Aku masih ingin bercerita tentang hal-hal yang sederhana saja.?Sesederhana mengucapkan selamat hari raya pada umat yang beragama lain.
Sederhana, kan?
Apalagi jaman semakin maju seperti sekarang dimana teknologi semakin menjembatani kita untuk melakukan apa saja termasuk memberi selamat.
Kalau 25 tahun lalu, Mamaku harus pergi ke kantor telegram untuk mengirim ucapan selamat Lebaran ke nenek di Blitar dan kerabat lain di Jakarta, kini segudang cara tersedia lebih mudah, murah dan sederhana.
Ada SMS, eCard, email, berbagai macam messenger juga social media channel seperti Twitter dan Facebook siap mengantarkan ucapan-ucapanmu itu.
Seperti saat Lebaran kemarin misalnya.?Mengucapkan selamat hari raya kepada saudara kaum muslim adalah sesuatu yang mudah.
Tinggal buka iPhone, buka twitter, kirim salam ke sana-kemari, selesai! Buka aplikasi Facebook, karena kawan terlalu banyak, tinggal ketak-ketik di status, selesai!?Satu-satunya yang kurasa perlu masih kuucapkan selamat lewat telepon hanyalah eyang serta kerabat dari almarhum Papa yang merayakan Lebaran di Blitar sana.
Sederhana, kan?
Tapi tau apa yang kudapat dari pengucapan selamat itu? Wah, berlimpah-limpah kali lipatnya dari kesederhanaan itu sendiri.
Puluhan, kalau tak mau bilang ratusan, kawan-kawan itu lalu membalas ucapanku dengan untaian kata ‘Terima kasih’ ?kepadaku.
So, salah satu misi untuk ?mengasihi sesama? tak peduli apapun atribut agama dan sukunya telah terlunasi…
Tau kalian arti kata ‘terima kasih’? Bisa punya beberapa arti, tapi salah satunya adalah ‘ucapan selamatku diterima dengan kasih’ So, salah satu misi untuk ‘mengasihi sesama’ tak peduli apapun atribut agama dan sukunya telah terlunasi karena mereka telah me-recognize ucapanku sebagai kasih!
Puluhan, kalau tak mau bilang ratusan, yang lainnya tak hanya mengucapkan ‘Terima kasih’ kepadaku tapi juga doa-doa yang menyertainya. “Semoga keluargamu di Australia sehat dan sejahtera!” ada lagi “Semoga damai di bumi damai di hati” (tipikal Natal sebenarnya tapi toh tak mengapa, tetaplah ia adalah doa) dan masih buanyak lagi ragamnya!
Dan memang benar, bagiku, kuanggap ucapan-ucapan itu sebagai doa meski ada yang sebagian menganggapnya sebagai basa-basi belaka.
Kenapa? Karena berkat doa mereka pula maka aku dan keluargaku pun diberi kesehatan dan kesejahteraan di sini, seperti yang mereka doakan tadi.
Eh bahkan kalau kalian mau tahu, seorang yang kuingat selalu menolak mengucapkan ‘Selamat Natal’ atau ‘Selamat Paskah’ karena kepercayaannya menghendaki demikian pun kuberi ucapan selamat dan ia membalasnya dengan, ‘Thank you so much!”
See! Manis bukan? Bahkan seorang yang ‘berbeda’ pun sanggup memberi ucapan ‘terima kasih’ kepadaku!
“emang ada gitu, orang yang tak mau mengucapkan ucapan selamat kepada umat lainnya, Don?”
Eh, Don.. sebentar.. Emm.. emang ada gitu, orang yang tak mau mengucapkan ucapan selamat kepada umat lainnya, Don?
Nah, ini dia! Kupikir dulunya tak ada, tapi baru-baru ini ternyata kutahu ada dan ada pula dasar hukum dan tafsirnya, menurut mereka tentu saja. Ya sah-sah saja, dan mari kita hormati keyakinannya.
Malah kalau perlu, karena ini ibadah bagi mereka, mari kita bantu menyukseskannya.
Caranya? Ya dengan jalan tak perlu protes kalau tak diucapi selamat. Biarkan saja dan lantas berpikirlah positif bahwa dengan tidak menghiraukan apakah kawan-kawan tadi mengucapkan selamat atau tidak, toh justru akan memberikan keleluasaan mereka akan tertunaikannya ibadah mereka. Alhasil, tertambahkanlah pula amal baiknya dan mereka pun semakin diutamakan di mata Sang Pencipta menurut mereka. Mereka pun senang dan apa salahnya sih membuat orang lain senang?
Jadi, mari kita berpikir, berlaku secara sederhana saja.
Perkara kenyataan bahwa mengucapkan selamat hari raya itu ternyata jadi tak sesederhana yang kukira sebelumnya, itu biarkan saja.
Pada akhirnya toh tak semua yang ada di dunia ini Sederhana.. Ada Garuda, Duta Minang, Pancuran Gadang dan masih banyak lagi jenis restaurant masakan Padang yang lainnya.
*ah tiba-tiba kangen rendang dan tunjang!
Tinggalkan Balasan