Menyikapi ketidakadilan dalam menjalankan beribadah dengan belajar dari anak kecil

10 Feb 2020 | Kabar Baik

Masih adanya tekanan terhadap kebebasan beribadah dan beragama adalah satu hal yang amat sangat disayangkan. Negara harusnya menjadi pelindung bagi semua warga negara untuk mendapatkan haknya. Tapi kalau cuma prihatin dan menyayangkan, hidup ini toh tetap terus berjalan, kan? Sebagai umat Tuhan kita harus menanggapi dengan serius dan hati-hati. Tiba-tiba aku teringat apa yang pernah dikatakan Tuhan kita Yesus Kristus, ?Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.? (lih. Mat 18:4) Menyikapi tekanan dan sikap tidak adil adalah dengan bersikap iman seperti halnya yang dimiliki anak kecil.

Kepolosan anak kecil

Anak kecil itu polos. Ia tidak mengenal rasa takut dan malu, di satu sisi ia percaya akan selalu disayang oleh kedua orang tuanya.

Pernah sedang makan malam bersama keluarga besar tiba-tiba ada salah satu keponakanku yang masih kecil berteriak, ?Bu! E?ek!? Kami sontak tertawa dan menganggap hal itu adalah sebuah kelucuan. Tapi pernahkah kamu membayangkan kalau kita yang sudah dewasa dan sehat lalu tiba-tiba saat sedang asyiknya santap malam berteriak, ?Bu! E?ek!? Alih-alih dianggap lucu, yang ada malah dimarahi dan dianggap aneh.

Memiliki sikap iman seperti anak kecil yang polos dalam konteks perlakuan tidak adil dalam kita menjalankan ibadah adalah penting. Kita diajak terus menyuarakan ketidakadilan kepada pemerintah seolah kita ini anak kecil yang tidak takut dan sekaligus percaya bahwa pemerintah sebagai orang tua akan mendengarkan dan meluluskan permintaan kita!

Rasa takut yang membungkam mulut kita hanya akan membuat mereka yang menekan makin menggila dan merasa kita memang layak ditekan. Rasa takut akan membuat pemerintah merasa kita baik-baik saja dan seolah tidak sedang ditekan.

Ketulusan anak kecil

Anak kecil itu juga tulus. Ia belum kenal dalih sehingga apa yang disampaikannya adalah murni dari hatinya.

Hal paling menyenangkan ketika pulang kerja di sore hari adalah sambutan keluarga termasuk dua anakku. Waktu mereka masih lebih kecil dari sekarang, teriakan, ?Papa?. Papa?? dan cara mereka berebut untuk minta digendong membuat rasa letihku hilang seketika! Aku disambut karena mereka begitu senang ayahnya pulang kerja.

Tapi pernahkah kalian membayangkan ketika kita yang sudah dewasa bersikap seperti itu? Ketika ayah pulang kerja lalu kita menyambut dan mengejarnya hingga ke depan pintu, ayah mungkin akan tetap senang tapi satu alis barangkali terangkat dan menggumam, ?Ada yang aneh! Kenapa dia tak bersikap seperti biasanya? Jangan-jangan dia sedang hendak minta sesuatu dariku??

Perjuangan tanpa dendam

Perjuangan untuk mendapatkan keadilan hak beribadah adalah perjuangan yang tulus dan lahir dari dalam hati. Jangan sampai perjuangan kita lahir karena dalih seperti dendam, misalnya dendam politik. Karena jagoan kita kalah dalam Pemilu/Pilkada lalu ketika ada ketidakadilan yang terjadi kita berteriak lantang bukan supaya ketidakadilan dilenyapkan tapi supaya dunia tahu bahwa pemerintah memang tidak layak untuk menang. Ini adalah contoh dalih yang salah dan tidak tulus!

Perjuangan yang tulus juga tak bisa melahirkan dendam. Misalnya karena kita dihimpit oleh oknum yang mengatasnamakan agama tertentu, kita tidak boleh membalas perlakuan mereka yang ?kebetulan? seagama dengan para oknum tersebut. Karena kalau demikian, apa bedanya kita dengan mereka? Karena kalau demikian kita bukannya bersikap iman seperti anak kecil melainkan bersikap kekanak-kanakan.

Terus berjuang!

Sydney, 10 Februari 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.