Menjadi Katolik itu mau diubah dan gumregah*

13 Feb 2019 | Kabar Baik

Di hadapan publik, Yesus melontarkan pesan yang amat kuat dan menukik menyerang kepada para Farisi dan ahli Taurat.

?Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (lih. Markus 7:6-8)

Hal ini terjadi setelah mereka mengkritik para murid Yesus yang makan dengan menggunakan tangan yang belum dibasuh. Menurut aturan nenek moyang mereka, makan haruslah membasuh tangan terlebih dahulu.

Yesus tidak patuh pada Hukum Taurat?

Apakah ini berarti Yesus menentang hukum dan aturan nenek moyang orang Yahudi yang muncul dari sejarah panjang para nabi utusan BapaNya sendiri? Bukankah Ia bilang bahwa Ia datang bukan untuk mengganti tapi menyempurnakan Hukum Taurat? (lih. Matius 5:17-20)

Andai orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu menjalankan aturan Taurat secara menyeluruh dan tak tebang pilih, Yesus tentu tak kan bersuara keras seperti itu.

Karena pada kenyataannya mereka menggunakan Hukum Taurat untuk umat sementara mereka sendiri tidak menaatinya. Hal-hal yang sifatnya ritual yang kasat mata dijadikan kewajiban melebihi bagaimana mengedepankan esensi Hukum Taurat itu sendiri yang adalah Kasih.

Ngapain beragama?

Sayangnya, banyak yang mengartikulasikan konteks Kabar Baik hari ini sebagai alasan untuk tak perlu beragama. Alasannya biasanya begini, ?Agama itu bikinan manusia, ngapain beragama? Yang penting menjalankan perintah Allah!?

Aku ingin membatasi konteks agama sebagai Katolik semata karena aku beragama Katolik. Maka, adakah agama Katolik itu bikinan manusia?

Aku setuju asal pernyataan itu tak berhenti di situ saja. Menganggap Katolik sebagai bikinan manusia itu adalah pernyataan yang hanya mengandung partial truth (benar tapi sebagian) karena Katolik didirikan Yesus yang adalah manusia? yang adalah Tuhan!

Jadi menjalankan Katolik adalah menjalankan perintah Allah? Ya!

Persoalannya sekarang sudahkah kita menjalani dengan benar atau belum?

Mau diubah dan gumregah

Menjadi seorang Katolik menurutku adalah menyerahkan diri secara total kepada Allah melalui perantaraan putraNya, Tuhan Kita Yesus Kristus.

Menyerahkan diri tidak berarti lemah lunglai dan pasif. Menyerahkan diri adalah mau diubah sekaligus gumregah (bangkit -jawa).

Ada banyak fragmen-fragmen dalam Injil yang ditulis untuk mengisyaratkan bagaimana kita harus mau diubah dan gumregah. Salah satu yang jadi favoritku adalah yang ditulis Yohanes tentang perempuan yang berzina. (lih. Yohanes 8:3-11)

Perempuan yang kedapatan berzinah, dalam hukum Yahudi layak untuk dirajam alias dilempari batu. Tapi apa yang dilakukan Yesus? Ia tidak melemparinya, Ia mengampuni dan memintanya pergi seraya bilang ??jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang!?

Pengalaman diampuni dari dosa mendatangkan konsekuensi untuk bertobat sepanjang usia seperti perempuan itu dan seperti itulah orang Katolik menurutku.

Mau diubah dari yang penuh dosa jadi diampuni dan mau gumregah untuk tak lagi berbuat dosa.

Persoalannya sekarang, kita udah seperti itu atau belum?

Sydney, 13 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.