
Mt Wilson adalah sebuah dataran tinggi yang terletak di sebelah barat Sydney, NSW, Australia.
Tanahnya bergelung-gelung, jalannya menikang-nikung terlindungi pepohonan berdahan tebal yang saling menjulur dan bertautan ujung bertemu ujung, sementara cuacanya menggigilkan tulang.
Dari pusat kota Sydney, Mt Wilson bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam berkendaraan pribadi melewati Penrith, Katoomba, serta Blue Mountain yang tak kalah kesohornya serta tak kurang indahnya.
Beberapa waktu lalu, bersama istri, Irna serta Jaya, kami menyempatkan diri, melancong ke sana.


Yang menarik dari Mt Wilson adalah taman-taman berukuran luas milik pribadi yang dibuka untuk dikunjungi oleh umum.
Sebenarnya tidak benar-benar taman, tapi areal-areal yang luasnya berhektar-hektar itu sejatinya adalah pekarangan rumah, tempat tinggal si empunya yang lalu ditanami tanaman-tanaman yang sangat terawat, rapi sehingga tampak begitu indah.


Kebanyakan si empunya adalah kaum lanjut usia.
Mereka adalah para pensiunan yang memilih menepi setelah sekian lama hidup di kota, membeli sebidang tanah dan menghabiskan usia bersama-sama alam, flora dan fauna di atas tanahnya itu.
Untuk dapat masuk ke taman, rata-rata kita dipungut biaya 5 – 10 AUD dan dengan biaya itu kita sudah bisa bebas berjalan-jalan serta mendapatkan teh, kopi serta kudapan seadanya yang bisa kita ambil sekenyang-kenyangnya dan kalau ditotal jenderal, harganya justru kurang lebih sama dengan biaya tiket masuknya.


Pada saat musim dingin, suhu rata-rata di siang hari adalah 5-10 derajat celcius sementara di malam, pagi serta petang hari angka di termometer bisa mengendap-endap turun hingga 3, 0 bahkan -3 derajat saja.
Tak jarang di bulan Juli dan Agustus saat musim dingin menemui puncaknya, salju serta es turun di kawasan ini, sesuatu yang terbilang langka terjadi di Australia, yang membuat akses ke arah Mt Wilson ditutup untuk sekian lama jika memang keadaan menjadi sedemikian buruknya.


Tapi jangan tanya betapa indahnya kalau kalian ke sana saat musim gugur dan musim semi.
Pada saat itu konon bunga-bunga saling bermekaran, daun-daun kembali menunjukkan gairahnya untuk tumbuh yang mengundang burung-burung serta unggas dan serangga-serangga kecil lainnya berdatangan berbagi dan menjemput berkah dari Sang Kuasa.
Kalau sudah seperti itu, kepalaku hanya bisa menengadah ke langit yang biru.
Jangan pandangi mataku karena ia akan memanas dan kelopaknya berkedip-kedip menjaga supaya tak ada air mata haru yang jatuh ke pipi sementara di bibir dan di hati mengucap syukur untuk sekadar menyadari betapa indahnya kehidupan ini…
Alleluia!

Tinggalkan Balasan