Mentalitas batu sandungan

10 Sep 2018 | Kabar Baik

Jika harus merangkum apa yang dikatakan Matius dalam Kabar Baik hari ini, berikut adalah poin-poinnya:

  1. Yesus meminta para murid untuk menuruti dan menjalankan segala sesuatu yang para ahli Taurat ajarkan. (lih. Mat 23:3)
  2. Alasan permintaan Yesus karena para ahli Taurat telah ?menduduki? kursi Musa (lih. Mat 23:2)
  3. Meski demikian, Ia melarang para murid untuk mengikuti perbuatan para ahli Taurat karena apa yang diperbuat tidak sama dan tidak sejalan dengan yang diajarkan (lih. Mat 23:3)

Pertanyaannya sekarang, mudahkah untuk bersikap seperti para murid?

Tentu tidak!
?Dibutuhkan iman yang teguh dan usaha tak mudah untuk bersikap seperti yang diminta. Ibarat kita bersepeda, para ahli Taurat itu adalah batu sandungan. Batu yang mungkin tak besar tapi kalau ban sepeda kita terantuknya, keseimbangan kita hilang dan bisa mengakibatkan celaka karena limbung lalu terjatuh.

Pernahkah kita berada di posisi seperti para ahli Taurat itu? Menjadi batu sandungan bagi sesama?

Kita mungkin bukan ahli Taurat, bukan pemuka agama. Tapi, status sebagai makhluk beragama (homo religiosus) pun mendatangkan tantangan yang tak mudah. Kita tak hanya ditantang untuk mengimani Tuhan terus-menerus, kita juga ditantang untuk jadi panutan bagi sekeliling kita, tentang bagaimana seorang yang mengaku kenal Tuhan itu bersikap.

Dulu pernah suatu malam aku memberi renungan dalam sebuah persekutuan doa muda-mudi di Jogja. Acara renungan berjalan begitu baik, banyak yang ?tercerahkan?.?

Sepulang acara, seperti biasa aku diajak makan oleh mereka yang hadir. Sesudahnya, aku pamit karena harus berjumpa dengan kawanku di sebuah bar penjual minuman keras yang punya nama waktu itu.

Dua jam berada di bar sana, aku pamit pulang. Tidak mabuk tapi asupan alkohol cukup menggontaikan langkah.

Saat keluar hendak menuju tempat parkir sepeda motor, tiba-tiba di trotoar, aku disapa sepasang pemuda-pemudi,

?Halo Koh Donny??
Ketika menoleh, betapa kagetnya aku karena mereka adalah umat yang tadi hadir dalam acara persekutuan doa!

Akupun salah tingkah dan hanya menyapa ?Hai? lalu berlalu cepat.?

Kejadian itu menjadi titik monumental bagiku.

Aku tak tahu bagaimana pandangan mereka berdua terhadapku setelah melihatku di tempat itu dan seperti itu. Barangkali mereka kecewa? Bisa saja!

Menuruti rasa egois, aku mungkin bisa berkilah bahwa itu urusan mereka! Aku punya hak untuk melakukan apapun termasuk memberi renungan pengajaran dan minum serta mabuk-mabukan. Aku tak bisa dianggap bersalah karena aku juga tak meminta supaya mereka memiliki pandangan yang super baik terhadapku.

Tapi, inilah mentalitas batu sandungan yang pernah kumiliki dulu! Sebuah batu sandungan mungkin bisa berkilah ketika ada seorang penunggang sepeda terkapar karena menabraknya. ?Jalan kan lebar, salah sendiri gak cermat dan menabrakku!?

Tapi justru karena kita ini bukan batu, maka kita tak boleh jadi penyandung. Tidak salah itu tidak berarti bahwa kita ini tidak bertanggung jawab!

Terutama ketika sadar bahwa yang kita representasikan itu bukanlah diri sendiri melainkan Tuhan yang kusembah, Tuhan yang kubicarakan dan kupromosikan kemana-mana!

Kegagalan mereka untuk memiliki kesan baik terhadapku itu bukan persoalan besar, tapi kegagalan mereka untuk memiliki kesan baik terhadap Tuhan hanya gara-gara aku, takutnya aku yang jadi punya? dosa besar!

Sydney, 10 September 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Bagi saya teruslah menulis mas Donny. Batu sandungan itu adalah halangan yang menguatkan kita.
    Btw, saya rindu tulisan mantan satpam mas Donny yang menikahi wong australia itu lho. Suer. Anak dia sudah gede kali ya.
    salam

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.