Menjalani hidup dengan semangat ‘bayar hutang’

1 Agu 2017 | Kabar Baik

Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”
(Matius 13:43)

Pilih mana, jadi orang baik atau orang benar?

Kabar Baik hari ini mengungkap, sekali lagi, bahwa pada hari kiamat, orang-orang jahat akan dipisahkan dari orang benar untuk dimasukkan ke dalam neraka dan mengalami siksa selama-lamanya.

Jadi bukan orang baik melainkan orang benar!

Tapi apakah bedanya orang baik dan orang benar? Apakah bisa seorang benar tanpa pernah melakukan kebaikan? Adakah orang baik yang tidak benar?

Dulu waktu kecil aku pernah dijewer romo karena terlalu berisik saat ikut mata pelajaran di kelas. Bagiku romo itu tak baik karena jewerannya membuatku sakit lalu menangis. Apakah pertimbanganku itu benar?

Adolf Hitler yang diktator Jerman itu dalam foto di bawah, juga Benito Mussolini, sobatnya yang diktator Italia begitu ramah pada anak-anak kecil. Adakah bagi anak-anak kecil itu Hitler dan Mussolini adalah orang baik?

Kebaikan dan kebenaran, yang bisa menentukan serta menghakimi hanyalah Tuhan dan hal itu ditekankan pada Kabar Baik hari ini bahwa Ia akan datang sebagai hakim pada hari akhir.

Kita tak pernah tahu seperti apa keputusanNya kelak terhadap siapa saja termasuk kita karena Ia punya kuasa dan kita tidak ada apa-apanya.

Tapi karena itu terjadinya ‘kelak’ dan karena tak ada yang bisa mengubah keputusanNya, kenapa tak fokus pada yang sekarang saja toh akhirnya hal-hal yang kita lakukan sekarang akan mempengaruhi perhitungan ‘kelak’?

Tak perlu pusing pula dengan takaran orang lain dan tak perlu kita menakar balik sebaik dan sebenar apa mereka karena selama kita hidup, persidangan atas hidup kita ini belum pula dimulai!

Mari kita jalani hidup dengan semangat ‘bayar hutang’! Karena Yesus sudah ‘ngutangi’ kita duluan melalui pengorbananNya di kayu salib dengan cara terus bertekun dalam iman dan melakukan hal-hal kebaikan dengan mata tertuju kepada Yesus, seperti ditulis Santo Paulus pada umatNya di Ibrani.

Meski tak selamanya jalan dan gelanggang kita ini mulus. Kadang terhuyung saat angin mengalun. Tak jarang juga kita terjatuh meski Tuhan menopang sehingga kita tak terjerembab terlalu dalam. Hingga akhirnya nanti, di ujung sana kita yakin Yesus membuka tangan dan memeluk kita lalu mempersilakan untuk masuk ke kerajaanNya dan pada saat itu masing-masing dari kita memiliki cahaya bak matari yang sinarnya memancarkan kebenaran yang hakiki.

Sydney, 1 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.