Beberapa waktu yang lalu, seorang teman kantorku bertanya tentang apa resepku untuk selalu giat dalam bekerja.
Tak lama kemudian, pertanyaan itu kujawab dengan pertanyaan balik baginya, “Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tampak giat bekerja?” Namun pertanyaanku berlalu tanpa jawaban dan ia tetap memaksa untuk meminta jawaban dariku tanpa aku bisa mengelaknya.
Aku lantas berpikir mencari jawaban terbaik yang kujanjikan akan kuberikan saat jeda morning tea keesokan harinya.
Di dalam bis sepulang kantor, di atas closet malam harinya ataupun saat-saat sunyi menjelang tidur aku terus berusaha mencari jawaban.
Sejatinya, jawaban itu sangatlah mudah, hanyalah dua hal saja yaitu Tuhan dan keluarga.
Aku bekerja atas anugerah Tuhan; giat atau nggak giat kerja, aku tetap harus bekerja demi keluarga yang kunafkahi.
Simple, bukan?
Tapi permasalahannya sekarang adalah, temanku sipenanya tadi, ia datang dari golongan yang sepertinya takkan mau menerima dua alasan yang terdengar absurd itu. Oleh karenanya, tantanganku adalah bagaimana dalam waktu yang singkat, aku mampu membingkai, mengemas dan menghadirkan dua alasan tadi ke dalam satu hal yang cukup rasional, tidak absurd dan sebaliknya lumayan western! kepadanya.
Malam itu terlewati…
Keesokan paginya, dengan kepala yang belum sepenuhnya terisi jawaban yang sebenarnya,
sambil menuang teh ke dalam gelas, ia pun bertanya, “Hey Donny, have you got an answer?”
Terdiam sejenak, aku lantas menjawab sekenanya.
“Gampang! Kuncinya ada di hari Senin dan Jumat!
Ketika Senin tiba, berpikirlah bahwa kamu mengejar Jumat sebaiknya dan secepatnya dengan penghasilan sebagus-bagusnya.
Ketika Jumat tiba, matikan handphone kamu, lupakan masalah kerjaanmu, bersuka rialah! Have fun go mad sebisa mungkin sebelum senin tiba dengan uang yang telah kamu dapatkan seminggu sebelumnya. Begitu terus! Berulang-ulang!”
Seketika tak ada jawaban darinya.
Ia manggut-manggut seperti sedang mencerna kata-kataku perlahan-lahan lalu kemudian berseloroh, “Aha.. gotcha!”
Pagi itu ia begitu bergembira dan berkali-kali ia ucapkan terimakasih atas masukan yang menurutnya sangat berarti itu.
Akan tetapi, alih-alih merasakan senang serta bangga karena bisa menghibur dan memberi jawaban yang menginspirasi baginya, aku malah bersedih karenanya. Aku bersedih karena meski terdengar jawabanku tadi sangatlah masuk akal dan membahagiakan namun pada kenyataannya aku telah gagal membingkai dan mengemas Tuhan dan keluarga ke dalam alasan yang atas nama modernitas dan western dianggap baik dan layak. Aku malah lebih tampak sebagai orang yang menyembunyikan Tuhan dan keluarga seperti layaknya penakut dan pecundang.
Aku berlalu ke arah meja sambil membawa secangkir teh hijau tanpa gula kesukaanku.
Tapi sampai setengah jam setelah kuseduh tak jua kunikmati seperti biasanya.
Aku takut, pada mood-mood seperti itu, rasa sepat dan tawar teh yang biasanya pas akan terasa lebih berat dan kelam…
Tinggalkan Balasan