Mina dan talenta

16 Nov 2017 | Kabar Baik

Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.
(Lukas 19:26)

Kabar Baik hari ini (Lukas 19:11 – 28) bercerita tentang talenta. Mina adalah talenta.

Apakah talenta itu? Bagiku talenta adalah bakat dan kemampuan yang diberikan Tuhan. Setiap dari kita memiliki talenta dan dengan talenta itu kita diminta untuk mengembangkan dan nantinya mempertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Talentaku diantaranya adalah menulis, bernyanyi dan dulu kupikir aku bisa berorganisasi. Hasil dari talenta menulisku adalah yang kalian baca setiap hari di blog ini. Dalam hal musik, setiap dua minggu sekali aku melayani musik dan bernyanyi dalam perayaan ekaristi. Sedangkan berorganisasi? Nah ini yang hendak kurenungkan di sini.

Dulu aku berorganisasi.
Sejak pertengahan dekade silam aku dipercaya menjadi pengurus teras dalam berbagai macam perkumpulan bina iman baik yang skalanya lokal, regional bahkan pernah sekali waktu aku jadi pengurus nasional.

Banyak yang bilang leadership-ku kuat, visiku dalam memimpin jelas, sejelas tahap pelaksanaan.

Tapi semakin hari aku merasa bahwa sebenarnya aku tak terlalu punya bakat/talenta dalam hal organisasi.

Alih-alih kukembangkan bagi sesama dan Tuhan, yang terjadi dengan berorganisasi hal itu jadi bumerang. Waktu kadang tersita dan perhatian keluarga terbengkalai karena terlalu asyik beroganisasi. Belum lagi yang paling menonjol sekaligus menohok adalah kenyataan bahwa kuatnya leadership dan visi yang kuimpikan membuat gesekan yang kadang terasa begitu kuat antara aku dengan anggota tim.

Gesekan itu kadang tak selesai di tataran organisasi saja tapi juga merasuk ke wilayah personal membuatku jadi merasa punya begitu banyak musuh.

Pada awalnya dulu aku bangga karena hadirnya permusuhan menandakan bahwa perubahan yang kubawa sedang terjadi. Tapi semakin hari aku semakin merasa, jika berorganisasi adalah talentaku dan aku mengembangkannya, kenapa buah-buahnya justru permusuhan? Bukankah talenta harusnya dikembangkan menjadi buah baik?

Setelah melalui permenungan sekitar tiga bulan, 2015 silam, aku mengundurkan diri dari organisasi. Aku menyerah dan sadar bahwa berorganisasi bukanlah talentaku. Tapi aku berdamai dengan perasaan dan tak menyesal pernah mencoba berorganisasi karena itu setidaknya adalah usahaku untuk mencoba mengembangkan apa yang kupunya.

Kini aku memilih fokus pada dua talenta lain yaitu menulis dan bernyanyi sembari terus mengharap Tuhan memberikanku pendampingan dalamku mengembangkan talenta-talentaku itu.

Oh ya, bagi yang belum tahu, kalian bisa mendengarkan beberapa lagu gubahanku di antaranya, Bapa Kami ?Ceria?, Salam Maria dan Rama Kawula ‘Sumringah’ (Bapa Kami ‘Ceria’ versi Jawa) di bawah ini:

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.