Menjadi anak kecil yang tidak kekanak-kanakan: tulus, polos dan rendah hati!

2 Okt 2017 | Kabar Baik

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga
(Matius 18:3)

Setiap kali membaca Kabar Baik ini, aku selalu berpikir bahwa sikap seperti anak kecil yang dimaksudkan Yesus adalah sikap atau pribadi yang penuh ketulusan karena anak kecil itu tulus.

Tapi aku sadar sekarang yang dimaksudkan Yesus bukan hanya ketulusan tapi juga kepolosan. Anak kecil itu tulus dan polos bagai secarik kertas putih tanpa dosa.

Aku mengamati anak-anakku saat masih di bawah tiga tahun. Waktu itu, ketika mereka melempar sesuatu ke muka lalu aku pura-pura nangis, reaksi awalnya biasanya adalah tertawa. Beberapa saat kemudian ketika tangis kubikin pura-pura lebih keras, ia tak tertawa tapi ikutan menangis bahkan lebih keras lalu memelukku erat-erat seolah menyesali perbuatannya.

Nah! Inilah sikap pertobatan yang diinginkan Yesus! Ketika kita berbuat dosa kita berduka dan menyesali perbuatan secara tulus.

Tapi apakah mungkin sih, Don? Mana ada manusia yang seperti itu?
Kalau kita mengandalkan diri sendiri ya nggak mungkin! Manusia adalah tempatnya salah dan dosa serta penuh kepentingan pribadi, mana mungkin jadi tulus apalagi polos? Kita perlu bantuan dan bantuan itu datang dari Roh yang sehakikat dengan Bapa dan Yesus sebagai sosok yang mengatakan semua ini. Roh itu adalah Roh Kudus.

Yang dikatakan Yesus pun tak berhenti di sini. Coba simak kutipan berikutnya di bawah ini,

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”
(Matius 18:4-5)

Menjadi tulus dan polos saja susah, boro-boro diminta untuk rendah diri supaya jadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga?

Sulit? Ya iya! Contohnya aku sendiri. Alih-alih jadi anak kecil yang ada malah kekanak-kanakan. Alih-alih jadi tulus dan polos, yang ada malah jadi sok tulus dan sok polos. Baru bisa nulis Kabar Baik setiap hari selama dua tahun terakhir (itupun belum tentu benar isinya) saja lagaknya sudah nggak keruan sombongnya! Baru bisa berhenti nonton bokep sejak beberapa tahun belakangan saja gayanya udah seperti yang paling suci!

Lalu siapakah yang terbesar kalau demikian?
Karena arti kata terbesar adalah yang paling besar dan karena hanya ada satu yang paling maka bagiku, ketika Yesus mengatakan hal di atas, Ia sedang membicarakan diriNya sendiri yang suci dan polos tapi juga rendah diri. Dalam penyalibanNya hingga mati, Yesus meletakkan ego serendah-rendahnya sehingga tak bisa direndahkan lagi oleh siapapun, untuk itulah pada akhirnya Ia mendapatkan kemuliaan yang maha tinggi, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan BapaNya.

Sydney, 2 Oktober 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.