Merawat arwah korban aborsi. Digimanain? Untuk apa?

19 Jan 2018 | Cetusan

Aku bersyukur kepada Tuhan, beberapa kali dipercaya olehNya untuk mendampingi mereka yang mengaborsi kandungan dengan berbagai alasan.

Aborsi menurut Gereja Katolik adalah sebuah dosa dan pelanggaran berat. Tak hanya pelaku tapi juga pembantu yang membuat proses aborsi terlaksana pun dikenai ekskomunikasi langsung (latae sententiae) menurut Kitab Hukum Kanonik 1398.?Hal yang selalu kusarankan pada mereka adalah meminta sakramen pertobatan pada uskup diosesan atau pastor yang diberi tugas khusus (delegasi) untuk membebaskan mereka dari dosa mematikan itu.

Tak selesai di situ, aku juga menganjurkan mereka untuk ?merawat? arwah anak mereka. Kenapa? Karena mereka tak sempat dibaptis. Selain itu, tak jarang para pelaku aborsi kerap mendapati pengalaman ?ditemui? arwah anak melalui mimpi.

Berdasarkan pengakuan mereka, arwah tersebut meminta jawab kenapa ia harus dibunuh dan dikorbankan?

Mungkin ini bukan catatan yang bisa kalian anggap logis, tapi percayalah bahwa melihat wajah-wajah resah para pelaku aborsi yang menceritakan, timbul rasa kasihan tak hanya terhadap mereka tapi juga para arwah tersebut.

Lalu apa saja yang kusarankan?

#1 Beri nama anak

Kebanyakan korban aborsi ?dibunuh? dalam usia kandungan yang masih muda. Hal ini membuat mereka kadang memilih tak memberi nama anak itu karena belum cukup matang untuk ?dianggap manusia.??Padahal dalam Iman Katolik, kehidupan manusia itu dimulai bahkan sejak masa konsepsi (pembuahan). Jadi mau muda atau tua, janin adalah tetap manusia hidup.

Untuk itu aku biasanya menyarankan untuk memberi nama anak itu. Nama bisa siapa saja tapi aku menganjurkan memilih nama santa-santo atau malaikat agung meski mereka tidak pernah dibaptis.?Kenapa memberi nama penting karena hal ini adalah wujud bahwa kita menghargai arwah korban aborsi sebagai sosok manusia yang pernah hidup.

#2 Bawakan dalam ujub perayaan ekaristi

Setelah diberi nama, bawalah nama anak itu dalam ujub perayaan ekaristi. Tak perlu meminta tolong imam untuk mengadakan ekaristi khusus, cukup menitipkan nama anak dalam form/amplop ujub perayaan ekaristi mingguan untuk dibacakan.

#3 Mendoakan secara rutin

Membawa nama anak dalam doa-doa harian tentu juga amat bagus. Aku sendiri yang dalam doa harian selalu membawa nama orang-orang terdekat yang telah meninggal (kedua orang tua, papa mertua, tante, budhe dan beberapa kawan yang telah mendahului) kadang menyelipkan nama-nama korban aborsi yang kukenal untuk turut kudoakan.

Lebih mantap lagi kalau kita bawa nama itu dalam rosario harian kita.

#4 Melengkapi dengan tradisi dan budaya masing-masing? Kenapa tidak?!

Ada beberapa kawan yang bertanya, bolehkah syarat-syarat di atas digabung dengan tradisi masing-masing dari mereka (para pelaku aborsi) untuk ?menyempurnakan? arwah anak-anak korban aborsi?

Kenapa tidak? Bukankah kita tumbuh dalam tradisi yang berbeda-beda jadi wajar saja kalau doa-doa di atas diperkuat dengan sentuhan tradisi kita sendiri?

Ada kawan yang secara tradisi percaya bahwa ia perlu mengirimkan barang-barang yang dibutuhkan arwah di alam sana untuk hidup (misalnya baju, mainan, alat tulis) yang dilarung ataupun dibakar? Ya silakan. Ada pula yang memberi sesaji pada hari pasaran (hari perhitungan Jawa) saat aborsi dilakukan? Boleh juga!

Biasanya, setelah hal-hal di atas dilakukan, mereka tak pernah lagi ?ditemui? arwah korban aborsi di dalam mimpi. Sesekali ada tapi tak lagi mengejar-ngejar minta pengakuan, ?tampil? dengan? wajah serta? mood yang lebih tenang dan baik.

Tulisan ini hanyalah sharing pengalaman yang barangkali tak bisa dipertanggungjawabkan secara doktrin Gereja. Silakan dijadikan sebagai referensi saja. Boleh dipakai, boleh tidak.

Mengalami hal yang sama dengan yang kutuliskan di atas dan merasa perlu untuk mengajakku bicara? Klik link ini dan isi formulirnya. Aku akan membantu apa yang bisa kubantu sebaik-baiknya.

Update:

Dapat tambahan informasi dari Sdri. Suliani Wiguno yang mengirimkan email terkait dengan ‘Rosario Pecinta Kehidupan‘ yang tak hanya mendoakan anak-anak korban aborsi tapi juga mereka yang menjadi korban euthanasia serta praktek-praktek ‘anti-kehidupan’ lainnya.

Silakan dibaca di bawah ini brosurnya.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.