MeninggikanNya? Bagaimana?

15 Okt 2018 | Kabar Baik

Apa? yang diucapkan Yesus hari ini seperti ditulis Yohanes, murid yang dikasihiNya, begitu gamblang. Ingin masuk surga? Tinggikanlah Anak Manusia! (lih. Yoh. 3:14)

Kenapa? Karena tak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain daripada Dia yang telah turun dari surga yaitu Anak Manusia. (lih. Yoh 3:13)

Tapi siapa Anak Manusia itu? Bagaimana meninggikanNya? Setinggi apa?

Anak Manusia adalah Yesus sendiri. Ia putra Bapa yang diturunkan sebagai petunjuk betapa besar kasih Allah akan dunia (lih. Yoh. 3:16).

Bagaimana meninggikanNya?

Salah satunya menurutku adalah dengan menjalankan semua ajaran-ajaranNya tanpa terkecuali dalam hidup.

Setinggi apa?

Setinggi kamu bisa meninggikanNya dan tidak sama bahkan juga jangan sampai lebih rendah dari nilai-nilai lain, tokoh-tokoh lain yang kamu tinggikan selama ini!

Absurd ya?
?Yuk kita bawa dalam contoh hidup sehari-hari.

Anggaplah karirmu dijegal oleh seorang yang tak senang dengan prestasimu selama ini. Kamu punya tiga pilihan dalam menyikapinya.?

Pertama, jegal balik.
Kedua, diamkan.
Ketiga, beri pelajaran.

Sebagai orang Katolik, meninggikan Yesus adalah dengan memilih pilihan terbaik menurut ajaranNya.

Pilihan pertama tentu harus dibuang! Yesus tak pernah mengajarkan dendam jadi jangan mengaku muridNya kalau kamu masih berpikir untuk ?menjegal balik? orang yang menjegalmu.

Bagaimana dengan pilihan kedua?

Pilihan kedua barangkali lebih baik dari yang pertama, tapi sudahkah itu jadi pilihan terbaik??

Kata orang, diam itu emas. Kata orang, diam itu mengalah. Tapi hati-hati, dalam diam juga ada kemalasan. Kita diam karena ?malas ribut.??

Dalam diam juga kadang ada rasa takut. ?Udah lah, diam aja! Kalau kita lawan nanti kita malah yang hancur lebur karena jumlah mereka banyak!?

Dalam diam kadang terselip dendam! Tak percaya? Ada orang yang mendiamkan seseorang justru karena mereka percaya bahwa Tuhan pasti akan membalasnya. Waduh, kalau begitu, adakah Tuhan itu layaknya pihak yang bisa kita minta untuk membalaskan? dendam kita??

Pilihan ketiga? Beri pelajaran? Ya! Bagiku, meninggikanNya dapat kita tunjukkan justru dengan kita memberi pelajaran pada orang yang menjegal kita tadi.

Lho, beri pelajaran itu kan berarti kita dendam?

Tidak juga! Memberi pelajaran adalah menjelaskan kepada yang bersangkutan tentang konsekuensi yang ia peroleh karena perbuatannya.?

Kemauan kita untuk menjelaskan adalah tanda kita peduli dan bukankah peduli itu artinya kasih?

Memberi pelajaran menurutku bisa dengan mengajaknya berdiskusi atau melaporkan perbuatannya ke level yang lebih tinggi jika ada bukti. Tapi kalau tak ada bukti dan tak bisa diajak berdiskusi? Kita perlu memberi pelajaran dengan tidak mau berkawan dengannya.

Lho?
Bukankah itu buruk?

Tidak juga! Keputusan untuk tidak mau berkawan adalah wujud dari memberi tahu kepadanya bahwa atas dasar tindakannya yang tak baik, ia kehilangan pertemanan dengan orang sebaik kamu.

Lagipula, tidak berkawan kan tidak berarti memusuhi?

Sydney, 15 Oktober 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.