
Kepada siapa kita harus berkaca?
Kepada cermin?
Tidak bosankah kita berkaca pada diri sendiri sementara diri sebenarnya ingin berkaca dari yang lain sekali tempo?
Kepada sesama manusia?
Tidak khawatirkah kita pada justru timbulnya rasa membanding-bandingkan dan pada akhirnya malah menggulirkan kita pada lembah iri, dengki, pengidolaan yang semu apalagi minder?
Kepada Tuhan?
Hmmm are you OK?????
Pagi tadi aku bertemu seekor merpati berkaki satu yang sedang mengais-ngais remah makanan di depan Queen Victoria Building. Entah bagaimana ia bisa hanya memiliki sebelah kaki. Barangkali kecelakaan atau mungkin Tuhan memang hanya menaruh satu kaki saja semenjak ia dilahirkan…
Hatiku berpijar melihat kemuliaan merpati itu dalam menerima kenyataan hidup.
Ia tak pernah mengeluh. Kalaupun mengeluh Tuhan tak memberinya suara yang sanggup kumengerti bahasanya, sayangnya.
Aku terpikat pada caranya tetap tegar dan bersemangat menyambut hari yang masih pagi itu.
Mengatur keseimbangan tubuhnya dengan sebelah kaki untuk mematuk lalu tegap kembali, mematuk dan tegap lagi kemudian dengan sekuat tenaga melompat, berpindah ke tempat lain sambil berharap mendapatkan remah-remah yang lebih baik. Selepas kenyang dengan satu kayuhan ia pun terbang untuk kembali ke rumah.
Seperti ia tak menyempatkan diri untuk mengasihaninya sendiri dan tak pula melonggarkan waktu padaku untuk lebih lama berkaca darinya.
Ia terlalu istimewa sepagi itu…
Tinggalkan Balasan