Menjalani perintah Tuhan itu layaknya lomba lari 10K

1 Okt 2017 | Kabar Baik

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.?
(Matius 21:31)

Perumpamaan yang disampaikan Yesus hari ini sederhana. Ia mengibaratkan seorang pemilik kebun anggur dengan dua anaknya. Pemilik itu meminta keduanya bekerja di kebun. Anak pertama mengiyakan tapi tak melaksanakan perintahnya. Anak kedua menolak tapi akhirnya menyesal juga dan pergi mengerjakan apa yang diperintahkan bapaknya. Alhasil, anak kedualah yang ternyata lebih berbakti.

Perumpamaan itu ditutup dengan pernyataan Yesus yang kutulis di atas dan nadanya amat keras, ?Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah?

Pemungut cukai dan perempuan sundal dijadikan simbol keburukan serta pekerjaan yang dianggap hina tapi Yesus menyatakan bahwa sekalinya mereka bertobat, pertobatan itu barangkali lebih tulus daripada kita yang mengerti tentang hukum Tuhan dan agama.

Tapi, mungkinkah ada masanya dimana mereka yang bertobat, termasuk pemungut cukai dan perempuan sundal, merasa lelah untuk mengikuti jalan Tuhan lalu akhirnya kembali ke kehidupan lama? Adakah mereka tetap akan mendahului kita?

Menjalani perintah Tuhan itu ibaratnya perlombaan lari 10 kilometer. Bukan hanya soal bagaimana kita bereaksi cepat tapi tapi juga tentang bagaimana memelihara dan mengelola kecepatan itu dibumbui antusiasme yang tak berkesudahan sepanjang sepuluh kilometer hingga garis finis.

Seorang pelari yang sukses adalah pelari yang tak pernah berhenti berlatih dan memiliki tekad nan bulat untuk terus mencoba yang terbaik. Seorang murid Tuhan yang baik, menurutku adalah juga mereka yang tak pernah berhenti untuk mengasihi Tuhan dan memiliki tekad nan bulat untuk terus mencoba bertahan meski kadang godaan dan badai hidup itu melenakan dan melemahkan.

Dan rasa untuk mengasihi itu tak akan muncul kecuali kita membuka diri terhadap Roh Kudus. TanpaNya, kita tak akan pernah bisa benar-benar kuat untuk mengasihi Tuhan. TanpaNya, sekuat-kuatnya kekuatan kita, pada akhirnya akan sampai juga titik lelah dan sekalinya terhenti, bukan hanya kalah cepat dari pemungut-pemungut cukai dan perempuan sundal, tapi barangkali kita memang tak?kan pernah sampai karena kita menyerah sebelum garis finis terlampaui.

Hidup ini memang melelahkan. Tapi tenanglah, sesudah garis finis kita lalui, istirahat kita adalah untuk selama-lamanya. Jadi jangan menyerah, mari kita lanjutkan!

Sydney, 1 Oktober 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.