Meresapi sukacita Natal melalui pembunuhan Stefanus yang mengerikan

26 Des 2017 | Kabar Baik

Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selama
(Matius 10:22)

Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Stefanus, orang pertama yang dibunuh karena imannya kepada Kristus.

Rasanya kontras betul ya! Kemarin bersuka cita memperingati Natal kenapa sekarang Gereja Katolik tiba-tiba bicara tentang kedukaan, tentang ?kengerian? dalam mempertahankan iman? Apa yang hendak disampaikan? Kenapa dua hal yang beda kutub itu ditempatkan secara berurutan?

Bagiku, kedua kisah yang berbeda, kemarin dan hari ini, menyampaikan pesan kuat yang sama bahwa dalam beriman itu diperlukan kesungguhan dan pengorbanan.

Tapi apa yang dikorbankan dalam Natal? Bukankah Natal itu identik dengan kemeriahan hura-hura pesta?

Tentu tidak! Kalaupun kita menganggapnya demikian, berhati-hatilah bahwa kelemahan ada di pihak kita karena kita terlalu mudah menerjemahkan sukacita sebagai hal yang berarti hura-hura nan fana.

Maria yang didampingi Yosef ketika melahirkan Yesus, mereka tidak berhura-hura meski tetap bersuka cita. Mereka harus melupakan mimpinya untuk bisa menikmati kehidupan pernikahan layaknya pasangan lainnya. Mereka harus mengungsi saat Maria hamil besar karena sensus yang diadakan Kaisar Agustus dan mengharuskan mereka untuk pergi ke Betlehem. Dan yang paling mencolok, jika Natal itu identik dengan hura-hura kenapa Yesus dilahirkan di kandang domba?

Di sisi lain, dibalik segala kengerian yang dialami Stefanus sebelum kematiannya, ia mendapatkan karunia surga yang membahagiakan. Meski nyawa melayang tapi keabadian nan damai didapatkan.

Intinya, seperti kutulis di atas adalah pengorbanan yang sungguh-sungguh. Maria dan Yosef berkorban. Stefanus juga berkorban bahkan Bayi yang dilahirkan kemarin dalam kemegahan Natal, bukankah akhirnya juga harus mati tergantung di salib mengorbankan diri demi kita semua?

Kenangan kita akan Stefanus tepat sehari setelah Natal semoga justru semakin membuat kita memahami dan menghargai Natal sebagai sebuah tonggak harapan yang terbesar yang membuat kita mau mengorbankan apapun demiNya termasuk nyawa.

Sydney, 26 Desember 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.