Merawat karunia

20 Des 2017 | Kabar Baik

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)

Hari ini kita belajar dari Maria tentang bagaimana menyikapi karunia Allah.

Malaikat Gabriel mendatanginya di Nazareth. Ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Maria terkejut. ?Karunia apa?? begitu barangkali pikirnya. Ia lantas berpikir dalam-dalam meski tak menemui dasar jawaban.

Gabriel tahu Maria ketakutan. Ia lantas menjelaskan karunia itu adalah bahwa Maria akan mengandung Yesus.

Maria, karena ia adalah manusia, menggunakan akal dan logika untuk menakar kata-kata Gabriel itu. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” ujarnya.

Gabriel memaklumi kemanusiaan Maria. Ia menjelaskan bahwa Roh Kuduslah yang membuahi dan akan menaunginya.

Aku tak tahu apakah Maria lantas jadi benar-benar tahu dan mengerti apa yang dijelaskan Gabriel tapi bagiku itu tidak lebih penting daripada sikap keutamaannya yang pasrah dengan berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Sikap Maria harusnya menjadi sikap kita juga karena iman kita sama dengannya.?Takut, tak yakin serta khawatir terhadap karunia itu wajar karena kita manusia yang kadang hanya mengandalkan akal dan logika.

Tapi semua itu bisa diredam dengan penyadaran diri karena kita ini hamba Tuhan. Penyadaran diri yang membawa kepasrahan. Pasrah untuk menurut perkataan Tuhan, pasrah untuk menjalankan sebaik-baiknya karunia yang diberikan.

Ada banyak cara orang memandang karunia tapi supaya singkat, hari ini kita bahas dua saja.

Pertama adalah tentang bagaimana karunia tidak dihargai dan tidak diindahkan.

Ada seorang berdoa tanpa henti minta mobil. Tapi uang yang didapat dari kerjanya hanya mampu untuk dibelikan sebuah sepeda motor, bekas pula.

Rejeki adalah karunia dan orang itu marah betul kepada Tuhan. Ia mengambil langkah yang tak elok, mencuri uang kas kantor dan hasilnya dipakai untuk membeli mobil. Bagiku orang ini adalah contoh orang yang tak bisa menerima karunia dari Allah. Menggunakan akal dan logika, Ia merasa tak diperlakukan secara adil karena telah bekerja keras tapi hanya dapat motor bekas. Ia berpaling pada ?karunia duniawi? yang menjanjikan kenikmatan meski sesaat.

Kedua adalah tentang bagaimana karunia pada awalnya dilupakan tapi setelah sadar, ia lalu memanfaatkan sebaik-baiknya.

Untuk yang kedua ini, aku mengambil contoh kawanku sendiri. Pernah kuceritakan beberapa kali, ia divonis kanker. Dokter berkata hidupnya tinggal satu tahun lagi.

Ia sempat terpuruk dan dalam keterpurukan itu, kawanku melakukan hal positif. Ia mencoba menggali ke belakang adalah karunia Tuhan yang belum ia akui dan manfaatkan secara maksimal selama ini?

Saat masih sehat, ia terlampau sibuk bekerja. Keluarga pun diacuhkan, sahabat tak dianggap dan pelayanan di Gereja dilupakan begitu saja. Padahal, bukankah semua itu adalah karunia dariNya?

Berkejaran dengan waktu hidup yang kian menyempit, ia memutuskan untuk fokus pada keluarga, menghubungi sahabat-sahabat dan makin aktif dalam pelayanan meski keadaan kesehatan kian memprihatinkan.

Kawanku tadi akhirnya meninggal setelah berjuang melawan kanker. Tapi bagiku ia tak mati sia-sia. Ia, dalam waktu singkat di akhir hidupnya telah melakukan hal yang terbaik, merawat karunia dengan sebaik-baiknya hingga seakhir-akhirnya.

Bagaimana caramu memandang karunia di dalam hidup? Oh, atau jangan-jangan kamu merasa tak dikaruniai sama sekali? Serius? Kalau begitu, tutuplah jendela artikel ini, pejamkan matamu lalu hirup nafas dalam-dalam dan keluarkan. Kamu masih bisa bernafas adalah tanda bahwa kamu masih diberi karunia olehNya?

Sydney, 20 Desember 2017

Jangan lupa mengisi survey Renungan Kabar Baik 2017 di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.