Misa Imlek. Boleh? Tidak boleh? Boleh dengan batasan?

28 Jan 2020 | Kabar Baik

Hari Sabtu, 25 Januari 2020 yang lalu dunia memperingati Tahun Baru Imlek ke-2571. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak Gereja mengangkat perayaan tahun baru tersebut sebagai tema perayaan ekaristi, orang menyebutnya sebagai ?Misa Imlek?.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya juga, dalam berbagai ruang diskusi baik yang terbuka maupun tertutup, di social media maupun di dunia nyata, keabsahan misa ini? ramai dibicarakan.

Bolehkah mengadakan misa imlek?

Bolehkah mengadakan misa imlek? Tidak bolehkah? Kalau boleh harus bagaimana?

Bagiku pribadi, meski aku tidak merayakan Tahun Baru Imlek, perayaan misa imlek tidak menjadi soal. Pandangan rasionalku, Gereja Katolik adalah institusi yang dalam sejarahnya mampu beradaptasi dengan budaya setempat dan mengambil unsur-unsur ?kearifan lokal? selama hal tersebut sesuai dengan ajaran Gereja. 

Perayaan misa di Ganjuran

Di Ganjuran, Yogyakarta, misalnya.?Setiap malam 1 Sura, perayaan ekaristi diadakan menggunakan gamelan, dipimpin pastor yang menggunakan blangkon? (topi tradisional Jawa) dan pakaian jawa. Sebagai orang Jawa tulen, aku dulu waktu masih tinggal di Jogja begitu menikmati perayaan tersebut. Aku merasa tradisiku dihargai oleh Gereja.

Maka, dalam misa Imlek, mengingat jumlah umat yang merayakan pun tidak sedikit, sikap mengadaptasi tradisi tersebut menurutku layak diapresiasi. Kawan-kawan yang merayakan tentu akan merasa dirangkul dan difasilitasi untuk merayakan Imlek di Gereja daripada harus merayakannya di tempat lain menggunakan tata aturan yang lain pula.

Tapi pendapatku tentu bukan pendapat siapa-siapa. Sama seperti kalian, aku hanyalah umat dan Gereja itu milik Tuhan. 

Terkait hal ini, tadi pagi aku berbincang santai via WhatsApp dengan dua orang imam Jesuit. Yang pertama adalah Romo Prof. Dr. BS Mardiatmadja, SJ. Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini berpesan kepadaku bahwa dalam Konsili Vatikan II ada ajaran tentang inkulturasi. Yang diperlukan dalam rangka mengelola pelaksanaan Misa Imlek adalah kecermatan memperhatikan apa yang pokok dan apa yang tambahan.?

?Saya cenderung merumuskan: Perayaan Ekaristi boleh mengintegrasikan unsur-unsur budaya, kecuali “Doa Syukur Agung” dijaga baik-baik,? demikian ungkap Romo Mardi yang kukenal baik sejak aku masih aktif dalam pelayanan di Indonesia dua dekade silam.

Sementara itu, seorang imam Jesuit yang lain yang kuhubungi adalah Romo Thomas Surya Awangga Budiono SJ. Ia adik kelasku di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ketika kutanya kenapa orang ramai mempergunjingkan keberadaan ?misa imlek? reaksi pertamanya justru mempertanyakan, ?Kenapa? Kenapa hal itu dipergunjingkan lagi??

Menurut Romo yang pernah melayani di Gereja Paroki St. Yusuf Ambarawa (Gereja Jago) ini, misa imlek boleh diadakan di Gereja selama ada batasannya. ?Karena memang ada juga oknum yang kebablasan dalam hal (merayakan misa –red) Imlek.?

?Misa Imlek salah kalau orientasinya tidak ke Yesus Kristus. Salah juga kalau menyimpang dari aturan Keuskupan / pimpinan Gereja Katolik setempat.? ujar Romo yang kini sedang menuntut studi ilmu Hukum di Universitas Sugijapranata Semarang ini.

Tapi kenapa sampai sekarang keberadaan misa ini selalu diperdebatkan, masih menurut Romo Surya? adalah karena tidak adanya larangan/aturan jelas soal liturgi dari Pimpinan Gereja. Kenapa marak lagi dipergunjingkan? Karena media sosial. Orang makin bebas berkomentar tanpa harus paham ilmu teologi, liturgi, filsafat Cina,? sosiologi, dan lain-lain.?

Bagaimana menurut kalian?

Sydney, 28 Januari 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.