Mengukur panjang usia pengalaman berduka di masa pandemik

2 Agu 2021 | Cetusan

Waktu Papa meninggal tahun 2011, rasa berduka tertinggal di hati cukup lama. Barangkali karena dia pergi begitu mendadak. Sebelumnya Papa sehat-sehat saja hingga malam sebelum meninggal ia terkena serangan stroke.

Ketika Mama meninggal lima tahun sesudahnya, rasa duka tertinggal tidak terlalu lama. Mama sudah sakit sejak lama, bahkan sejak sebelum Papa meninggal. Malah ada perasaan lega karena Mama sudah tidak merasakan sakit lagi meskipun aku harus jujur bersitan penyesalan karena aku nggak bisa pulang ke Tanah Air ketika dia berpulang ya ada tersisa.

berduka

Pengalaman Berduka

Pengalaman duka, tak satupun kurasa ada yang ingin memilikinya. Tapi ketika terjadi (karena suatu saat pasti terjadi), sama dengan jenis pengalaman lainnya, hal itu harus kita rasai secara sadar dan sewajarnya tanpa tergesa-gesa hingga menipis lalu mengendap sebagai kenangan.

Tapi bagaimana dengan rasa duka yang terjadi di masa pagebluk ini?

Bagaimana mereka yang berduka ketika ada rekan dan kerabat yang meninggal merawat perasaan hingga tuntas ketika ada begitu banyak kabar duka susulan yang lainnya?

Aku mendengar cerita dari banyak kawan bahwa masjid sebelah rumahnya makin sering mengumumkan berita kematian. Aku mencoba memetakan ‘perjalanan perasaan’ yang muncul setelah mendengarkan berita tersebut. Ketika tersiar pengumuman misalnya Si A dinyatakan meninggal, yang terjadi dalam hati pertama kali barangkali adalah kaget lalu sedih. Seiring dengan itu, karena ini masa pagebluk, pertanyaan-pertanyaan berikut mungkin juga akan muncul,

‘Meninggal karena apa ya? Duh jangan-jangan COVID?’

‘Duh kalau COVID lalu orang-orang dekatnya gimana? Kena juga nggak?’

‘Duh bukankah kemarin aku baru ketemuan dengan salah satu anggota keluarganya?’

‘Mau test? Takut! Mahal! Ya kalau negatif, kalau positif? Ribet! Anak-anak butuh makan!’

Lalu nggak sampai beberapa waktu berikutnya hingga Si B diumumkan juga meninggal. Dan urutan perasaan seperti di atas akan terulang lagi…

Itu baru pengumuman yang kita terima dari corong masjid, untuk handai taulan yang jauh, kita lebih sering mendengar kabar dari dinding social media dan lagi-lagi perjalanan perasaan seperti di atas akan kembali lagi beredar di kepala tanpa henti…

perjalanan duka yang utuh

Aku tak bisa berhenti merenungi hal ini.

Bagiku setiap yang berduka berhak mengalami perjalanan perasaan yang utuh sebelum akhirnya bangkit untuk kemudian… menerima kabar duka lainnya.

Ketidakutuhan perjalanan perasaan karena ditimpa kedukaan lain takutnya berakibat dua hal.

Pertama, menganggap kedukaan yang baru sebagai ‘penghibur’ atas kedukaan yang belum tuntas sebelumnya.

Kedua, karena kedukaan yang tidak tuntas perjalanannya, nanti entah kapan kita baru sadar ternyata Si A, Si B, Si C dan si lain-lain sudah meninggal karena pada saat mereka berpulang kita terlalu banyak dibuai duka atau tersilap ingatan karena direndam angka dan grafik-grafik statistika tentang berapa yang meninggal dan bukannya siapa yang berpulang.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.