Menjadi hamba dalam keluarga

21 Okt 2018 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik se-dunia memperingati Hari Misi Se-dunia. Semua dari kita memiliki misi hidup. Seperti ditulis dalam Dokumen Gereja Evangelii Gaudium, 273,??Aku adalah misi di atas bumi ini; itulah alasan mengapa aku berada di sini di dunia ini??

Tapi apakah dengan demikian kita harus menjalani hidup seperti pembicara/penginjil? Atau katakanlah kalian malu untuk bicara, perlukah menulis Kabar Baik seperti yang kulakukan selama ini?

Kalau bisa baik, tapi misi tak terbatas pada hal-hal seperti itu saja menurutku. Inti dari menjalankan misi menurutku bukan pada hal spesifik apa yang kita lakukan tapi bagaimana kita mau dan berani untuk ambil bagian.

Ambil bagian apa? Karya penyelamatan Yesus yang mewujud dalam dua hal, ?minum cawan yang harus Yesus minum? dan ?dibaptis dengan baptisan yang harus Yesus terima? (lih. Markus 10:38). Secara singkat, keduanya kuterjemahkan sebagai mau menderita bersama Yesus dan mau percaya kepadaNya.

Prinsipnya?

Melayani, bukannya dilayani, mau menjadi hamba bagi sesamanya. Wah, berat ya? Ember! Tapi akan lebih berat jika tak dipraktekkan sama sekali.

Maka mari mulai dari lingkaran terkecil kita, keluarga. Belajar untuk menghamba adalah dari keluarga kita sendiri terlebih dulu.

Tapi, Don? aku sudah punya pembantu! Apa ya kalau begitu aku harus mengambil alih tugas pembantuku?

Tentu tidak demikian karena bukankah tak semua ragam pekerjaan dalam keluarga telah dialihkan ke pembantumu?

Menjadi hamba dalam keluarga adalah berani menomersatukan kepentingan diri sendiri, mengorbankan keinginan demi kebutuhan dan keinginan anggota keluarga yang lain; perhatian, waktu dan segalanya.

Aku sering ?tersandung? dalam hal ini.

Misalnya kepengen beli barang yang sudah kepengen kubeli sejak lama. Sudah dapat persetujuan istri? ehhh mendadak harus batal karena ada kepentingan lain yang harus didahulukan untuk dibeli!

Atau saat aku hendak pergi bareng teman-teman ke sebuah acara tapi anak mendadak sakit dan aku harus membatalkan acara. ?Pertarungan batin? untuk pergi atau batal begitu bergejolak di dalam dada.

Dalam hal-hal yang barangkali kita nilai begitu remeh-temeh seperti itu aku percaya bahwa prinsip menjalankan misi dan menghamba diperlukan untuk dilakukan sebaik-baiknya yang kita bisa.

Selamat mendalami misi hidup kita masing-masing, tetaplah menghamba dan jadilah hamba dengan bangga!

Sydney, 21 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.