Menjadi kantung anggur yang baru

25 Sep 2018 | Kabar Baik

Sebulan yang lalu, salah satu guruku di SMA Kolese De Britto Yogyakarta menghubungi melalui messenger WhatsApp.

Ia, namanya Bu Detty, Guru BP/BK memintaku mengirimkan profil pribadi serta pesanku untuk almamater dan adik-adik kelasku. Rencananya, disertai fotoku, data-data itu akan ditampilkan dalam mading, majalah dinding.

Aku mengambil waktu barang beberapa saat untuk merenung, terutama bagian pesan, apa yang hendak kusampaikan.

Lalu hati ini tertarik untuk menulis bahwa apa yang kudapat selama menjalani pendidikan tiga tahun di sana adalah lebih pada pembangunan karakter manusia yang utuh, bukan sekadar ilmu-ilmu sesuai kurikulum biasa.

Aku membahasakan pembangunan karakter itu ibarat kantung anggur, tepat seperti yang ditulis Lukas hari ini dalam Kabar BaikNya.

Kantung anggur adalah perumpamaan yang dipakai Yesus untuk menjelaskan bagaimana kita sebaiknya menyikapi ajaran-ajaranNya, Sang Pembaharu. Orang-orang Farisi disebagaikan kantung anggur lama yang sudah barang tentu akan robek untuk dituangi anggur, ajaran-ajaran baru tersebut.

Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. (lih. Lukas 5:37-38)

Adakah kalian semua para pembaca juga merasa perlu untuk memiliki mentalitas kantung anggur baru?

Eitsss? sebentar.
Apakah kantung anggur baru itu? Dalam pemikiranku, kantung anggur baru adalah cara kita menyikapi hidup berdasarkan iman terhadap Sang Pembaharu, Yesus Kristus. Tapi tak berhenti di situ, kantung anggur baru, bagiku, adalah juga bagaimana mengaktualisasikan Sang Pembaharu beserta ajaran-ajaranNya dalam konteks hidup sehari-hari!

Menjadi kantung anggur baru adalah menjadi terbuka terhadap dunia sekitar karena kita percaya ajaran-ajaranNya tak hanya yang tertulis dalam kitab, tak hanya yang diucapkan pastor atau para pengajar melalui mimbar-mimbar gereja saja!

Beberapa waktu silam aku ditawari pekerjaan dengan gaji yang tinggi menjulang. Sudah hampir kuterima hingga akhirnya aku mendapatkan satu momentum bertemu dengan seorang yang sama sekali asing.

Orang asing itu setelah berkenalan tiba-tiba banyak bicara tentang hakikat keluarga, betapa ia mencintai keluarganya dan pernah suatu waktu ia hampir kehilangan ?kehangatan keluarga? karena bekerja di perusahaan yang menawarkan gaji tinggi tapi imbalannya ia harus bekerja bepergian jauh dari keluarganya setiap hari! Dan ketika ia menyebutkan nama perusahaan itu ternyata adalah perusahaan yang sama dengan yang menawariku pekerjaan.

Karena aku ingin menjadi kantung anggur yang baru, aku menganggap perjumpaanku dengan orang asing itu bukanlah satu kebetulan. Pertemuan itu kuanggap sebagai salah satu cara Tuhan untuk menyampaikan pengajaran dan pandanganNya kepadaku. Bagiku ini adalah bukti bahwa Ia tak pernah berhenti menyertai! Ia bersuara melalui sesama.

Bisa dibayangkan jika aku menggunakan kantong anggur lama? Aku tak kan sudi mendengarkan begitu saja karena bagiku itu hanyalah satu kebetulan, satu hal yang belum tentu benar apalagi diucapkan orang asing.

Jaman ini bergerak maju ke depan. Mari tinggalkan mentalitas kantung anggur lama. Jika kita bisa dengan mudah menerima kemajuan teknologi dan bersenang-senang dengan pesatnya perkembangan kebudayaan manusia dewasa ini, kenapa kita juga tak mudah dan bersikap senang hati untuk senantiasa dicurahi anggur-anggur baruNya setiap hari?

Tengoklah kanan-kirimu, dengarkanlah sesamamu? di sana ajaran-ajaran Tuhan tumbuh dan bersemi secara alami, masukkan dalam kantung barumu dan gunakan untuk semakin memuliakanNya dan mengasihi sesama!

Kalau kata Ebiet G. Ade, ??mumpung kita masih diberi waktu!?

Tulisan tentang bagaimana perjumpaanku dengan orang asing bisa kalian baca di sini.

Jakarta, 25 September 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.