
Setelah beberapa hari diguyur hujan, langit monochrome abu-abu berselubung awan dan udara yang seakan tak pernah memberikan pilihan lain selain suhu yang menggigilkan tulang, pagi tadi ketika berjalan menuju bus shelter, kudapati sesuatu yang lain… segaris pelangi tampak di depan sana.
Lengkungnya penuh, setengah lingkaran menghubungkan satu daratan ke daratan lainnya di seberangnya.
Warnanya, ah entahlah, guru-guruku dulu selalu bilang pelangi itu terdiri dari tujuh warna, tapi sejak lahir hingga sekarang yang kukenali hanya tiga, merah, kuning dan biru.
Aku nggak tahu ini normal atau tidak, adakah kalian pernah benar-benar melihat pelangi dalam tujuh warna?
Lalu sembari menengadah memandangi indahnya, tiba-tiba terpikirkan padaku sepenggal kalimat
“Jangan memunggungi pelangi, taruhlah ia di depan sebagai tanda terbitnya sebuah harapan!”
Dan pemandangan itu… dan penggalan kalimat itu menenggelamkanku…
Pelangi, seperti halnya pagi, selalu meyakinkanku untuk berkata bahwa matahari belumlah padam!
Sinarnya masih berpijar menembusi setebal apapun awan yang coba mengungkungi bumi.
Pelangi bukan pula harapan itu sendiri, ia hadir hanya sebagai pertanda yang tak terlalu lama lalu menghilang.
Tanda bahwa harapan tak pernah berpendar hanya karena kekelaman yang bertubi-tubi.
Selalu ada penghiburan di antara derita yang memekakkan …
Maukah kau jadi pelangi?
Menjadi perantara dan penanda sementara untuk sebuah kemenangan yang mungkin bisa kita miliki namun tak bisa pelangi rasakan?
Tugasmu mungkin begitu mulia, meski waktu tak kan berkompromi dan membuatmu akan cepat libas berlalu.
Mau?
Tinggalkan Balasan