Menulis renungan Kabar Baik, memilih jalur sunyi

25 Apr 2018 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Hari Santo Markus, penginjil. Sama seperti halnya Lukas, Markus bukanlah dari kalangan rasul Yesus. Ia orang yang biasa saja meski saat muda ia memang pernah bertemu Yesus tapi tak pernah menjadi muridNya.

Namun demikian, Markus tetap menulis. Ia menjalankan apa yang diminta Yesus sesaat sebelum naik ke surga, pergi dan memberitakan Injil. (Markus 16:15)

Aku merenungkan Markus dan kegigihannya dalam menulis Kabar Baik serta mengaktualisasikan hal tersebut ke dalam zaman ini, zaman now.

Sebuah kabar atau informasi sekarang ini menjadi begitu penting.

Namun selayaknya makanan, kadang menguatkan tapi ada juga yang melemahkan. Ada yang bergizi tinggi tapi tak sedikit yang berisi racun mematikan.

Terlebih kalau sudah dikaitkan dengan kepentingan politik praktis, hoaks dan ujaran kebencian tumbuh bak cendawan di musim hujan. Kabar dan informasi dibikin seolah untuk saling dihadap-hadapkan, dijadikan peluru untuk membenci, menelanjangi dan menghabisi lawan.

Hymne kerja pun seolah bergulir sebagai: tulis fitnah dan rekayasa kenyataan, lalu dipublikasikan untuk kemudian diviralkan! Gonjang-ganjing melanda social media dan kanal-kanal komunikasi lainnya.

Norma kebaikan apalagi kebenaran sudah jauh ditinggalkan di belakang karena nurani terbungkus kepentingan-kepentingan sesaat: popularitas, kekayaan dan jabatan.

Mereka tak memikirkan imbasnya bagi para pembaca. Rasa benci antar sesama dan rasa keterpisahan satu dari lainnya hanya karena identitas suku, agama, ras dan antar-golongan terpupuk hanya karena kabar dan informasi.

Hingga kapan hal ini berakhir? Konon hingga selesai Pilpres 2019 tahun depan! Tapi kenapa harus menunggu lama? Kenapa tak sekarang?

Sebagai seorang blogger yang menulis sejak 2002, jika mau melacurkan diri aku barangkali bisa saja menerima pekerjaan untuk menjadi penulis hoaks dan ujaran kebencian seperti itu. Upahnya cukup menggiurkan.

Tapi sejak sekitar tiga tahun yang lalu, aku sudah menegaskan diri untuk menempuh jalan sunyi. Aku menuliskan renungan Kabar Baik yang kuterbitkan setiap hari.

Kukatakan jalan sunyi karena kenyataannya memang demikian. Jumlah pembaca setia jauh berkurang, jumlah kunjungan otomatis merosot tajam dan namaku tak populer lagi hehehe?

Belum lagi hujatan yang mengolok-olokku sebagai orang yang ingin dikesankan religius dan sok suci meski aku juga merasa diberkati dengan banyak orang yang merasa mendapatkan ?sesuatu? setelah membaca renungan-renunganku.

Hal ini memang tak mudah. Tantangan dan godaan untuk menulis hal-hal lain yang lebih gemerlap kerap datang. Namun melalui Roh Kudus yang tak pernah berhenti membimbing dan mengajariku, aku berusaha untuk selalu mengembalikan talenta menulisku yang telah diberikan Tuhan ini untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih benar.

Menulis kujadikan ajang untuk memuliakan namaNya dan memperkenalkan kasihNya bagi sesama, siapapun dia, apapun agama dan keyakinannya.

Menulis kukembalikan hakikatnya bukan untuk menyenangkan dan merebut simpati publik. Menulis kujadikan sebagai sarana merenungiNya dan bagaimana aku sanggup mengaktualisasikanNya dalam segala hal yang kutemui dalam hidupku yang amat terberkati ini.

Dalam permenungan di Hari Santo Markus ini, aku memohon doa kalian semua semoga aku tetap diteguhkan untuk menulis lebih banyak lagi tentang hal-hal baik melalui renungan Kabar Baik ini.

Sydney, 25 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.