Menjadi remah-remah makananNya bagi sesama

8 Feb 2018 | Cetusan

Kabar Baik hari ini bicara tentang bagaimana seorang yang non-Yahudi datang kepada Yesus untuk minta berkat penyembuhan bagi anaknya yang kerasukan setan.

Tadinya Yesus tidak meluluskan permintaannya. Bahkan Ia berkata, ?Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.? (Markus 7:27)

Perempuan non Yahudi itu tak gentar. Dengan merendahkan diri di hadapanNya, ia malah berkata, ?Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.??(Markus 7:28)?

Yesus luluh.
DisembuhkanNya anak itu karena iman perempuan tadi.

Orang-orang non-Yahudi dibedakan dan dimarginalkan dari Yahudi. Pola-pola seperti ini pun masih terjadi hingga detik ini.?Tak hanya soal suku bangsa tapi juga marginalisasi atas keyakinan dan agama yang dipeluk, marginalisasi atas status ekonomi dan sosial hingga yang sedang cukup panas dibicarakan, marginalisasi atas orientasi seksual.

Aku tak tertarik menunjuk hidung siapa yang kafir dan mana yang beriman, siapa yang kaya dan siapa yang miskin serta siapa yang heteroseksual dan mana yang masuk dalam kaum homoseksual??Aku lebih tertarik merenungi Kabar Baik hari ini dalam konteks menempatkan diri sebagai remah-remah makanan.

Menjadi orang yang beriman itu jelas satu tujuan, tapi bagaimana cara tetap menghargai dan mengasihi kaum marginal nan terpinggirkan adalah salah satu tugas yang diberikan Yesus sendiri supaya kita mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri sendiri.

Menjadi remah-remah makanan adalah menjadi berkat bagi sesama. Menjadi remah-remah makanan adalah menjadi kepanjangan tangan Tuhan bagi mereka. menjadi remah-remah makanan adalah menjadi saksi sekaligus bukti bahwa Tuhan mengasihi semua insan tanpa pandang bulu agamanya, kaya-miskinnya, status sosialnya hingga orientasi seksualnya.

Aku ingin menjelma menjadi remah-remah makanan juga karena bagiku jika aku jadi obyek yang patut diperhatikan, aku akan besar dan jika aku besar lantas sebesar apa porsi hidup bisa kusisakan untuk Tuhan padahal Ia adalah Maha Besar? Aku harus makin kecil demi Tuhan yang makin besar.

Mau bergabung denganku menjadi remah-remah makananNya? Mari bersamaku!

Sydney, 8 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.