Pernahkah kalian iri pada agama?
Aku pernah. Betapa enaknya jadi seor..eh sebuah agama.
Ia selalu disanjung-sanjung sepanjang masa. Tak peduli seberapapun busuk-baiknya ajarannya, pokoknya disanjung… ya, sekali lagi, pokoknya!
Ketika ada satu orang berlaku tak baik dan mereka mengatasnamakan agama, secepat kilat mereka akan dicap “oknum” yang mengerjakan ajaran secara salah.
Ketika ada seratus orang berlaku tak baik dan mengatasnamakan agama, secara sigap orang-orang mengganjarnya sebagai ‘kelompok sesat’!
Tapi pernah kita memberi kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan duduk perkaranya? Adakah mereka merasa salah? Adakah kebenaran mereka adalah kesalahan kita dan kesalahan mereka adalah kebenaran kita?
Sebaliknya,
ketika ada satu orang berlaku terpuji, orang buru-buru berujar, “Ente lihat deh agamanya apa! Begitulah agama kami mengajarkannya!”
Ketika ada sekelompok orang berlaku terpuji, orang buru-buru melayangkan sikap, “Wah, hebat! Mereka orang-orang saleh!”
Suatu waktu, pernah pula tiba-tiba aku ingin bisa menginterogasi agama. Kubayangkan kuseret ia, agama, ke ruang pengap dengan lampu bholam gantung berdaya 10 watt, remang-remang.
Sementara asap rokok mengepul memenuhi ruangan dan suara mesin ketik juru tulis yang menuliskan lembar demi lembar pengakuannya kepadaku.
?Hey, agama! Jadi sebenarnya mana yang benar! Para oknum itu atau para orang saleh itu??
Ia hanya terdiam.
?OK, tak mau mengaku? Fine! Pertanyaan selanjutnya, adakah ajaranmu salah atau benar sebenar-benarnya??
Lagi-lagi ia hanya terdiam.
Kudongakkan mukanya menatapku. Matanya memicing terkena lampu. Hidungnya kembang kempis seperti menahan sesuatu. Sementara mulutnya terkatup diam. Dalam diamnya ia menawarkan senyum yang terkulum padaku seolah berkata, ?Akulah si dadu! Tergantung bagaimana peruntunganmu ketika memainkanku. Nasibmu baik? Kau akan anggap aku yang baik-baik saja, nasibmu buruk? Kau akan anggap aku sebaliknya. Tapi baik buruknya itu tergantung dari segala sesuatu yang menggantung di kepalamu! Ketergantungan yang satu akan tergantung pada ketergantungan yang lainnya.. demikian tanpa pernah berhenti?
?Arghhh! Catat! Catat!? teriakku pada si tukang catat interogasi tapi kali ini tangannya tak mampu mengetikkan apa-apa.
?A… apa yang perlu dicatat jika tak ada satupun yang kau ucapkan selain ?Catat!? ?Catat!? saja??
?Ya sudah ? pokoknya catat ?Catat! Catat!` saja dalam laporanmu!? teriakku kepadanya.
Kutundukkan kepala si agama itu kembali dan interogasi itu adalah interogasi yang tak berkesudahan hingga hidup kita berkesudahan pada akhirnya untuk tahu apakah sebenarnya agama itu benar-benar memang benar atau karena memang kita yang benar-benar ketakutan untuk sekali waktu membayangkan keraguan terhadap agama dan berkata, ?Sungguh, para oknum itu justru benar… mereka benar karena mengikuti agamanya secara benar?
Selamat melanjutkan untuk memeluk agama kita masing-masing dan maaf atas tulisan yang tak terlalu mudah dicerna ini!
Tinggalkan Balasan