!? Dilukiskan Yesus ?hanya? mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. (lih. Markus 8:6)

Selebihnya, empat ribu orang dikenyangkan, sisa-sisa potongan roti pun terkumpul hingga dua belas bakul banyaknya!

Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

Ada orang merasa Yesus tak berbuat apa-apa dalam berkat yang ia terima. Mereka merasa semua adalah hasil kerja kerasnya saja.

Padahal, sama seperti yang ada di Kabar Baik hari ini, bukannya Ia yang tak bekerja tapi karena kita yang tak bisa menangkap cara kerjaNya!

Kesannya memang ‘hanya’ mengucap syukur kepada Bapa, memecah-mecah roti dan meminta para murid untuk membagi. Tapi jika tanpa hal itu, jika tanpa Yesus, tujuh roti hanya akan tetap menjadi tujuh roti saja dan mukjizat tidak pernah terjadi!

Memandang peran Tuhan menurutku harus disandarkan pada misteri agungNya. Kita tahu bukannya Ia tak berperan tapi keterbatasan kita untuk tahu seberapa hebat daya peranNya dalam hidup kita selama ini.

Ketika seseorang tak mengakui kerja Tuhan dalam hidupnya, bagiku hal tersebut adalah wujud kesombongan yang paling parah yang pernah dilakukan seseorang. Ia sombong tak hanya terhadap sesamanya tapi terhadap Allahnya sendiri yang menciptakan, memelihara serta mengasihinya.

Sydney, 17 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.