Menyangkal Tuhan

9 Jan 2019 | Kabar Baik

Pesan Yesus hari ini begitu kuat, ?Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.” (lih. Lukas 12:9)

Bagaimana sih menyangkal Yesus?
Aku tertarik merenungi penyangkalan terhadap Yesus dalam dua sisi yaitu di depan sesama dan di depan diri sendiri. Baik sesama maupun diri sendiri, keduanya adalah manusia, bukan? Mari kita kupas satu per satu.

Penyangkalan di depan sesama

Penyangkalan tipe ini jelas dan gamblang bisa kita dapatkan dari diri Petrus. Murid utama Kristus itu menyangkal Gurunya hingga tiga kali di depan orang-orang Yahudi sebelum matahari terbit pada Jumat Agung. (Matius 26:69-75).  Petrus tidak mengakui bahwa dirinya adalah murid Yesus bahkan ia mengaku tak kenal Dia.

Menyangkal Yesus di depan sesama biasanya terjadi saat kita terjepit dan masuk dalam bagian minoritas. Petrus pagi itu juga terjepit dan berada di tengah-tengah orang Yahudi yang belum menerima Yesus.

Dalam hidup sehari-hari pun demikian. Tantangan menyangkal Yesus begitu kencang saat diri kita terjepit dan minoritas. 

Ketika ditanya, ?Agamamu apa???mMuter-muter jawabnya. Ditanya mana KTP-nya, jawab ketinggalan hanya karena takut kebaca kolom agama-nya lalu ?diapa-apakan? karena iman kita yang berbeda.

Tapi itulah tantangan kita, mau tak mau harus mau kecuali kamu mau tak diakui dan disangkal oleh Yesus di hadapan malaikat Allah nantinya.

Penyangkalan di depan diri sendiri

Penyangkalan tipe ini jelas dan gamblang juga terlihat dalam diri orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka, saat ?zaman Yesus? adalah orang-orang berkuasa dan memimpin mayoritas orang.

Lalu dimana bentuk penyangkalannya?
Di depan orang-orang mereka mengaku beriman. Berdoa. Jago mengupas ayat-ayat Kitab Taurat. Tapi di belakang, mereka punya intensi individu, punya nafsu dan ego untuk kepentingan diri sendiri termasuk menggunakan agama yang mereka kuasai. Itulah bentuk penyangkalan terhadap diri sendiri.

Pada masa modern, menurutku contoh-contoh terhadap penyangkalan di depan diri sendiri tak beranjak dari bentuk-bentuk lama di atas. Daripada tunjuk hidung, aku hendak memakai diriku sendiri saja sebagai contoh orang yang sering menyangkal terhadap diri sendiri.

Di mata para pembaca tulisan-tulisanku, kebanyakan mereka menganggapku adalah orang yang religius! Tiap hari menulis renungan Kabar Baik, kata-katanya di media sosial begitu tertata dan rapi.

Padahal?
Aku adalah manusia biasa yang kadang lupa atau pura-pura lupa bahwa setiap hari aku menuliskan renungan-renungan kebaikan. Bahkan saat hendak berbuat dosa akupun sempat bertanya pada diri sendiri, ?Eh, tapi kamu kemarin nulis soal ini lho, masa kamu masih mau terus melanjutkan dosa ini??

Itulah sebabnya ketika aku mendapat pujian dari para pembaca baik secara publik ataupun personal, balasanku selalu, ?Terima kasih! Tolong doakan saya supaya kuat terus ya!?

Permintaan doa itu bukan basa-basi melainkan tulus. Aku perlu kekuatan untuk tetap menulis dan tetap berjuang menjadi orang benar, orang yang tak menyangkal kata-kata dan tulisan-tulisanku? di depan diri sendiri supaya kelak aku tak disangkal pula oleh Yesus di hadapan malaikat Allah.

Jadi, maukah kalian terus mendoakanku?

Sydney, 9 Januari 2019

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Semoga engkau tetap kuat dan selalu di berkati tuhan yesus🙏😇

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.