Merdeka selamanya, Indonesia!

21 Agu 2017 | Cetusan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan ekaristi berbahasa Indonesia berujub peringatan kemerdekaan Republik Indonesia kembali digelar oleh CIC (Catholic Indonesian Community) di Gereja St Joseph Newtown hari minggu, 20 Agustus 2017 kemarin. Aku bersama kawan-kawan St Joseph’s Choir Group ?bernyanyi di sana.

Karena acaranya istimewa, kalau biasanya kami berlatih hanya sekali sehari sebelum perayaan, kali ini kami berlatih tiga kali sejak minggu pertama bulan Agustus silam. Kami juga mengundang umat untuk bergabung bernyanyi tak seperti biasanya yang hanya diikuti anggota-anggota tetap saja.

Ada enam lagu tambahan yang kami pelajari untuk acara tersebut. Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, Syukur, Indonesia Pusaka, Tanah Air dan Hari Merdeka yang semuanya dinyanyikan menggunakan dinamika suara sopran, tenor, alto dan bass.

Sebelum berangkat, berfoto dulu dengan Odilia dan Elodia

Di hari acara kami sepakat mengenakan batik.

Acara mulai jam 11:30 waktu setempat tapi tak seperti biasanya, rombongan pastor didahului dua orang yang membawa masing-masing bendera Australia dan Indonesia, berdampingan.

Kenapa Bendera Australia? Karena kami hidup di negara kangguru ini, sehingga hadirnya dua bendera menjadi simbol persahabatan antar dua negara yang tampak pada setiap insan yang tetap Indonesia meski tinggal di Australia dan hidup mengikuti serta menghormati aturan hukum negara ini.

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan disusul dengan mengheningkan cipta dipimpin langsung oleh pastor. Dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi yang menandai usainya imbuhan perayaan kemerdekaan Republik yang ke-72 tersebut.

Acara lantas berjalan seperti biasa mengikuti aturan ritus Romawi meski aransemen lagu-lagu yang kami bawakan pada sekujur lagu-lagu bernuansa kedaerahan Indonesia. Ada yang ‘bernada’ Minang, Jawa hingga Batak.

Latihan terakhir, Sabtu 19 Agustus 2017

Saat pembagian komuni, kami menyanyikan lagi lagu-lagu perjuangan sambil menunggu antrian umat yang maju ke depan diselesaikan. Indonesia Pusaka dilanjutkan dengan Tanah Air serta Syukur lalu ditutup dengan Hari Merdeka sebagai lagi penutup perayaan sepanjang satu setengah jam itu.

Usai perayaan digelar, kami mengadakan lomba ala 17-an dan makan siang secara cuma-cuma sebagai wujud ungkapan syukur kemerdekaan.

Barangkali ada yang bertanya, masihkah relevan untuk merayakan kemerdekaan seperti itu di tanah orang bahkan saat sebagian umat yang hadir sudah bukan warga negara indonesia lagi?

Anggota koor

Jawabannya tentu masih. Bagi yang masih berkewarganegaraan Indonesia sepertiku, merayakan kemerdekaan adalah mengkatualisasikan rasa nasionalisme dan patriotisme yang meski telah tinggal di tanah orang, tidak berarti padam.

Sedangkan bagi yang sudah berkewarganegaraan asing, merayakan kemerdekaan Indonesia bukan berarti merayakan kemerdekaan mantan negara tapi lebih sebagai sebuah cara menghormati Indonesia sekaligus bernostalgia terhadap negara yang pernah didiami, tempat dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan meski kemungkinan besar tidak akan jadi tempat untuk menutup mata selamanya.

Sayangnya selepas misa aku tak bisa mengikuti acara perlombaan 17-an karena tempat begitu penuh dan aku memilih untuk pergi bersama keluarga dan kawan-kawan ke restaurant yang lebih longgar dan terlalu ingar-bingar.

Tapi sempat aku mengantri toilet yang letaknya di dekat hall tempat keriaan dilangsungkan dan seorang kawan, bapak-bapak berusia 65-an tahun, menghampiriku dan berujar, “Donny… Om tadi sampai nangis pas kalian nyanyi Tanah Air dan Syukur!”

“Oh, kenapa Om?”
“Terharu!” Suaranya terbata-bata… “Jadi ingat tanah air! Meski Om ini sudah jadi warga Australia dan nggak pengen balik tapi sampai sekarang masih ngikutin berita-berita Indonesia!”

Titik haru orang memang berbeda-beda. Kalau Si Om terharu di situ, haruku terbit justru saat menyaksikan anak-anak kecil (termasuk kedua anakku, Odilia dan Elodia) yang tergabung dalam children ministry menyanyikan lagu Tanah Air dengan melambai-lambaikan bendera Indonesia di penghujung perayaan tadi.

Anak-anak itu bukan lagi anak Indonesia, tak hanya karena kewarganegaraannya tapi juga budaya dan bahasanya. Jika tak disuruh gurunya mungkin juga mereka tak melakukan performa tersebut, atau jika hal itu terjadi beberapa tahun ke depan saat mereka membesar, mungkin juga tidak mau lagi, untuk apa?

Tapi justru dari ‘kesementaraan’ itu, dari apa yang bisa kulihat sekarang, dari apa yang kupikirkan terjadi ke depan, haruku mengemuka. Ada kobaran di dada yang terus menguat untuk terus mencintai Tanah Air dan mengemukaan rasa cinta itu kepada siapapun yang kutemui termasuk anak-anakku selama mungkin, sebisa mungkin dan sebesar mungkin…

Merdeka? Merdeka selamanya, Indonesia!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.