Menggunakan ?mungkin? menghindari ?pasti? karena tak ada yang pasti dalam hidup ini

9 Jan 2019 | Kabar Baik

Karena hati yang degil, para murid tercengang dan bingung melihat Sang Guru, Yesus Kristus, berjalan di atas air. (Markus 6:45-52). Apakah degil itu? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) daring, degil dimaknakan sebagai tidak mau menuruti nasihat orang; keras kepala; kepala batu.

Entah kalian, tapi akupun berkepala batu alias degil. Karena merasa sudah pintar, merasa punya banyak bakat dan kemampuan, ketika melihat sesuatu terjadi, aku selalu merasa sudah punya himpunan alasan untuk menjawab kenapa sesuatu hal bisa terjadi.

Kenapa dia meninggal? Karena sudah tua!?

Kenapa sakit perut? Karena kebanyakan cabe!

Kenapa bisa punya banyak uang? Kalau nggak nyolong ya kerja!

Selalu seperti itu, terus-menerus. Bahkan ketika aku belum punya alasan sama sekali, tinggal buka henpon menuju ke Google dan bertanya di sana karena hampir semua jawaban terhadap hal yang ada tersedia jawabannya di sana, kan?

Kedegilan hati kian lama kusadari sebagai akibat dari lemahnya aku sebagai manusia. Kelemahanku dan betapa banyak kekurangan yang ada padaku membuat aku merasa harus belajar banyak hal sejak dulu dan dari apa yang kupelajari kupakai untuk membentengi kelemahan tersebut. Sehingga ketika aku dihadapkan pada satu kenyataan, tanpa diminta aku langsung mencari alasan kenapa sesuatu hal terjadi berbekal dari hasil belajarku itu.

Lalu bagaimana caraku mengatasinya? Penuh perjuangan dan akupun masih terus mengusahakannya. Tapi satu hal yang bisa kubagikan di sini karena untuk sementara ini cukup ampuh kugunakan adalah ketika melihat satu kejadian/peristiwa, aku menghindari kata ?pasti? dan mengubahnya menjadi ?mungkin?.

Misalnya ada kejadian kecelakaan pesawat. Setelah membaca begitu banyak referensi dan mendalami, biasanya aku berkesimpulan bahwa kejadian itu pasti karena kesalahan mesin. Tapi kini aku mengubah pola, ?Kejadian itu mungkin karena kesalahan mesin??

Atau ketika misalnya ada kawan yang divonis kanker oleh dokter. Biasanya aku berkomentar, ?Nggak heran lah! Dia kan merokok! Itu pasti penyebabnya!? Tapi kini perlahan aku mengubah menjadi, ?Mungkin karena kebiasannya merokok maka ia terkena kanker.?

Apa pentingnya kata ?mungkin??

Untuk menyadari bahwa pengetahuan kita itu terbatas. Sepasti-pastinya kepastian kita bukanlah sesuatu hal yang harga mati! Masih ada begitu banyak hal di dunia ini yang belum kita ketahui yang mungkin bisa dijadikan alasan kenapa sesuatu hal bisa terjadi. Apalagi pengetahuan Tuhan, sampai diberi usia lipat sejuta pun tak kan pernah mampu kita untuk menakarNya!

Tapi kalau semua kata ?pasti? diganti ?mungkin? dalam beberapa hal bisa jadi perkara lho, Don! Misalnya ketika kita janjian bertemu dengan orang, kalau kita jawab, ?Kemungkinan aku akan datang?? bukankah itu menjamin ketidakpastian?

Hmmm pendapatku agak sedikit berbeda tentang hal ini. Tentang hal-hal baik di masa depan, utamanya tentang bertemu dengan orang, aku memilih tidak menggunakan kata ?mungkin?, tidak pula kata ?pasti?. Aku memilih, ?Aku akan datang!??

Kenapa?
Hal itu lebih dari sekadar ucapan dan janji, itu adalah doa! Doa supaya permohonanku untuk datang diamini Tuhan.

Kenapa doa? Secara manusiawi aku bisa memastikan akan datang tapi kuasa sepenuhnya di tangan Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Hanya dua hal yang bisa kita pastikan dari apa yang akan datang yaitu kematian dan kedatangan Tuhan, lain tidak!

Sydney, 9 Januari 2019

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. HARUSLAH INGAT BAHWA KITA INI MEWARISI TUBUH MAUT. HANYA YESUSLAH YANG DAPAT MELEPASKAN KITA DARI TUBUH MAUT INI. ITULAH SEBABNYA KITA HIDUP HARUS PUNYA TUJUAN YAITU HIDUP UNTUK KEMULIAAN NAMA TUHAN KITA YESUS KRISTUS SEHINGGA PADA SAATNYA NANTI KITA PUN SAMA SEPERTI DIA MEMILIKI KEHIDUPAN KEKAL DAN BERSAMA DIA SAMPAI SELAMANYA DI KERAJAAN SORGA.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.