Mengundurkan diri dari social media seperti Sarah. Perlukah?

4 Mar 2017 | Digital

Sarah Sechan mengundurkan diri dari social media. Sebuah postingan yang diunggah via akun instagram dijadikannya sebagai penanda.

Kabar pengunduran diri itu kudapat dari seorang kawan yang men-share di Facebook. Lalu ia, kawanku tadi, dengan gaya ‘sok mellow nan latah’ nya pun berujar, “Sepertinya aku juga akan berpikir hal yang sama dengan Sarah, mundur dari social media.”

Pertanyaanku, sebenarnya perlukah kita untuk ikutan latah, mengundurkan diri dari social media seperti Si Sarah?

Ada baiknya kita simak poin-poin penting yang tersebar dalam postingan Sarah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris yang apik itu.

Sarah menuliskan ini, “I need to really start living and enjoy every moment of my life, not busy trying to make a point or seek approval from strangers.”

Lalu ini, “I want to go back to the days when I eat because it?s basic necessity, not because foodporn posts are considered cool.”, juga ini, “I want to wear certain outfit because it makes me feel comfortable, not because I have to post ootd (or because I got them free ).”

…dan ini yang paling menohok, “I want individuals to know me because they have met me and spent time with me, not because they read a sentence of my caption underneath a photo I posted after selecting from hundreds of pretentious selfies . and vice versa, I don?t want to think I know someone just because I follow him/her on social media.”

Membaca dan mencoba memahami poin-poin tersebut, aku tidak bisa tidak harus menyelamati Sarah karena keputusan pengunduran dirinya adalah keputusan yang benar betul-betul! Simply karena aku berpikir ketika hidup sudah penuh dengan genangan polutan, satu-satunya cara untuk menyelamatkannya ya move on, angkat kaki dari kubangan!

Tapi membaca poin-poin tersebut di atas sekaligus juga membuatku merasa bahwa aku tak perlu meninggalkan social media, atau kalaupun nanti suatu saat harus meninggalkannya, alasanku tentu bukan alasan yang sama dengan yang Sarah punyai.

Aku toh bukan orang yang merasa harus mencari pembenaran dari para follower-followerku. Tak hanya karena jumlah followerku tak ada apa-apanya dibandingkan Sarah, tapi… come on, mereka itu siapa sih? :))

Aku juga bukan orang yang bisa menahan lapar. Kalau ada makanan yang enak ya embat aja, gak usah diperhitungkan dulu layak ditayangkan nggak? ‘Instagram-able’ apa nggak? Lapar? Hajar!

Aku juga merasa tak terbebani untuk selalu mengenakan outfit yang nggak malu-maluin atau setidaknya yang at least 50 likes kudapat ketika kupajang foto selfieku di social media! Kenapa? Seganteng-gantengnya orang, ia tetap akan ganteng meski tak mengenakan outfit yang keren sekalipun! *uhuk…

Kawan, percayalah bahwa ketika ada hal yang diijinkan untuk muncul di muka bumi ini, pasti bisa kita manfaatkan untuk kebaikan asal kita mau menempatkan diri dan memilih cara pandang yang tepat terhadap hal tersebut. Demikian juga dengan social media! Tak semua hal yang ada di sana itu buruk. Sekali lagi, tergantung bagaimana kita memandang dan memposisikan diri terhadapnya.

Ketika aku belum bisa menemukan cara untuk memandang social media secara baik, setidaknya aku memilih menempatkannya sebagai hiburan saja, tak lebih dan kadang kurang. Social media bagiku yang terutama adalah sarana untuk mencari tahu kabar kawan-kawan lamaku, bukan media untuk mencari tahu kabar burung yang menyudutkan lawan politik calon gubernur pilihan kita, misalnya.

Aku tak ingin menempatkan social media lebih penting dari hal-hal tersebut. Kenapa? Ya supaya ketika nanti saat aku harus mengundurkan diri dari social media, hal itu muncul bukan karena satu penyesalan apalagi kebencian tapi sebuah sikap yang legawa. Singkat kata, aku tak mau menempatkan social media sebagai hal yang mempengaruhi jalan terus/terhentinya hidupku.

Jadi mau mundur seperti Sarah Sechan? Suka-suka tapi mending dipikirin dulu, Bro, Sis! Tak semuanya harus dihentikan! Yang penting bagaimana jalan seimbang menggunakan penguasaan pikiran dan hati. Kalem aja, jangan bukannya gaduh lalu goyah karena berat sebelah… kalau jatuh sakit soalnya!

Simak artikel tentang pengunduran diri Sarah Sechan dari social media di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.