Menghidupi Kerajaan dalam hati

14 Nov 2019 | Kabar Baik

Dalam Kabar Baik hari ini, orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, kapan dan bagaimana Kerajaan Allah akan datang? Jika kita menelan mentah-mentah kata ?Kerajaan Allah? lalu menaruhnya dalam pengertian kita tentang ?kerajaan? di dunia maka pertanyaan barusan menjadi agak susah masuk ke dalam logika. Saking susahnya, biasanya muncullah pertanyaan-pertanyaan balik semacam,


?Apakah Kerajaan Allah itu bisa pergi karena bisa pula datang???

?Apakah Kerajaan Allah itu sesuatu yang bisa bergerak? Jika iya, seluas dan seberat apa Kerajaan Allah itu dan oleh apa Ia digerakkan? Roda? Atau terbang??

Kebenaran, Damai Sejahtera dan sukacita di dalam Roh

Menurut Paus Benediktus XVI (Emeritus) dalam bukunya Jesus of Nazareth, Kerajaan Allah diartikan sebagai tiga hal. Yang pertama adalah Yesus sendiri, yang kedua adalah di dalam hati kita, yang ketiga adalah Gereja.?

Kapan Yesus akan datang kembali? Syahadat kita mengajarkan Ia akan kembali di hari kiamat. Kapan Gereja akan datang kembali? Gereja sudah ada di dunia sejak didirikan Kristus, dua ribu tahun silam. 

Tapi kapan Kerajaan Allah datang di hati kita?

Kerajaan Allah di dalam hati muncul sebagai sebuah keadaan. Keadaan yang oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma dilukiskan sebagai sesuatu yang berdasarkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang datang dari Roh Kudus. (lih. Roma, 14:17).

Maka selama kita hidup berdasarkan hal-hal tersebut di atas, sejatinya kita telah menghadirkan Kerajaan Allah dalam keseharian kita. Sebaliknya, ketika kita mengabaikan nilai-nilai tersebut, siapa yang percaya bahwa kita ini adalah warga KerajaanNya?

Membayangkan Kerajaan Allah dalam diri sendiri bagiku sama seperti membayangkan bagaimana kita bepergian ke luar negeri entah untuk berlibur ataupun untuk tinggal dan menetap sepertiku di Australia.

Yang paling mudah, seseorang bisa dikenali asal-muasalnya dari penampakan fisik entah itu warna kulit dan rambut, bentuk mata, postur serta bulatan wajah. Cara orang berbicara (dialek/aksen) juga ikut menentukan. Lalu yang terakhir adalah cara kita bersikap. Bagaimana kita beperilaku, meski tak buruk, tapi perbedaan cara perilaku dari apa yang kita kenali di negara asal terkadang membuat kita menebak-nebak, ?Ini orang berasal darimana ya??

Semakin lama orang tinggal di luar negeri, konon semakin ia beradaptasi dan menyesuaikan dengan budaya lokal. Meski bentuk fisik tidak berubah secara drastis tapi tingkah laku kadang membuat kita ketika kembali ke Tanah Air mendapat sorotan baik yang positif maupun negatif.

Misalnya tentang bagaimana menyampaikan pendapat yang menurut orang terlalu ?apa-adanya? dan memancing orang berkata, ?Belagu loe! Baru sebelas tahun di Australia aja udah nggak kenal sopan santun dan tatakrama!?

Mengembangkan kerajaan di dalam hati

Demikian juga kita dengan Kerajaan Allah.

Kita diajak untuk terus menggali nilai-nilai yang disampaikan Paulus tadi. Kita diajak untuk merawat dan menghidupinya dalam hidup sehari-hari supaya kelak ketika kita kembali, ?Petugas Imigrasi KerajaanNya? tetap percaya dan mengenali bahwa kita ini wargaNya.

Jangan sampai karena terlena pada dunia kita ditolak karena apa yang kita tampakkan dan lakukan sudah tidak benar-benar surgawi dan amat duniawi.

Waktu kita tak banyak sebelum pada akhirnya kembali ke gerbang Kerajaan Abadi. Kita diajak untuk mengembangkan KerajaanNya dengan menyatukan diri pada Gereja dan Yesus sendiri.?

Sydney, 14 November 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.